Ambivalensi Hukum Perkawinan Orang Tua Dengan Anak Angkat Di Indonesia

  • Siti Julaeha UPN Veteran Jakarta

Abstract

The marriage of parents with adopted children is an act that is considered taboo by the majority of Indonesian people because, for the community, adopted children are on the same level as their biological children. This paper aims to discover the ambivalence of Indonesian customary law and positive law regarding marriage. The research method uses normative legal research with a comparative approach to law and legislation. The marriage of parents with adopted children creates legal conflicts in society. According to customary law, this conflict occurs because adopted children are considered their children, as Kluet, Bali, and Java indigenous peoples apply. According to the tradition of indigenous peoples, when someone is adopted as a child, he is considered a biological child. In addition, Law no. 35 of 2014 and PP No. 54 of 2007 implicitly in its articles indicate that this type of marriage is not allowed. Meanwhile, Law no. 1 of 1974 implies the permissibility of this type of marriage in the provisions of its articles. Based on this, it can be seen that there has been legal ambivalence regarding the implementation of the marriage of parents with adopted children in Indonesia. The author argues that it is crucial to synchronize customary and normative laws to eliminate legal ambivalence and create legal certainty for this type of marriage.

References

Aktor Pimadona and Mulati, “Keabsahan Perkawinan Sedarah Masyarakat Adat Batak Toba Menurut Hukum Adat,” Jurnal Hukum Adigama 2, no. 1 (2019): 1–26.
Alimudin, “Praktek Pengangkatan Anak (Studi Kasus Di Desa Tebedak Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir).”, Universitas Islam Negeri Raden Fatah, 2015. http://repository.radenfatah.ac.id/id/eprint/56330.
Angga Aidry Ghifari and I Gede Yusa, “Pengaturan Pengangkatan Anak (Adopsi) Berdasarkan Peraturan Perundangan- Undangan Di Indonesia,” Kerthanegara 8, no. 2 (2020): 1–16.
Ardiyati, Liliek, and Adiwibowo, “Tinjauan Yuridis Pengangkatan Anak Terhadap Bagian Waris Anak Angkat Menurut Ketentuan Hukum Positif Indonesia.” Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa, 2014, Rosdalina Bukido, Hukum Adat, Cet-1 (Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2017).
Atin Meriati Isnaini, “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Angkat,” Jurnal Ilmu Hukum Tambun Bungai 2, no. 1 (2017): 61–74.
Bakwasinesia, “FAKTA Anak Nikahi Ibu Angkat VIRAL Pemuda Dan Mbah Gambreng Terbaru,” Bakwasinesia, 2020.(diakses 09 Maret 2021).
Bakwasinesia. (diakses 09 Maret 2021).
Balaati, “Prosedur Dan Penetapan Anak Angkat Di Indonesia.” Lex Privatum 1, no. 1 (2013): 139.
Darda Pasmatuti, “Analisa Terhadap Putusan Mahkamah Kontitusi Nomor 46/Puu-Viii/2010 Mengenai Status Anak,” JCH (Jurnal Cendekia Hukum) 3, no. 1 (2017): 1–13.
Dessy Balaati, “Prosedur Dan Penetapan Anak Angkat Di Indonesia,” Lex Privatum 1, no. 1 (2013): 138–45.
Fadhilah, “Viral Nenek 65 Tahun Menikah Dengan Pemuda 24 Tahun, Dulu Anak Angkatnya,” Kompas.Tv, 2020, https://www.kompas.tv/article/86048/viral-nenek-65-tahun-menikah-dengan-pemuda-24-tahun-dulu-anak-angkatnya?page=all. (diakses 02 Maret 2021).
