<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="http://e-journal.metrouniv.ac.id/lib/pkp/xml/oai2.xsl" ?>
<OAI-PMH xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/
		http://www.openarchives.org/OAI/2.0/OAI-PMH.xsd">
	<responseDate>2026-04-03T21:41:35Z</responseDate>
	<request from="2020-11-14" metadataPrefix="oai_dc" verb="ListRecords">https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/oai</request>
	<ListRecords>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/164</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:12Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ISLAM WETU TELU DI BAYAN LOMBOK: DIALEKTIKA ISLAM DAN BUDAYA LOKAL</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Zuhdi, Muhammad Harfin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">budaya lokal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Wetu Telu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Waktu Lima</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Boda</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">cultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religious</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Islam masuk ke pulau Lombok pada abad ke-16 sekitar tahun 1545. Islamdisebarluaskan melalui sebuah ekspedisi dari Jawa yang dibawa oleh Sunan Prapen putra dari Sunan Giri, beliau merupakan salah satu Wali Songo yang terkenal. Menurut beberapa ahli sejarah, sebelum Islam masuk kepulau ini, penduduk asli Sasak mempunyai agama tradisional yaitu Boda sebuah sebutan bagi penduduk asli Lombok. Islam -sejak awal kemunculanya dan akan berlanjut hingga akhir zaman, telah menghadapi beberapa perbedaan nilai yang contradiktive dengan tradisi lokal dan budaya. Hal tersebut menyebabkan sebuah proses dialektika dan menghasilkan warna lokal Islam yang disebut Islam Wetu Telu di Bayan, Lombok Barat. Tulisan ini membahas tentang dasar sejarah yang mempertunjukan identitas agama masyarakat Sasak. Sejarah singkat identitas agama masyarakat Sasak terhadap agama Wetu Telu merupakan kolaborasi dari sebuah tradisi, budaya, dan nilai agama dari para pendatang yang merupakan penduduk asli di masa lalu. Sudut pandang lain menyatakan bahwa agama Wetu Telu merupakan sebuah ketidak lengkapan proses Islamisasi terhadap agama Waktu Lima yang belakangan ini dipertimbangkan sebagai Islam yang suci dan benar oleh sebagian besar Muslim di Lombok.
Islam reached Lombok island in sixteenth century, approximately at 1545. It is well known spread was an expedition from Java led by Sunan Prapen son of Sunan Giri, one of the famous Wali Songo. Before Islam reached this island, according to some historian, the indigenous Sasak –appellation to indigenous of Lombok people— had their own traditional religion, Boda. Islam –since the very beginning of its history and will continuosly last to the end of time—has faced some different even contradictive values of local traditions and cultures. It leads to a kind of dialectical process, and in turn produces what is called local Islam such as Islam Wetu Telu in Bayan, West Lombok. This article is aimed at revealing historical root of religious identity of Sasak community. Historical sketch of its religious identity leads to Wetu Telu religion that was collaboration of tradition, cultural and relegious values of the comers and those of the indigenous people in the past. Another point of view said that Wetu Telu religion is an uncompleted process of islamization toward Waktu Lima religion that is considered by presently most Muslims in Lombok the true and pure Islam.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-10-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/164</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 197-218</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 197-218</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/164/460</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/165</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">INTERNASIONALISASI PENDIDIKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN ‘MODERNISASI’ PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Thoyib, Muhammad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Internationalizaion of education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Strategy,</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic Higher Education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Internasionalisasi Pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Strategi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">PTAI</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Abstrak
Internasionalisasi pendidikan tinggi ke depan bukanlah suatu ironi. Tetapi realitas kekinian yang sudah semakin mengarahkan probability itu menjadi suatu kenyataan yang tanpa batas. Eksistensi dan suksesi perguruan tinggi di era liberalisasi ke depan sangat ditentukan oleh kuatnya kesiapan akademis dan kematangan infrastrukturnya untuk menjadi lebih „modern‟. Indonesia yang didukung oleh PTAI yang begitu besar haruslah menyiapkan perangkat kompetitif pendidikan tinggi Islam sedini mungkin sehingga ke depan PTAI di Indonesia memiliki good governonce system pendidikan tinggi yang unggul sehingga mampu berkompetisi di level nasional, bahkan internasional tanpa kehilangan Islamic morality character sebagai dasar aplikasinya. Asumsi itu setidaknya harus didukung oleh strategi pengembangan&amp;nbsp; mutu&amp;nbsp; sistem pendidikan tinggi Islam yang lebih baik; Pertama, manajemen pendidikan tinggi di perguruan tinggi agama Islam harus mampu berorientasi pada&amp;nbsp; pengembangan mutu akademik berskala internasional sehingga academic and social needs untuk skala nasional dan regional sudah secara otomatis mampu dipenuhi. Kedua, aplikasi manajemen mutu harus didukung oleh good academic atmosphere sehingga upaya peningkatan mutu akademik dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Ketiga, humanistic sense of diversity harus menjadi primary supporting PTAI dalam rangka internasionalisasi pendidikan Islam yang lebih humanis dan international academic networking yang luas untuk mendukung SDM dalam negeri menjadi lebih unggul, inovatif dan produktif.
