A Female Leaders in the Perspective of Islamic Law and Legal Regulations

Authors

  • Edy Sutrisno Universitas Islam Malang, Indonesia
  • Ahmad Fanani Universitas Islam Malang, Indonesia
  • Marsidi Marsidi Universitas Islam Malang, Indonesia
  • Adamu Abubakar Muhammad Federal University of Kashere, Nigeria

DOI:

https://doi.org/10.32332/milrev.v2i1.6879

Keywords:

Penghulu, Women, Islamic, Law

Abstract

The leader is a profession with the functions and duties of representing the government in recording and supervising marriages. Then how women become penghulu seen from Islamic law and legislation. This writing uses library research method with a qualitative descriptive approach. The results of this discussion state; First, from a juridical-normative perspective, if women are appointed as penghulu, their position will be questioned if they carry out their duties as guardian judges, which in fiqh must be a man. Second, it is considered that there are still problems in entering the public sphere for women, such as supervising and recording marriages in the mosque while she is in an impure condition, and attending marriage contracts which are carried out outside the office and outside working hours. Then in PMA Number 20 of 2019 concerning Marriage Registration, it has been explained that the leader can be held by both men and women. Likewise, in the Minister of Administrative Affairs Regulation Number 9 of 2019 concerning the Functional Position of Penghulu, it also does not require that the Penghulu must be held by a male Penghulu.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Kompilasi Hukum Islam, Tentang Pencatatan Perkawinan
Peraturan Menteri Agama RI Nomor 20 Tahun 2019 Tentang Pencatatan Pernikahan.
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 9 Tahun 2019 Tentang Jabatan Fungsional Penghulu
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/62/M.PAN/6/2005 Tentang Jabatan Fungsional Penghulu dan Angka Kreditnya.
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1999 Tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil.
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 Tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 Tentang Penetapan Berlakunya Undang-Undang RI tanggal 21 November 1946 Nomor 22 Tahun 1946 Tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk.
Abd al-Rahman al-Jaziri, 1969. Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Mesir: Al-Maktabat al-Tijariyah al-Kubra, juz IV.
Abdul Karim al-Mathari al-Dimyathi, t.th. Syarh al-Sittin, Singapura: al-Haramain
Abdul Wahhab al-Sya’rani, Al-Mizan al-Kubra, Mesir: Mushtafa al-Halabi, t,th, juz II.
Ahmad Rofiq, 2003. Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Bakri A. Rahman dan Ahmad Sukardja, 1981. Hukum Perkawinan Menurut Islam Undang-Undang Perkawinan dan Hukum Perdata/BW (Jakarta: PT. Hidakarya Agung.
Departemen Agama Republik Indonesia, 2008. Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penghulu dan Angka Kreditnya, Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
Happy Susanto, 2007. Nikah Sirri Apa Untungnya, Jakarta: Visimedia.
Ibn Hajar al-Haitami, 1493 H. Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, Jilid I, Beirut: Dar al-Fikr.
Ibn Rusyd, 2006. Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, juz II, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.
Ibnu Qoyim Isma’il, 1997. Kiai Penghulu Jawa: Peranannya di Masa Kolonial, Jakarta: Gema Insani Press.
Kantor Wilayah Departemen Agama, 2006. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Urusan Agama, Banda Aceh: Bidang Urusan Agama Islam Kantor Wilayah Departemen Agama.
Kementerian Pendidikan Nasional, 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III, Jakarta: Balai Pustaka.
Khoiruddin Nasution, 2009. Hukum Perdata (Keluarga) Islam Indonesia dan Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim: Studi Sejarah, Metode Pembaruan, dan Materi & Status Perempuan dalam Hukum Perkawinan/Keluarga Islam, Yogyakarta: Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
M Ali Hasan, 2006. Pedoman Hidup Berumah Tangga Dalam Islam, Jakarta: Siraja.
Muhammad al-Khatib al-Syirbini, 1329 H Mughni al-Muhtaj, Jilid IV, Mesir: Dar al-Kutub al-Arabiyyah,
Muhammad Masrur Rum, 2018. Pandangan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Tentang Penghulu Wanita, Yogyakarta: Faklutas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Muhammad Syatha al-Dimyathi, t.th. I’anat al-Thalibih ‘ala Syarh Fath al-Mu’in, jilid II, Mesir: al-Tijariyah al-Kubra.
Neng Djubaidah, 2010. Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan Tidak Dicatat, Jakarta: Sinar Grafika.
Saidah Nafisah, 2016. Eksistensi Penghulu Wanita di Indonesia Dalam Perspektif Hukum Islam, Yogyakarta: Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Waisul Qurni, 2014. Sanksi Bagi Penghulu Ilegal Dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1946 Jo. Undang-Undang No. 32 Tahun 1954, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Yufi Wiyos Rini Masykuroh, BP4 Kepenghuluan, Bandar Lampung: Fakultas Syari’ah.
M. Irfan Fauzi, Pandangan Penghulu Kantor Urusan Agama Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang Terhadap Pembantu Pegawai Pencatat Nikah Pasca Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2019, Sakina: Journal of Family Sudies, 2020, Vol. 4, No. 3, http://urj.uin- malang.ac.id.
Tedjo Asmo Sugeng dan Dicky Edwin Kusuma, Tinjauan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Terhadap Perkawinan Poligami, Jurnal Ilmiah Fenomena, Mei 2016, Vol. XIV, No. 1.

Asep Sihabul Millah, 2020. Peran Penghulu dalam Implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, http://www.scribd.com, diakses 16 Oktober 2020.

Downloads

Published

2023-06-30

How to Cite

A Female Leaders in the Perspective of Islamic Law and Legal Regulations. (2023). MILRev : Metro Islamic Law Review, 2(1), 27-51. https://doi.org/10.32332/milrev.v2i1.6879