Gesang T R I Waluyan, “Menikah Dengan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Islam” (Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, 2017), http://repository.iainpurwokerto.ac.id/2340/.
Ghina Kartika Ardiyati, Istiqomah Hj. Liliek, and Yusuf . Adiwibowo, “Tinjauan Yuridis Pengangkatan Anak Terhadap Bagian Waris Anak Angkat Menurut Ketentuan Hukum Positif Indonesia,” Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa, 2014, 1–10, http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/57026.
Gusti Muzainah, “Baantar Jujuran Dalam Perkawinan Adat Masyarakat Banjar,” Jurnal Al-Insyiroh : Jurnal Studi Keislaman 5, no. 2 (2019): 10–33, https://doi.org/DOI: 10.35309/alinsyiroh.v5i2.3514.
Islam.nu.or.id, “Hukum Menikahi Anak Angkat,” 2019, https://islam.nu.or.id/post/read/101367/hukum-menikahi-anak-angkat. (diakses 01 Maret 2021).
Junaidi, “Motif Dan Akibat Hukum Pengangkatan Anak Dalam Perspektif Hukum Adat Dan Hukum Positif,” Humani (Hukum Dan Masyarakat Madani) 10, no. 2 (2020): 192–20.
Junaidi, “Motif Dan Akibat Hukum Pengangkatan Anak Dalam Perspektif Hukum Adat Dan Hukum Positif.”, Humani (Hukum Dan Masyarakat Madani) 10, no. 2 (2020): 196.
Komario Bahar, “Seleb-Seleb Yang Menikahi Ibu Angkat,” Detik.Com, 2018, https://hot.detik.com/celeb/d-4290340/seleb-seleb-yang-menikahi-ibu-angkat. (diakses 02 Maret 2021).
Lastuti Abubakar, “Revitalisasi Hukum Adat Sebagai Sumber Hukum Dalam Membangun Sistem Hukum Indonesia,” Jurnal Dinamika Hukum 13, no. 2 (2013): 319–31.
Loudia Mahartika, “Kisah Cinta 3 Selebritas Indonesia Yang Nikahi Ibu Angkatnya,” Liputan6.Com, 2020, https://hot.liputan6.com/read/4216362/kisah-cinta-3-selebritas-indonesia-yang-nikahi-ibu-angkatnya. (diakses 02 Maret 2021).
M. Misbahul Mujib, “Memahami Pluralisme Hukum Di Tengah Tradisi Unifikasi Hukum: Studi Atas Mekanisme Perceraian,” Supremasi Hukum 3, no. 1 (2014): 19–33.
Made Pasek Diantha, Metodologi Penelitian Hukum Normatif Dalam Justifikasi Teori Hukum, Cetakan Ke (Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2017), 12.
Mifa Al Fahmi et al., “Warisan Anak Angkat Menurut Hukum Adat Dan Kompilasi Hukum Islam,” USU Law Journal 5, no. 1 (2017): 77–94.
Miftahul Aini and Gemala Dewi, “Kedudukan Hukum Anak Angkat Atas Harta Peninggalan Orang Tua Angkat Menurut Hukum Islam Dan Hukum Perdata Di Indonesia (Studi Kasus Putusan Nomor 113/K/Pdt/2019 Dan Putusan Nomor 35/Pdt.G/2018/PTA.Plg),” Indonesian Notary 2, no. 3 (2020): 403–22.
Ms.encyclopedia-titanica.com, “Makna Ambivalensi (Apa Itu, Konsep Dan Definisi) - Ungkapan - 2021,” ms.encyclopedia-titanica.com, 2021, https://ms.encyclopedia-titanica.com/significado-de-ambivalencia. (diakses 03 Mei 2021).
Muhammad Rais, “Kedudukan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Islam, Hukum Adat Dan Hukum Perdata (Analisis Komparatif),” Jurnal Hukum Diktum 14, no. 2 (2016): 183–200.
Nada Farhana Bakri, Sukirno, and Sri Sudaryatmi, “Pelaksanaan Pengangkatan Anak Dan Dampaknya Dalam Harta Warisan Pada Masyarakat Adat Bali Perantauan Di DKI Jakarta,” Diponegoro Law Journal 6, no. 2 (2017): 1–13.
