Power Relations, Institutional Dysfunction, and the Silencing of Child Sexual Violence Survivors: A Study of Aurelie Moeremans' Broken Strings

Authors

  • Valentina Annemarie Febrianti Universitas Kristen Satya Wacana, Indonesia
  • Jonathan Rafael Dave Manoppo Universitas Kristen Satya Wacana, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.32332/10.32332/jsga.v8i01.13226

Keywords:

Child Abuse, Child Grooming, Memoir, Structural Functionalism, Survivor Advocacy

Abstract

Aurelie Moeremans’ memoir Broken Strings (2025) reveals emotional manipulation, sexual abuse, and psychological violence experienced by a 15-year-old girl, while also exposing the politics of non-alignment practiced by institutions surrounding the survivor. This study aimed to analyze how power relations and institutional dysfunction isolate survivors from the perspective of structural functionalism. This research employs a qualitative descriptive method using narrative analysis of memoirs as primary data, supported by secondary sources, such as news reports, institutional documents, and social media discourse. The findings show that the memoir exposes failures within institutional functions, including weak protection systems, victim blaming, and delayed public responses, which reinforce the silencing of survivors. Simultaneously, Broken Strings function as a form of survivor advocacy that pressures institutions to shift from silence to public accountability. This study contributes to gender and child studies in Indonesia by demonstrating how survivor narratives can challenge structural failures and encourage broader social awareness of child abuse and grooming.

[Memoar Broken Strings (2025) karya Aurelie Moeremans mengungkap manipulasi emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan psikologis yang dialami seorang remaja perempuan berusia 15 tahun, sekaligus memperlihatkan politik ketidakberpihakan yang dilakukan institusi di sekitar korban. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana relasi kuasa dan disfungsi institusional mengisolasi penyintas melalui perspektif struktural fungsionalisme. Penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan analisis naratif terhadap memoir sebagai data utama, didukung berita, dokumen institusi, dan diskursus media sosial sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memoar tersebut mengungkap kegagalan fungsi institusi, seperti lemahnya sistem perlindungan, praktik menyalahkan korban, dan lambatnya respons publik yang memperkuat pembungkaman korban. Di sisi lain, Broken Strings berfungsi sebagai bentuk advokasi penyintas yang mendorong institusi bergeser dari sikap diam menuju akuntabilitas publik. Penelitian ini berkontribusi pada kajian gender dan anak di Indonesia dengan menunjukkan bahwa narasi penyintas dapat menjadi sarana untuk menantang kegagalan struktural dan meningkatkan kesadaran sosial mengenai kekerasan terhadap anak serta child grooming].

References

Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. CV Jejak.

ANTARA. (2026). Komnas: “Delayed in justice” banyak terjadi saat istri lapor kekerasan. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/5457931/komnas-delayed-in-justice-banyak-terjadi-saat-istri-lapor-kekerasan

Aryana, I. W. P. S. (2022). Tinjauan relasi kuasa pada kekerasan seksual dalam hubungan personal. Yustitia, 16(1), 37–44.

Clark, A. A. A., Harsey, S., & Freyd, J. J. (2024). Factors of institutional betrayal associated with PTSD symptoms and barriers to service use among campus sexual assault survivors. Psychological Injury and Law, 17, 383–397. https://doi.org/10.1007/s12207-024-09524-5

Damarjati, D. (2026). Komnas Perempuan: Kekerasan seksual mendominasi di 2025, Jabar tertinggi. Kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2026/03/06/16374011/komnas-perempuan-kekerasan-seksual-mendominasi-di-2025-jabar-tertinggi

Delker, B. C., Salton, R., McLean, K. C., & Syed, M. (2020). Who has to tell their trauma story and how hard will it be? Influence of cultural stigma and narrative redemption on the storying of sexual violence. PLOS ONE, 15(6), 1–21. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0234201

Dufour, G. K. (2024). The insidiousness of institutional betrayal: An ecological systematic review of campus sexual violence response literature. Trauma, Violence, & Abuse, 25(5), 3903–3922. https://doi.org/10.1177/15248380241265382

Fajri, A. R., Nurhidayah, A., & Rahman, M. (2023). Pandangan agama terhadap kekerasan seksual yang dilakukan oleh pemuka agama. Nusantara: Jurnal Pendidikan, Seni, Sains, dan Sosial Humaniora, 1(1). https://journal.forikami.com/index.php/nusantara/article/view/183

Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings, 1972–1977 (C. Gordon, Ed.). Pantheon Books.

Gillard, A., St-Pierre, E., Radziszewski, S., & Parent, S. (2022). Putting the puzzle back together—A narrative case study of an athlete who survived child sexual abuse in sport. Frontiers in Psychology, 13, 1–12. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.856957

Halik, S. A., & Firkawati. (2026). Analisis relasi kuasa abusif terhadap profesionalisme: Tinjauan manajemen SDM atas buku Broken Strings. Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS), 3(1), 3030–3037. https://doi.org/10.31004/riggs.v5i1.6152

Harefa, K. G., & Dewanto, W. A. (2026). Child grooming as sexual violence in Indonesia. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(1), 5803–5809.