Kata kunci: Internasionalisasi Pendidikan, Strategi, dan PTAI
&amp;nbsp;
Abstract
The internationalization of higher education in the next time will not be an irony. But the reality of becoming chance had been directing it to the probability more faster to be reality without limits. The existence and success of higher education in the globalization era and liberalization of education in the future will be decided so much by the seatle of akademic and educational infrastructures preparation of the higher&amp;nbsp; education. Indonesia that supporting by many Islamic higher educations (PTAI) should prepare its sets of competitive Islamic higher education equipment as early as possible for facing the future that Islamic higher education in Indonesia will has good governonce system of higher education to compete at national, more farther at international competition level without lossing Islamic morality character as its basic aplication. Supporting by established academic more better, the prospect of Islamic higher education in Indonesia, on the context of internationalization of education era will be able to survive for the next future. The asumtion also has to be supported by more better strategies for developing quality system of Islamic higher education; first, management of higher education at Islamic higher education (PTAI) should be able to concentrate for international academic quality development, so then the academic and social needs for national and regional level automatically derived. Second, aplication of quality management should be supported by good academic atmosphere implemented on the&amp;nbsp; whole stakeholder’s commitment for achieving more better quality of Islamic higher education in the next future. Third, humanistic sense of diversity has to becoming primary supporting tool for Islamic higher education to face internationalization aplication more humanistic and large international academic networking for supporting Indonesia’s human resources becoming qualified, productive, inovative and competitive&amp;nbsp; in all competition scales.
Keywords: Internationalizaion of education, Strategy, and Islamic Higher Education
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/165</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 1-20</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 1-20</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/165/770</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/166</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PEMBUMIAN MISI PROFETIK DI TENGAH ARUS GLOBALISASI PERSPEKTIF ISLAM HUMANIS</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Yusdani, Yusdani</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Nilai-nilai prophetik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam humanis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Prophetic values</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">humanist Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sosial</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Penulis membahas globalisasi yang salah satu karakteristiknya adalah mempertemukan aspek-aspek social menjadi sebuah standar baru. Standar tersebut tidak lepas dari sisi negative yang berimbas pada perubahan social dan budaya. Tulisan ini berkaitan dengan isu humanitarian sebagai dampak negative globalisasi. Cendekiawan muslim perlu memberikan penerangan kepada sosial dengan mengerjakannya juga, hal ini membutuhkan kerangka skema perumusan dari Islam untuk mempertahankan nilai-nalai kemanusiaan.
The author of article below tries to discuss that globalization has the characteristics of uniting the social aspects into a new standard for various parts of the world as well as the negative impact toward social and cultural change, dealing with humanitarian issues as the negative impact of globalization, Muslim intellectuals need to provide enlightenment to the society By doing so, it needs to&amp;nbsp; be formulated paradigmatic framework of Islam to defend&amp;nbsp; human values. In this sense, Humanist Islam discourse in the context of scientific development and to formulate strategic steps toward concrete and took a position as a science and a discourse based on prophetic values. Thus, developing and Islamic teaching in Indonesia today is Islamic as a science. So, it needs paradigm shift from the theocentric-eschatological- to anthropocentric transformative.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/166</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 21-32</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 21-32</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/166/242</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/167</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">GLOBALISASI : LANGKAH MENUJU WESTERNISASI GLOBAL: Sebuah Kajian Politik Ekonomi Internasional</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Fathurrahman, Ayief</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Globalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ekonomi-politik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">westernisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">neokolonialisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Globalization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">political economy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">westernization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">neocolonialism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sosial</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep globalisasi dengan pendekatan ekonomi politik. Berdasarkan kajian ini, bahwa globalisasi sarat dengan muatan logika kepentingan political economy dalam rangka mengkokohkan jangkar kekuasaan the West Nation sebagai Negara adikuasa di muka bumi, tanpa memandang kepentingan Negara-negara kecil. Dengan pendekatan ekonomi politik, banyak para ahli mengemukan fakta bahwa globalisasi identik dengan westernisasi. Globalisasi saat ini diiringi dengan misi neokolonialisme, produk Amerika yang pada dasarnya ditujukan untuk promosi kepentingan&amp;nbsp; imperialistik masyarakat Barat dan berubah menjadi kekuatan hegemonic, sebagai jangkar kekuatan blok barat (AS) sebagai&amp;nbsp; satu-satunya negara&amp;nbsp; &amp;nbsp;adidaya dunia. Para pengamat juga menunjukkan bahwa ada empat aspek utama globalisasi: 1) ekonomi 2) sosial dan budaya 3) militer 4) lingkungan. karena sebagian besar, faktor-faktor tersebut terikat dan dikontrol bahkan dimanipulasi.
