DUALISM AND INTEGRATION SYSTEM OF EDUCATION: PERSPEKTIF SEJARAH

  • Gunawan Ikhtiono Universitas Ibnu Kholdun Bogor

Abstract

Abstract


A mosque was the first place to conduct education, from which  science developed to experience its heyday in the 12th and 13th centuries AD. Methods of scientific discussions taking place within such as the As-Shofwah Brotherhood, Bait Al-Hikmah, Daarul Hikmah, were supported by the Caliphs or community leaders by giving maximum funding assistance. From the mosque, educational institutions developed into Madrasah Nidzamiyah to Al-Qarawiyyin University and Al-Azhar University. Nevertheless, such funding assistance is never free from political agenda aimed at developing and maintaining cetain  ideals or schools of thought. As for the learning process, the sulthans and muslim scholars do not distinguish between the sciences related to the world and that related to the hereafter (habluminallah wa habluminannas). Both are studied and explored without separating them. So, in the golden age of Islam, an expert in the field of medicine could also be an expert in in the field of Sufism. An expert in worship might also be an expert in astronomy, and  a mathematician could be a philosopher as well.


 


Keywords: Mosque, Management, Curriculum, and Integration of Science


 


 


 


Abstrak


Masjid adalah tempat pertama yang menyelenggarakan pendidikan. Dari Masjid itu Ilmu Pengetahuan berkembang hingga mengalami masa kejayaannya di abad 12 dan 13 M. Metode diskusi-diskusi ilmiah yang berlangsung di dalamnya, seperti Ikhwan As-Shofwah, Bait Al-Hikmah, Daarul Hikmah, didukung oleh para Khalifah ataupun tokoh masyarakat dengan memberikan bantuan pembiayaan yang sebesar-besarnya. Dari Masjid itulah lembaga pendidikan berkembang menjadi Madrasah Nidzamiyah hingga Universitas Al-Qarawiyyin dan Universitas Al-Azhar. Meskipun demikian, tidak terelakkan bahwa bantuan-bantuan tersebut ada muatan politik untuk mengembangkan serta mempertahankan faham/mazhab yang anutnya. Adapun dalam proses pembelajarannya, para Sulthan dan para Cendikiawan Muslim tidak membedakan antara Ilmu yang berhubungan dengan dunia dan akhirat (habluminallah wa habluminannas). Keduanya dipelajari dan didalami tanpa memisahkannya. Sehingga, di zaman keemasan Islam (the golden age), seseorang yang ahli dalam bidang Kedokteran tetapi juga seorang yang ahli Tasawuf. Seorang yang ahli ibadah, adalah juga seorang yang ahli Astronomi. Seorang ahli Matematika juga sebagai Filosof.


 


Kata Kunci: Masjid, Manajemen, Kurikulum, and Integrasi Keilmuan


 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ahmad Syalabi. Tariikhu At-Tarbiyah Al-Islamiyah, Terj. Muchtar Yahya Dan Sanusi Latief. Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Aisyah, Siti, Dan S Ei. “Membangun Kekuatan Ekonomi Masjid,” N.D., 12.
Amin Abdullah. “Paradigma Dan Implementasi Pendekatan Integrasi-Interkoneksi Dalam Kajian Pendidikan Islam,.” Yogyakarta, 2014.
Baba. “Integrasi Pendidikan Islam/Madrasah Dalam Sistem Pendidikan Nasional” Vol 5, No 2 (2011) (2018).
Badariah. “Integrasi Pendidikan Karakter Dan Peran Guru Di Sekolah” Vol 3 (2012) (2014).
Fazlur Rahman. Cita-Cita Islam, Editor Sofyanto Dan Imam Musbikin. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
———. Islam. Chicago & London: The University Of Chicago Press, 1982.
———. Islam And Modernity: Transformation Of An Intelectual Tradition. Chicago & London: The University Of Chicago Press, 1984.
———. “The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problem” Dalam Islamic Studies 6, 4, 1967.
Gunawan Ikhtiono. Konsep Pendidikan Nondikotomik Dalam Perspektif Fazlur Rahman,. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2014.
Harun Nasution. Islam Rasional, Gagasan Dan Pemikiran. Bandung: Mizan, 1995.
Hasbullah Ahmad. “Revitalisasi Masjid Produktif” Vol 13, No 2 (2014) (N.D.).
Imam Ahmad Ibnu Nizar. Orang-Orang Muslim Berjasa Besar Pada Dunia. Yogyakarta: Laksana, 2011.
Jannah, Fathul. “Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional” 13, No. 2 (2013): 13.
Jonathan Lyons. The Great Bait Al-Hikmah, Kontribusi Islam Dalam Peradaban Barat, Penerjemah Maufur. Bandung: Mizan, 2013.
Lihat Muhammad Wahyu Nafis(Ed). Kontekstualisasi Ajaran Islam, 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sadzali, M.A. Jakarta: Paramadina, 1995.
“Madrasah Kedokteran Sulaimaniyah;Pelopor Modernisasi Sekolah Kedokteran,” 13 Oktober 2014, Edisi Sabtu Edisi.
Malik Fadjar. Madrasah Dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan, 1999.
———. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta: Fajar Dunia, 1999.
Mastuhu. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 1999.
Mehdi Nakosteen. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat, Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Penterjemah Joko S Kahar Dan Supriyanto Abdullah. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Mohammad Arkoun. Rethinking Islam, Terjemah Yudian W Asmin Dan Lathifatul Khuluq. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Mohammad Sahlan. “Integrasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Pembelajaran” Vol 15, No 2 (Desember 2011).
Mukhid, Abd. “Meningkatkan Kualitas Pendidikan Melalui Sistem Pembelajaran Yang Tepat” 2 (2007): 14.
Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M Naquib Al-Attas,. Bandung: Mizan, 1998.
Zein, Masud. “Sistem Pendidikan Surau : Karakteristik, Isi, Dan Literatur Keagamaan” 8, No. 1 (2011): 15.
Published
2018-09-14
How to Cite
IKHTIONO, Gunawan. DUALISM AND INTEGRATION SYSTEM OF EDUCATION: PERSPEKTIF SEJARAH. Akademika : Jurnal Pemikiran Islam (online), [S.l.], v. 23, n. 1, p. 155-172, sep. 2018. ISSN 2356-2420. Available at: <https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/akademika/article/view/1214>. Date accessed: 18 oct. 2021.