Nadya Rahmayanti, Agung Basuki Prasetyo, and Triyono, “Kedudukan Anak Angkat Perempuan Dalam Hukum Waris Adat Masyarakat Hukum Adat Suku Karo Desa Sugihen Kecamatan Juhar Kabupaten Karo,” Diponegoro Law Journal 6, no. 1 (2017): 1–11.
Ni Luh Putu Darmini Suarini and I Nyoman Lemes, “Kedudukan Anak Angkat Dalam Hal Waris Ditinjau Dari Hukum Adat Bali Di Desa Depeha Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng,” Kertha Widya Jurnal Hukum 7, no. 2 (2019): 92–106.
Nuraini and Heryanti, “Konsep Anak Angkat Dalam Praktek Masyarakat Kluet (Analisis Perspektif Al-Qur’an).”, Jurnal Al-Mu‘Ashirah 16, no. 1 (2019): 117.
Nuraini and Heryanti., “Konsep Anak Angkat Dalam Praktek Masyarakat Kluet (Analisis Perspektif Al-Qur’an).”Jurnal Al-Mu‘Ashirah 16, no. 1 (2019): 123.
Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 Tentang Pengangkatan Anak.
Rais, “Kedudukan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Islam, Hukum Adat Dan Hukum Perdata (Analisis Komparatif).”, Jurnal Hukum Diktum 14, no. 2 (2016): 198.
Rais, “Kedudukan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Islam, Hukum Adat Dan Hukum Perdata (Analisis Komparatif).”, Jurnal Hukum Diktum 14, no. 2 (2016): 198.
Sakirman, “Integrasi Hukum Islam Dan Adat Jawa Atas Harta Waris Bagi Anak Angkat,” Ahkam: Jurnal Hukum Islam 6, no. 2 (2018): 337–62.
Sakirman, “Integrasi Hukum Islam Dan Adat Jawa Atas Harta Waris Bagi Anak Angkat.”, Jurnal Hukum Islam 6, no. 2 (2018): 358.
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cet. 31 (Jakarta: PT Intermasa, 2003), 23.
Tribunnews.com, “Artis Menikah Dengan Ibu Angkat Sendiri, Ada Terbelit Kasus Selingkuh Hingga Istrinya Dipenjara,” Tribunnews.Com, 2019 (diakses 02 Maret 2021).
Tribunnews.com. (diakses 09 Maret 2021).
Waluyan, “Menikah Dengan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Islam.”, 1.
Zamzami, “Kedudukan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Perdata, Hukum Adat, Dan Hukum Islam,” Nurani: Jurnal Kajian Syari’ah Dan Masyarakat 17, no. 1 (2017): 27–40.
Zamzami, “Kedudukan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Perdata, Hukum Adat, Dan Hukum Islam.” Nurani: Jurnal Kajian Syari’ah Dan Masyarakat 17, no. 1 (2017): 39.
Zamzami, “Kedudukan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Perdata, Hukum Adat, Dan Hukum Islam.”, Nurani: Jurnal Kajian Syari’ah Dan Masyarakat 17, no. 1 (2017): 39.
Zamzami. “Kedudukan Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Perdata, Hukum Adat, Dan Hukum Islam.” Nurani: Jurnal Kajian Syari’ah Dan Masyarakat 17, no. 1 (2017): 39.
Published
2022-04-30
How to Cite
JULAEHA, Siti. Ambivalensi Hukum Perkawinan Orang Tua Dengan Anak Angkat Di Indonesia. Istinbath : Jurnal Hukum, [S.l.], v. 19, n. 01, p. 1-21, apr. 2022. ISSN 1829-8117. Available at: <https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/istinbath/article/view/4044>. Date accessed: 16 aug. 2022. doi: https://doi.org/10.32332/istinbath.v19i01.4044.

Most read articles by the same author(s)

Obs.: This plugin requires at least one statistics/report plugin to be enabled. If your statistics plugins provide more than one metric then please also select a main metric on the admin's site settings page and/or on the journal manager's settings pages.