This article aims to examine the concept of globalization with political economy approach. Based on this study, that the logic of globalization fully loaded with cargo of political economy interests which built to anchor the power of the West Nation as a State superpower on earth, and ignori the interests of small countries. Through a political economy approach, many experts promoted the fact that&amp;nbsp; globalization is&amp;nbsp; synonymous with Westernization. Globalization is accompanied with the mission of neocolonialism, American products are basically intended for the promotion of the imperialistic interests of Western society and turned into a hegemonic power, as the western anchor strength (AS), as the only world superpower. Analysts also pointed out that there are four main aspects of globalization: 1) the economy 2) social and cultural 3) military 4) environment. for the most part, these factors are bound and controlled and even manipulated.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/167</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 33-48</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 33-48</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/167/243</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/168</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PERAN BAHASA DALAM HEGEMONI POLITIK, SOSIAL, DAN BUDAYA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Walfajri, Walfajri</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Bahasa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">hegemoni</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">media massa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Language</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Hegemony</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Mass Media</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sosial</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Bahasa adalah sebuah simbol universal yang digunakan oleh manusia untuk mengekspresikan dan mengemukakan benda-benda, fenomena, fakta, pemikiran dan perasaannya.Meskipun demikian, bahasa bukanlah sistem sisbol yang bebas nilai dan tidak ada hubunganya dengan dunia di luar bahasa itu sendiri, sebagaimana anggapan kaum strukturalis. Sebaliknya, bahasa adalah dunia yang penuh makna. Makna itu sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep, pemikiran, atau ide yang diberikan oleh penulis, pembaca atau pembicara dalam bentuk linguistik seperti kata, kalimat, atau wacana yang diciptakan oleh pengguna bahasa tersebut.Sehingga, makna kata tersebut sangat subjektif. Di samping itu, bahasa merupakan produk budaya dan kejadian social yang kompleks yang berkaitan dengan sejarah dan proses sosial dimana bahasa itu dibuat.Oleh karena itu, bahasa selalu hadir dalam seluruh dimensi kehidupan manusia: politik, social, dan budaya yang penuh dengan berbabagai ketertarikan dalam perjuangan hegemoni diantara penguasa dan menguasai. Lebih lanjut, dengan dukungan media masa, bahasa memainkan peran yang sangat penting sebagai instrumen yang efektif untuk membangun dan meemelihara hegemoni politik, social, dan budaya.
&amp;nbsp;
The language is a universal symbol used by a human to express and present objects, phenomena, facts, his thought and feeling. Nevertheless, the language is not just a free-value (objective) system of symbol which does not relate to another world out of the language itself, as the assumption of structuralists. On the contrary, the language is a meaningful world. The meaning itself can be defined as a concept, thought or idea given by a writer, a reader, or a speaker to the linguistic forms such as words, sentences, or discourses that are created according to the language user. So, the meaning of word is very subjective. Besides, the language is a product of culture and a complex social event that relates to the history and social process where the language is produced. So, the language always presents in all dimensions of human life: politic, social, and culture that are full of interests in a struggle of hegemony between the dominant and the dominated. Furthermore, with the support of mass media, the language plays a very vital role as an effective instrument to build and maintain the political, social, and cultural hegemony.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/168</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 49-66</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 49-66</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/168/244</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/169</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM MENJAGA KELESTARIAN HUTAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Prasetyo, Ahmad Baliyo Eko</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kearifan lokal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">perlindungan hutan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kerusakan hutan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Local wisdom</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">forest conservation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">forest destruction</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sosial Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Kerusakan lingkungan, terutama kerusakan hutan, yang telah berkembang pesat dan tidak terkontrol.Hilangnya ilmu kehutanan Indonesia disebabkan oleh beberapa masalah. Beberapa upaya telah dilakukan untuk menjaga hutan dari kerusakan yang terjadi sekarang ini karena hal itu dapat digunakan untuk kebutuhan sekarang dan sebagai warisan masa yang akan datang.Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan menerapkan kearifan&amp;nbsp; local yang telah dilakukan oleh beberapa kelompok tradisional di Indonesia dan menunjukan keberhasilan perlindungan dan pemeliharaan hutan.Kearifan local adalah ide-ide local yang berkarakteristik bijak, penuh dengan kearifan, dan nilai-nilai kebaikan, yang ditanamkan dan dianut oleh masyarakat. Kearifan local muncul dalam nilai, norma, keyakinan, adat, kepercayaan.
The destruction of an environment, in particular forest destructiom, has now occured rapidly and uncontrollable. Indonesian forestry lost caused by various problems. Various efforts have been done to protect forest from current destruction for it can be used for the present needs and heritage for the future. One of the efforts is by implementing local wisdom which have been done by several traditional communities in Indonesia and shown effective to conserve and preserve the forest. Local wisdom is local ideas that is characterized as wise, full of wisdom, and good values, that planted and followed by society. Local wisdom emerges into value, norm, faith, custom, belief, ect.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/169</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 67-80</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 67-80</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/169/245</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/170</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KEPEMIMPINAN VISIONER MENURUT ISLAM DAN INTERNALISASINYA DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Umam, Aguswan Khotibul</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kepemimpinan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">vionarer</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Lampung</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kebuudayaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">nilai</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Leadership</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">visionary</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sosial Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Tidak dapat dipisahkan antara kemakmuran suatu masyarakat dengan peran pemimpin yang ideal dan progresif.Lahirnya pemimpin Islam yang ideal dan progresif tidak jauh dari peran perkembangan pendidikan Islam yang maksimum dalam kehidupan masyarakat dan generasi Islam.Kepemimpinan yang progrsif merujuk pada nilai dasar organisasi yang dibuat dan di percaya oleh anggotanya.Hal tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suatu atmosfer kepemimpinan dan pembaharuan yang efektif menuju ke arah yang lebih baik. Seorang Muslim yang menjadi pemimpin yang visioner seharusnya melakukan hal-hal sebagai berikut: (a) menunjukkan peran kepemimpinan yang baik, (b) mengikuti nilai-nilai kepemimpian Nabi Muhammad SAW, (c) mengamalkan prinsip amar maa’ruf nahi mungkar, (d) mengamalkan kaidah hidup yang sebenarnya, ( e) menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, (f) menegakkan keadilan, (g) menunjukkan perilaku pemimpin yang ideal dan dapat menjadi teladan yang baik. Berdasarkan pada teori kepemimpinan tersebut, seorang pemimpin di Lampung semestinya ialah pemimpin yang visioner, transformatif, religious dan menjadi pelopor serta teladan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam berdasarkan kepemimpinan visioner dalam kehidupan kebudayaan masyarakat di Lampung. Seorang pemimpin Lampung yang visioner seharusnya mengimplementasikan tradisi dan nilai budaya Lampung seperti Piil Pesengiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyapur, dan Bejuluk Beadek.
