PERAN PESANTREN DALAM WACANA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MADANI

  • Wahyuddin Halim Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstract

Abstrak


 


Di Indonesia, wacana tentang civil society atau masyarakat sipil bermula pada sekitar akhir dekade 1990-an. Hal itu merupakan respons terhadap wacana yang sama yang juga sedang hangat diperbincangkan secara global sejak sekitar pertengahan dekade yang sama. Namun demikian, di Indonesia pada awalnya wacana bahkan perdebatan tentang civil society terbatas pada kalangan intelektual, akademisi kampus dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Dalam berbagai diskursus akademik dan non-akademik tentang civil society, isu pertama berkaitan dengan padanan atau terjemahan mana yang tepat bagi konsep itu untuk konteks Indonesia. Ada pihak yang memilih mempertahankan istilah bahasa Inggris civil society, ada juga yang menawarkan terjemahan ‘masyarakat sipil’, ‘masyarakat kewargaan’, ‘masyarakat warga’, dan ‘masyarakat madani’. Medan diskursif kedua berkaitan dengan pemahaman dan pemaknaan terhadap konsep civil society dan kompatibilitas penerapannya dalam konteks masyarakat Indonesia. Artikel ini menyoroti secara khusus perbedaan pandangan antara kalangan ‘tradisionalis’ dan ‘modernis’ Muslim di Indonesia dalam memahami dan memaknai konsep civil socity. Secara khusus, artikel ini berupaya mengeksplorasi eksistensi pesantren sebagai institusi pendidikan Islam tertua dan terbesar di Indonesia dalam memerankan diri sebagai salah satu elemen civil society yang, pada gilirannya, dapat berkontribusi signifikan dalam upaya transformasi dan pemberdayaan masyarakat sipil sebagai bagian dari proses konsolidasi demokrasi di Indonesia yang masih terus berlangsung.


 


 


Kata Kunci: civil society, masyarakat madani, pesantren, pemberdayaan, Muslim tradisionalis, Muslim modernis.


 


Abstract


 


In Indonesia, the discourse on civil society began in around the end of the1990s. It is a response to the same discourse that was also being warmly discussed globally since around the middle of the same decade. However, in Indonesia at first discourse even the debate about civil society is limited to intellectuals, campus academics, and activists of non-governmental organizations. In academic and non-academic discourses on civil society, the first issue relates to which equivalent or translation is most appropriate for that concept for the Indonesian context. Some people choose to retain the English term civil society, some others offer Indonesia translations such as ‘masyarakat sipil’, ‘masyarakat kewargaan’, ‘masyarakat warga’, dan ‘masyarakat madani’. The second discursive field is concerned with the understanding of and giving meaning to the conept of civil society and the compatibility of its application in the context of Indonesian society. This article highlights the different views between Muslim 'traditionalists' and 'modernists' in Indonesia in understanding and giving new meanings to the concept of civil socity. In particular, this article seeks to explore the existence of pesantren as the oldest and largest Islamic educational institution in Indonesia in acting as one of the elements of civil society that, in turn, can contribute significantly to the transformation and empowerment of civil society as part of the ongoing process of democratic consolidation in Indonesia.


 


Keywords: civil society, masyarakat madani, pesantren, empowerment, traditionalist Muslim, modernist Muslim  