Iqbal, M., & Cyprien, G. (2021). The urgency of regulation in the case of online gender-based violence in Indonesia. Sawwa: Jurnal Studi Gender, 16(2), 173–190. https://doi.org/10.21580/sa.v16i2.8132

Jacobus, E. D., Pali, C., & Opod, H. (2025). Pandangan mahasiswa pada salah satu institusi di Sulawesi Utara terhadap victim blaming dalam kasus kekerasan seksual. Jurnal Psikologi, 2(2), 1–8. https://doi.org/10.47134/pjp.v2i2.3603

Lim, M. (2013). Many clicks but little sticks: Social media activism in Indonesia. Journal of Contemporary Asia, 43(4), 636–657. https://doi.org/10.1080/00472336.2013.769386

Lumbantobing, S. (2018). Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban tindak pidana pencabulan menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak [Undergraduate thesis, Universitas Medan Area]. Repository Universitas Medan Area. https://repositori.uma.ac.id/bitstream/123456789/9557/1/Sudarto%20Lumbantobing%20-%20Fulltext.pdf

Merton, R. K. (1968). Social theory and social structure. The Free Press.

Moeremans, A. (2025). Broken strings: Kepingan masa muda yang patah. https://drive.google.com/file/d/1mnM75U0nIVqZsOCJHA7mehZFg8pQxnXo/view

Nur Awalya, A., Rahman, A., & Putri, S. (2025). Gender role and online news framing in sexual assault victim blaming: An experimental study. INSIGHT: Indonesian Journal Social Studies and Humanities, 5(2). https://doi.org/10.26858/.v5i2.81284

Nurlaila, S., Ramadhani, F., & Putra, M. (2025). Perspektif viktimologi terhadap fenomena victim blaming pada anak dalam konflik keluarga. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 4(2), 528–538. https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i2.4984

Parsons, T. (1991). The social system. Routledge.

Pratama, I., Saputra, D., & Wijaya, R. (2025). The urgency of regulatory accountability for protecting victims of sexual violence in cyberspace. JIHK, 7(1), 151–167. https://doi.org/10.46924/jihk.v7i1.285

Purwanti, A., & Hardiyanti, M. (2018). Strategi penyelesaian tindak kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak melalui RUU kekerasan seksual. Masalah-Masalah Hukum, 47(2), 138–148. https://doi.org/10.14710/mmh.47.2.2018.138-148

Ramadhanty, N. (2026). Singgung kasus Aurelie, Rieke Diah kritik Komnas Perempuan. Tirto.id. https://tirto.id/singgung-kasus-aurelie-rieke-diah-kritik-komnas-perempuan-hplE

Rani, F. H., Pettanasse, I., Ikhsan, R. M., & Samsul. (2024). Faktor penyebab reviktimisasi di Indonesia: Analisis terhadap wanita korban kejahatan yang mengalami kekerasan berulang. Jurnal Hukum Legalita, 6(2), 113–122. https://doi.org/10.47637/legalita.v6i2.1462

Simeon, N. P. B. (2022). Understanding the experiences of survivors of sexual violence who experience silence. Jurnal Ekonomi, 11(3), 1627–1639.

Sulung, U., & Muspawi, M. (2024). Memahami sumber data penelitian: Primer, sekunder, dan tersier. Edu Research, 5(3), 110–116. https://iicls.org/index.php/jer/article/view/238/195

Syahbur, D. F., Martha, A. E., & Rizqia, G. P. (2024). Prevention of secondary victimization for victims of sexual violence in court proceeding. Contemporary Issues in Criminal Law, 1(1), 19–36.

Tirto ID. (2026). Kekerasan seksual masih mendominasi CATAHU Komnas Perempuan 2025. Tirto.id. https://tirto.id/kekerasan-seksual-masih-mendominasi-catahu-komnas-perempuan-2025-hsbB

Turama, A. R. (2020). Formulasi teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons. EUFONI: Journal of Language, Literary, and Cultural Studies, 2(1), 58–69.

Ubino, S. N., & Astuti, K. (2025). The impact of victim blaming on social media and handling efforts for victims of sexual violence. Research Horizon, 5(4), 1023–1034. https://doi.org/10.54518/rh.5.4.2025.758

Universitas Negeri Surabaya. (2026, January 14). Broken Strings, memoar Aurelie Moeremans: Kisah grooming yang viral dan kontroversinya. Unesa. https://s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id/post/broken-strings-memoar-aurelie-moeremans-kisah-grooming-yang-viral-dan-kontroversinya

Wijayanti, N. S. T. P. L., & Suarya, L. M. K. S. (2023). Fenomena victim blaming pada korban kekerasan seksual: Kajian literatur. Psychopolytan: Jurnal Psikologi, 7(1), 12–20. https://doi.org/10.36341/psi.v7i1.3072

Wyles, P., O’Leary, P., Tsantefski, M., & Young, A. (2025). Male survivors of institutional child sexual abuse: A review. Trauma, Violence, & Abuse, 26(1), 183–198. https://doi.org/10.1177/15248380241277272

Downloads

Published

2026-06-27