Prosperity of a society and the role of ideal and progressive leader are inseparable. The born of ideal and progressive Islamic leaders be separated form the role of maximum Islamic education development within life of society and Islamic generation. Progressive leadership refers to value based organization that is created and believed by its members. It is aimed at creating an atmosphere of effective leadership and reform for the bettement. A moslem who becomes a visioner leader should do following: a) show a role of good leadership, b) follow the leadership values of prophet Muhammad SAW, c) enforce the principle of amar ma’ruf nahi mungkar, d) enforce the true rule of life, e) do his obligation as a leader, f) do justice, and g) show the behavior of ideal leader and become a good precedent. Based on the existence of the leader theory, a leader in Lampung sholud be a visionary leader, transformative, relegious and became a pionner and a model as a leader who integreates the values of Islam according to the visionary leadership in the cultural&amp;nbsp; life&amp;nbsp; of&amp;nbsp; societeies&amp;nbsp; in&amp;nbsp; Lampung.&amp;nbsp; A&amp;nbsp; visioner&amp;nbsp; leader&amp;nbsp; in&amp;nbsp; Lampung&amp;nbsp; should&amp;nbsp; implement of Lampung tradition and cultural value such as Piil Pesingiri, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah, Nengah Nyapur, dan Bejuluk Beadek.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/170</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 81-96</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 81-96</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/170/246</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local, Lampung</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/171</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">SPIRIT PENDIDIKAN DALAM AL-QURAN: Upaya Transformasinya dalam Kehidupan Umat di Era Global</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sudin, Mokhtaridi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Spirit</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Al-Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Qoran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Edication</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Globalization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">transformation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sosial Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Al-qur’an adalah firman Allah SWT yang digunakan sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an, aleh karenanya, bukanlah sebuah karya akademik maupun karya fiksi. Dari segi pandangan, Al-qur’an mengandung seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek sosial, politik, dan ekonomi. Fakta bahwa ada banyak ayat-ayat Al-qur’an berhubungan dengan isu-isu tersebut di atas, menunjukkan peran penting Al-qur’an dalam Islam. Karena Al-qur’an diyakini menjadi sebuah pedoman untuk manusia menuju jalan yang benar. Dengan adanya ayat-ayat tentang hukum, contohnya, manusia dipedomi untuk menjalankan dalil dan untuk menegakkan hokum dan keadilan untuk kepentingan mengembangkan peradaban berdasarkan norma-norma dan nilai Islam secara keseluruhan. Tulisan ini mencoba memamparkan dan menguji ayat-ayat Al-qur’an yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan mausia, khususnya dalam aspek- aspek pendidikan, di dalam konteks global.