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abd. Kadir M. “Transformasi Kelekturan pada Pesantren As’adiyah Sengkang”, dalam Abd. Azis Al-Bone, ed. Transformasi Kelekturan Pesantren di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Balai Penelitian Kelekturan Keagamaan, 1994.
Abu Hamid. “Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan.” Dalam Agama dan Perubahan Sosial. Dalam T. Abdullah dan Mattulada, eds. Jakarta: Rajawali Press, 1983.
Ahmad, A. Kadir. Ulama Bugis. Makassar: Indobis Publishing, 2008.
Al-Bone, Abd. Azis. "Peranan Kyai di Sulawesi Selatan (Studi Kasus KHM As'ad di Sengkang Wajo)." Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengkajian, Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (UnitE-P3M) Pesantren Ciganjur, 1987.
Arief, Syamsuddin. “Jaringan Pesantren Sulawesi Selatan”. Disertasi Doktor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2007.
Azra, Azyumardi, Dina Afrianty dan Robert W. Hefner. “Pesantren and Madrasa: Muslim Schools and National Ideals in Indonesia”. Dalam Robert W. Hefner dan Muhammad Q. Zaman, eds. Schooling Islam: the Culture and Politics of Modern Muslim Education. Princeton NJ: Princeton University Press, 2007.
Azra, Azyumardi. Islam Nusantara, Jaringan Global dan Lokal. Bandung: Mizan, 2002.
Azra, Azyumardi. Menuju Masyarakat Madani: Gagasan, Fakta, dan Tantangan. Jakarta: Remaja Rosdakarya, 1999.
Bakti, Andi Faisal. Communication and Family Planning in Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perceptions of a Global Development Program. Leiden: INIS, 2004.
Bosra, Mustari. Tuang Guru, Anrong Guru dan Daeng Guru: Gerakan Islam di Sulawesi Selatan 1914-1942. Makassar: Lagaligo Press, 2008.
Bruinessen, Martin van. "Muhammad As'ad Bugis (Wajo, South Sulawesi, Indonesia, 1907-1953)." Dalam Dictionnaire Biographique des Savants et Grande Figures du Monde Musulman Périphérique, du XIXe siécle à nos jours, Fasc. no 2. Paris: CNRS-EHESS, 1998.
Bruinessen, Martin van. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Edisi Revisi; Yogyakarta: Gading Publishing, 2012.
Budiwiranto, Bambang. “Pesantren and Participatory Development in Indonesia”. Tesis MA, Australian National University, Canberra, 2007.
Dhofier, Zamakhsyari. The Pesantren Tradition: the Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java. Tempe AZ: Program for Southeast Asian Studies, Arizona State University, 1999.
Dolong, M. Jufri. “Peranan Ulama dalam Masyarakat di Kabupaten Wajo”. Skripsi Sarjana, Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1982.
Falaakh, Muhammad Fajrul. “Nahdlatul Ulama and Civil Society in Indonesia”. Dalam Mitsuo Nakamura, Omar Farouk Bajunid, dan Sharon Shiddique, eds. Islam and Civil Society in Southeast Asia. Singapore: ISEAS, 2001.
Feillard, Andre. Gus Dur, NU, dan Masyarakat Sipil. Yogyakarta: LKiS and Pustaka Pelajar, 1994.
Geertz, Clifford. "The Javanese Kijaji: The Changing Role of a Cultural Broker". Comparative Studies in Society and History, 2 (2), 1960: 228-249.
Halim, Wahyuddin. “Arung, Topanrita dan Anregurutta dalam Masyarakat Bugis Abad XX”. Jurnal Al-Ulum 12 (2), 2012: 317-334.
Halim, Wahyuddin. Agama dan Issu Gender dalam Pembangunan: Perspektif Muslim Sulawesi Selatan. Makassar: Alauddin Press, 2012.
Halim, Wahyuddin. “As’adiyah Traditions: the Construction and Reproduction of Religious Authority in Contemporary South Sulawesi”. Disertasi Doktor, the Australian National University, Canberra, 2015.
Halim, Wahyuddin. “Eksplorasi atas Praktik dan Nilai-nilai Demokrasi dalam Kerajaan Wajo' Abad ke-15/16 dan Kompatibilitasnya dengan Sistem Demokrasi Modern”. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 18 (2), 2016: 187-202.
Hamid, Abu. “Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan”. Dalam Taufik Abdullah dan Mattulada, eds. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Press, 1983.
Hikam, Muhammad AS. Islam, Demokratisasi, dan Pemberdayaan Civil Society. Jakarta: Erlangga, 2000.
Horikoshi, Hiroko. Kiai dan Perubahan Sosial. Terj. Umar Basalim dan Andy Muarly Sunrawa. Jakarta: P3M, 1987.
Lukens-Bull, Ronald. A Peaceful Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java. New York: Palgrave Macmillan, 2005
Madjid, Nurcholish. Cita-Cita Politik Islam era Reformasi. Jakarta: Paramadina, 1999.
Mas’udi, Masdar F. Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan. Bandung: Mizan, 1997.
Mattulada. "Islam di Sulawesi Selatan," dalam Taufik Abdullah, ed. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Press, 1983.
Moesa, Ali Mashcan. Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press & LKiS Yogyakarta, 2007.
Nawir. "Sejarah Pesantren As'adiyah di Sengkang Kabupaten Wajo" Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan. Departemen Pendidikan da Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Ujung Pandang, 1999/2000.
Permani, Risti. “The Presence of Religious Organisations, Religious Attendance and Earnings: Evidence from Indonesia”. Journal of Socio-Economics 40 (3), 2011: 247–58.
Pohl, Florian. “Religious Education and Secularization: Indonesia’s Pesantren Tradition and Civil Society. Disertasi Doktor, Temple University, Philadelphia, 2007.
Prasetyo, Hendro dan Ali Munhanif, dkk. Islam dan Civil Society: Pandangan Muslim Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan PPIM-IAIN Jakarta, 2002.
Purwaningsih, Sri. Kiai dan Keadilan Gender. Semarang: Walisongo Press, 2007.
Rahardjo, M. Dawam, ed. Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), 1988.
Rama, Bahaking. Jejak Pembaharuan Pendidikan Pesantren: Kajian Pesantren As'adiyah Sengkang Sulawesi Selatan. Jakarta: Parodatama Wiragemilang, 2003.
Saleh, Sahabuddin, dkk. Selintas Sejarah Muhammadiyah Kabupaten Wajo. Sengkang: t.p., 1991.
Steenbrink, Karel A. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen. Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), 1986.
Suaedy, Ahmad dan Hermawan Sulistyo. Kiyai dan Demokrasi: Sebuah Potret Pandangan tentang Pluralisme, Toleransi, Persamaan, Negara, Pemilu, dan Partai Politik. Jakarta: P3M Jakarta and Asia Foundation, 2000.
Suprayogo, Imam. Kiyai dan Politik: Membaca Citra Politik Kiyai. Malang: UIN Malang Press, 2007.
Turmudi, Endang. Struggling for the Umma: Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java. Canberra: ANU E-Press, 2006.
Wahid, Marzuki dkk. Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1999.
Walinga, Muh. Hatta. “Kiyai Haji Muhammad As’ad hidup dan perjuangannya”. Skripsi sarjana Fak. Adab IAIN Alauddin, Makassar, 1981.
Walzer, Michael. "The Idea of Civil Society." Dissent (Spring), 1991: 293-304.
Zaini, Achmad. Kyai Haji Abdul Wahid Hasyim: His Contribution to Muslim Educational Reform and Indonesian Nationalism during the Twentieth Century. Yogyakarta: Indonesian Academic Society XXI, 1998.
Published
2017-12-19
How to Cite
HALIM, Wahyuddin. PERAN PESANTREN DALAM WACANA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MADANI. AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam, [S.l.], v. 22, n. 2, p. 191-218, dec. 2017. ISSN 2356-2420. Available at: <https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/akademika/article/view/976>. Date accessed: 01 aug. 2021.