The Qur’an is God sayings which serve as guide for all humankind. It is therefore neither an academic work, nor fiction. The Qur’an contains all aspects of human life, for example, social, cultural, political, and economic points of view. The fact that there are many Qur’anic verses dealing with such issues shows its significance in Islam because the Quran is believed to be a guide for human to go on right path. With the existence of verses on law, for example, human are guided to enforce law and just for the sake of developing civilization based on universal Islamic values and norms. This article tries to describe and examine Qur’anic verses dealing with the aspects of human life, especially in educational aspects, in global context.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/171</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 97-118</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 97-118</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/171/247</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/172</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:08Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">AGAMA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI: Sebuah Pendekatan Multikultural</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Hadi, Mukhtar</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">multikultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">spiritualitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Religion</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">multicultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">spirituality</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
ISecara metodologi tulisan ini berkaitan dengan penelitian kesusasteraan terutama yang berkaitan dengan aspek-aspek sosial agama dan korelasinya terhadap globalisasi. Bagian penting dari penelitian ini merupakan fenomena dimana globalisasi telah merubah dunia dan bagaimana agama merespons pengaruh globalisasi. Secara konsekutif tulisan ini memaparkan bagaimana globalisasi berpengaruh dan mempengaruhi perubahan-perubahan sosial agama. Agama, kekerasan, dan terorisme merupakan hal yang saling berkaitan. Meskipun demikian, agama telah diketahui sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari berbagai kasus kekerasan dan terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Kekerasan dan terorisme atas nama agama tertentu merupakan sebuah respon yang disebabkan oleh globalisasi. Bagian terpenting dari penelitian ini menjelaskan aturan agama yang memberi makna terhadap kehidupan masyarakat modern sejalan dengan pengaruh globalisasi. Pencarian kerohanian dan kembali kepada hakikat agama yang mungkin menjadi salah&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; solusi yang rasional untuk menyikapi globalisasi. Analisis multi-kultural yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan pembentukan pengalaman persepsi manusia pada umur, agama, sosial dan status ekonomi, identitas budaya, bahasa, ras, dengan kemampuan-kemampuan yang berbeda
Methodologically, this writing deals with literary study particularly with socio-religion aspects and its correlation with globalization. The important part of this study is the phenomenon in which globalization has changed the world and how religion responds the impacts of globalization. This writing, consecutively, describes how globalization works and how it influences the socio-religion changes. Religion, violence, and terrorism are closely related one another. However, religion has been identified to be an inseparable part of the many violence and terrorism cases occurring recently. Violence and terror in the name of certain religion is a response brought by globalization. The last part of this writing depicts the role of religion in giving meaning to modern people lives in line with the impacts of globalization. Seeking the spirituality and coming back to the nature of the religion might be one plausible solution to cope with the globalization. The multicultural analysis is used in this writing to describe the experiences shaping human’s perception on age, gender, religion, social and economy status, cultural identity, language, race, and those with different abilities.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-03-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/172</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 119-148</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 1 (2011): Agama dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi; 119-148</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/172/248</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/173</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">VISI ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN: DIALEKTIKA ISLAM  DAN PERADABAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Zuhdi, Muhammad Harfin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Keadilan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">theomorfic being</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluralitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam rahmatan lil &#039;alamin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Justice</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">themorfic being</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">plurality</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Misi utama ajaran Islam adalah membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarki dan ketidakadilan. Karena Allah Maha Adil, maka tidak mungkin&amp;nbsp; di dalam kitab suci-Nya mengandung konsep-konsep yang tidak mencerminkan keadilan Jika ada nilai atau norma yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan dan hak-hak asasi secara universal, maka nilai dan norma tersebut perlu direaktualisasi penafsirannya. Dalam perspektif Islam, kemanusiaan hakiki adalah kembali kepada fitrah manusia itu sendiri; sebagai manusia yang cenderung kepada nilai-nilai keagamaan yang substansial, dan nilai-nilai moral- spiritual yang bersifat perennial. Manusia adalah theomorfic being yang bertugas sebagai khalifah di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dituntut&amp;nbsp; untuk bercermin pada sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pengatur, dan Maha Adil untuk diaktualisasikan dalam realitas kehidupan nyata, sehingga wajah dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih sayang, keteraturan, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan. Al-Qur‘an menegaskan bahwa kedatangan nabi Muhammad dengan misi risalah Islam adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Rahmat berarti pembebasan manusia dari segala macam yang tidak sesuai dengan karakter dan tabiat manusia dan alam itu sendiri. Pada tataran nilai, Islam sejak awal mengajarkan kebaikan dan moralitas luhur, dan pada saat yang sama melarang segala perilaku jahat. Dalam Islam disebutkan, bahwa kehadirannya adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Cita-cita moral ideal&amp;nbsp; Islam adalah membangun dunia, dimana orang Islam maupun non-Islam hidup bersama menikmati keadilan, kedamaian, kasih sayang dan keharmonisan. Inilah tantangan dan persoalan dalam kehidupan modern sekarang ini. Adalah tugas semua elemen masyarakat, terutama para pemimpin agama dan para intelektual untuk menangkap pesan-pean moral agama yang dapat membawa kepada kehidupan yang harmonis di tengah pluralitas.
The primary mission of Islam is to free people from the various form of anarchy and injustice. Because God is just, it is not possible if His holy book contains concepts&amp;nbsp; that do not reflect fairness if no value or norms necessary direaktualisasi interpretation. In the islamic perspective, is an essenstial humanity back to human nature it self; as humans tren to religious values subtantially, and the moral values that are perennial spiritual. Man in theomorfic being served as caliph inthe eart. Therfore, humans are requeired to reflect on the nature of God the Merciful, the Suprema Controller, and the Most Just to be actualized in real lief reality, so that the face of this world into a world of loe, order, justice, peace and prosperty. The qur‟an insist that the arrival of the Prohet Muhammad with the mission of the massage of Islam is a mercy to the worlds. Grace means of human liberationfrom all that is inconsistent with the character and nature of man and nature it self. At the level of values, early Islam teaches kindness and nable moratility, and at the same time prohibiting any malicious behaviour. In Islam is mentioned, that is presence is a mercy to the worlds. Moral ideals of the Islamic ideals is to build a word where Muslims and non-Muslims to live together to enjoe justice, peace, love and harmony. These challenges and issue exist in modern life today. It is the task of all elements of society, especially religious leaders and intellectuals to the massage-pean religious morals that can lead to a harmonious lief in the midst of plurality.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/173</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 149-170</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 149-170</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/173/250</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/174</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN GERAKAN KEAGAMAAN KAUM REVIVALISME ISLAM DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Zuhdi, M. Nurdin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Rivivalis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sekularisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">salafisme radikal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">syariat Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pemikiran keagamaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Revivalist</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">secularism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">radical salafism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic syaria</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religious thought</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Gerakan revivalisme Islam merupakan gerakan keagamaan yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Gerakan revivalisme Islam ini mewakili berbagai corak gerakan yang ada selama ini, diantaranya adalah Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir, gerakan Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Laskar Jihad dan Dakwah Salafi. Gagasan yang ditawarkan oleh gerakan revivalisme Islam ini adalah mengembalikan teks kepada karakter ideologis yang statis, ahistoris, sangat ekslusif, tekstualis dan bias patriarkis. Gerakan ini mendukung penerapan syariat Islam secara keseluruhan dalam sendi kehidupan masyarakat. Sehingga kelemahannya yang muncul adalah produk penafsiran teks eksegetik yang cenderung linier-otomistic dalam menafsirkan teks al-Qur’an dan mengabaikan kontektualisasi teks. Padahal teks (al-Qur’an) haruslah dipahami sesui dengan konteksnya agar teks dapat berbicara. Dengan demikian prinsip al-Qur’an yang shalih li kulli zaman wa makan dapat terbukti.
Islamic revival movement is a religious movement which is discussed by many lately. The idea of the revival movement is to restore the text to the ideological character of the static, ahistorical, very exclusive, textualist and patriarchal bias. This article seeks to reveal the thoughts of the Islamic revival movement in Indonesia. The method used in this study is both descriptive-critical analysis by collecting existing data, and then describes and analyzes the critical-analytical approach. This study sought to prove that any&amp;nbsp; product of religious thought is influenced by the background surrounding the birth of a religious movement. Therefore, the product should always be open to ideas and have not&amp;nbsp; to criticize scared, considering he was a relative and construction human nature alterntative. In addition, research is also intended to do a &#039;criticism&#039; and then look for creative synthesis of the methodologies and typologies that exist on the thinking of the religious movement of Islamic revivalism studied. Synthesis results are expected to be contribution to knowledge in religious thought in the contemporary era, especially in Indonesia. Based on the theoretical framework of a typology of religious thought, through critical approaches-analysis concluded that there are at least four typologies of religious thought in the contemporary era, namely: quasi-objectivist typologies traditionalist, revivalist quasi-objectivist, subjectivist and typology typhology quasi-modernist objectivist. This revival movements embracing quasi-objectivist revivalist typology is a genuine understanding of the religion. In the sense of a genuine understanding of the religion they are referring to is an understanding of the return of religion to the ideological character of the static, ahistorical, very exclusive, tektualis and patriarchal bias. According to their religion in the present era must be understood according to the age where religion is lowered regardless of the context in the present era. So the weakness that emerges is the product exegetical interpretation of a text which tends to linear- atomistic in interpreting the text of the Qur&#039;an and ignore contextualization text.&amp;nbsp; Though the text (al-Qur&#039;an) must be understood within their context so that text can be explained. Thus the principle of al-Quran compatibility in all times and contexts can be proven.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/174</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 171-192</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 171-192</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/174/251</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/175</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PEMIKIRAN POLITIK SAYYID QUTB: MELACAK GENEOLOGI “KEKERASAN”</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Juandi, Juandi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Politik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">jahiliyyah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">jihad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">manhaj Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">fundamentalis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Sayyid Qutb, intelektual dan pejuang Muslim, berpandangan bahwa kelompok yang menentang islamisasi masyarakat dan Negara, terutama mereka yang dianggap pemimpin muslim, harus diperlakukan layaknya kaum jahiliyyah (pagan, kafir, murtad), sehingga dibolehkan untuk melakukan kekerasan demi melawan rezim semacam ini. Pemerintahan islam sesungguhnya harus mendasarkan pada tiga asas politik yaitu keadilan penguasa, ketaatan rakyat dan&amp;nbsp; permusyawaratan antara penguasa dan rakyat yang keseluruhannya dibingkai dalam manhaj islamiyah. Untuk menegakan manhaj islamiyah dan menghilangkan kejahilan di muka bumi ini, umat Islam perlu melakukan jihad sekalipun dengan tindakan represif.
Sayyid Qutb, an intellectual and Muslim fighter, argued that those who oppose Islamization of society and the State, especially those considered to be the leader of Muslims, should be treated like the jahiliyyah (pagans, infidels, apostates), so it is allowed to do violence to counter this kind of regime. Islamic governance should be based on three real political principles of justice ruling, compliance people and deliberation between the rulers and the people of which are framed in manhaj Islamiyah. To uphold the manhaj Islamiyah and eliminate ignorance in the face of this earth, Muslims need to do jihad even with repressive measures.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/175</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 193-214</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 193-214</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/175/252</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/176</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DISKURSUS TENTANG HAK ASASI MINORITAS DZIMMI DI TENGAH MAYORITAS MUSLIM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Tohir, Umar Faruq</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Dar al islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">negara kebangsaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pemikiran kontemporer</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">nation state</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">contemporary thought</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">equality</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Pada era perkembangan Islam di masa lalu, negara persemakmuran Islam dipandang layak untuk dipertahankan. Keadaan tersebut menyebabkan terbaginya Negara persemakmuran Islam ke dalam dua kategori yaitu dar al-Islan dan dar a;-Harb.Pembagian ini telah melahirkan sebuah konsep sekolah Islam yang eksklusif yang mengangap orang kafir yang hidup di wilayah non-Islam dapat diperangi. Mereka mengira bahwa setiap orang kafir berniat untuk merendahkan dan memerangi mereka, meskipun anggapan tersebut tidak selalu benar. Sekolah Islam yang eksklusif ini juga menganggap bahwa tampuk pemerintahan harus dipegang oleh Muslim dan tidak ada kesempatan bagi orang kafir untuk menjadi pemimpin di segala aspek pemerintahan Islam.Para orang kafir masih dan akan selalu menjadi masyarakat kelas dua.Bagaimanapun, pemikiran tradisional semacam ini masih hidup dan menjadi paradigma berpikir para sarjana fiqih dewasa ini.Jika kita menilik pada Piagam Madinah, kita dapat mengetahui bahwa Nabi Muhammad tidak pernah merendahkan orang kafir.Beliau membuat unadang- undang yang harus dipatuhi setiap masyarakat Madinah, Muslim ataupun orang kafir.Di era kontemporer ini, dimana sebuah Negara bersifat teritorial, subordinasi golongan kafir harus dihapuskan.Negara teritorial pada masa ini dibagi tanpa membedakan antara Muslim dan golongan kafir karena mereka memiliki posisi dan hak yang sama untuk mengembangkan daerahnya dan hidup berdampingan satu sama lain.Kata Kunci: Dar al-Islam dan dar al-Harb, Negara berbangsa tunggal, pemikiran kontemporer, sama.
The territorial of Islamic dominion was become worth to be struggled in the past era of Islamic development. This circumstance divided the territorial of Islamic dominion in to dâr al-Islâm and dâr al- Harb. This divide has conceptualized a new Islamic exclusive school who has assumed that the infidels who have been in the non Islamic territorial could be battled. They think that every infidels look Moslems away and wish to battle them, even contrary, in the actually. This Islamic exclusive school also think that the governance must be lead by Moslem and there is no chance for infidel to be a leader in all aspects of Islamic territorial government. The infidels always and still in the second class. Whatever, this classical thinking still alive in the mind (paradigm) of the present fiqh&#039;s scholars. If we remind to the Charter of Madinah, we can find that our prophet Muhammad never sub-ordinated the infidel. He made a charter where every Madinah&#039;s society had to obey the rules, there is no different between Moslem or infidel. In this contemporary time, where the system of territorial become a state, the sub-ordination to the infidel should be pushed away. The territorial today is stated by escaping the difference status between Moslem and infidel, because they have the same position and right to develop the state and live besides each other.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/176</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 215-232</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 215-232</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/176/253</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/177</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KONSTRUKSI PEMIKIRAN FEMINISME  DALAM ISLAM: Menggali Makna Kesetaraan Gender dan Gerakan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Abidin, Zainal</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Feminisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">gender</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Sciences</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Pergerakan gender menjadi isu global di era modern.Pergerakan gender banyak mempengaruhi para pemikir Muslim yang aktif di dunia.Faktanya konstruk philosophy yang dikembangkan dari wacana barat, menjadi salah satu pembebasan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; akhir hidup mereka. Tidak ada batasan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.Dalam pandangan ini banyak pergerakan emansipasi wanita dimasukan dalam kebebasan yang kuat pada kekuasaan wanita dan mereka menjadi anti-kekerasan dalam status kedudukan dan keluarga, akan tetapi sekarang ini konstruk dari program emansipasi barat menjadi suatu pembebasan dan anti-dogma agama.Maka hal tersebut harus dipikirkan kembali mengenai semangat feminisme yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam, terutama untuk aktivis gender Muslim.Hal ini sangatlah penting untuk membangun kembali dan memikirkan kembali mengenai dasar pandangan Islam, karena Islam adalah pandangan yang bersifat universal dan merupakan jalan hidup bagi setiap Muslim, dan gender pastinya dipengaruhi oleh spiritual Islam.
The gender movement&amp;nbsp; is a global isues in the modern era, its influenced for&amp;nbsp; many thinker of Muslim activies on the world. In the fact the construct of the philosophy was developed from West discourse, that everyone have the liberation to derminate them for live , No bondaires of rule between man and women. For this perspectives many women emancipation movement was introduced the liberation all out of woman rules&amp;nbsp; and they were become the anti violence of the marital or family, but in now days the construct of that program of emancipation in the West is becaming the liberation and anti dogma of religion. So that it must be rethingking about the spirit of feminism was be influenced by Islamic values, especially for the moslem activities of genders. It is very important to reconstruction and rethinking about the fundamental of Islamic &amp;nbsp;perspectives, because Islam is the universal view and the way of life for every Muslim, and the gender must be influenced by Islamic spiritual.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/177</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 233-246</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 233-246</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/177/254</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/178</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DERADIKALISASI AJARAN AGAMA: URGENSI, PROBLEM DAN SOLUSINYA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Mustofa, Imam</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Deradikalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ajaran agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">terorisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam rahmah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Banyaknya aksi teror yang mengatasnamakan Islam membawa dampak yang buruk terhadap umat Islam. Islam dituduh sebagai agama yang&amp;nbsp; haus&amp;nbsp; darah, agama anti HAM, anti toleransi dan agama yang mengajarkan dan menganjurkan kekerasan terhadap umatnya. Pada dasarnya kekerasan atau teror yang mengatasnamakan agama tersebut muncul bukan karena kesalahan ajaran agama Islam, akan tetapi lebih pada kesalahan memahami dan menafsirkan teks- teks agama. Kesalahan tersebut berimpilkasi pada kesalahan mengkonteks-kan dan mengamalkan ajaran tersebut, sehingga yang terjadi adalah melegitimasi aksi teror dengan legitimasi teks agama. Berdasarkan hal ini maka perlu dilakukan deradikalisasi ajaran agama. Deradikalisasi sebagai upaya untuk mengembalikan fungsi dan tujuan teks agama secara proporsional dan kontekstual untuk membumikan visi misi agama untuk menciptakan tatanan kehidupan manusia dalam bingkai kasih sayang. Tulisan ini memaparkan&amp;nbsp; urgensi deradikalisasi ajaran agama Islam serta problem-problem yang akan muncul dalam deradikalisasi tersebut. Tulisan ini bersifat deskruptif. Analisis yang dugunakan adalah konten analisis dari sumber data tertulis. Dari penelusuran dan analisis data disimpulkan bahwa deradikalisasi sangat mendesak untuk dilakukan demi untuk menampilkan wajah Islam yang ramah dan mengedepankan aspek kemanusiaan dalam beragama. Adapun permasalahan yang muncum dalam deradikalisasi tidak begitu berarti yang dapat diselesaikan dengan memberdayakan lembaga pendidikan dan Ormas.
A lot of terrorism in the name of Islam bring the bad impact to Muslim. Islam is thought as the blood thirsty religion, anti-human right religion, anti-tolerance, and religion which teaches and recommends the violence to Muslim. Basically, the violence or terrorism in the name of Islam, it is not because of the wrongness of Islam rather than misunderstanding and misinterpreted Islamic texts. The defect implicates in contextualizing and practicing the precept that legitimates terrorism by legitimation of religion text. In line with this, it needs to conduct de-radicalization of Islam teaching. De-radicalization is an effort to carry back the function and purpose of religion text proportionally and contextually for earthen religion mission vision creating order of human life in affection context.&amp;nbsp;&amp;nbsp; This paper describes the urgency of e-radicalization&amp;nbsp;&amp;nbsp; ofreligion teaching and problems that will emerge in the de-radicalization. This paper is destructive. The analysis used is the content analysis of written data. From data investigation and data analysis assumed that de-radicalization very insists to be carry out for showing Islam face that is polite and setting out of the human aspects in religion. Concerning with the problems that merge in de-radicalization is such useless which could be finished by conducting institute and society organization.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/178</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 247-264</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 247-264</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/178/255</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/179</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PENDEKATAN HUMANISTIK DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN FIQIH</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Afifah, Nurul</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Humanistik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">materi fiqih</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pembelajaran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Humanistic</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">fiqh material</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">learning</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Penelitian&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; mengangkat&amp;nbsp; permasalahan&amp;nbsp; pembelajaran&amp;nbsp; fiqih&amp;nbsp; MTs., yang
dalam implementasinya lebih menekankan aspek kemampuan kognitif, kurang mengakomodasikan aspek psikomotorik dan afektif. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan yang lebih humanistik menurut penulis kiranya dapat menjadi tawaran solusi terhadap permasalahan tersebut di atas. Obyek penelitian ini, lebih difokuskan kepada materi kurikulum fiqih berupa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berdasarkan Permenag RI Nomor 2 Tahun 2008. Sehingga rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah pendekatan humanistik dalam kurikulum (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) mata pelajaran fiqih MTs. Dan menawarkan bagaimanakah impelementasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah. Penelitian ini adalah studi pustaka, karena sumber data yang digunakan seutuhnya berasal dari perpustakaan atau dokumentatif. Sementara pendekatan penelitian yang penulis pakai adalah&amp;nbsp; dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Proses analisis data dalam penelitian ini dengan hermeneutika. Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa materi kurikulum fiqih MTs. yang ada agar lebih mencerminkan kebutuhan siswa, perlu dimasukkan keseimbangan materi yang mencerminkan prinsip-prinsip pendidikan yang humanistik. Dalam penelitian ini juga penulis menawarkan konsep pembelajaran fiqih dengan menggunakan pendekatan humanistik.
This study discusses the issue of learning fiqh MTs which it is implementation emphasizes the aspects of cognitive abilities, less accommodating the psychomotor and affective aspects. This indicates that a more humanistic approach according to the author would be able to offer a solution to the problems mentioned above. The object of this study, more focused more on fiqh curriculum in the form of Competence Standard and Basic Competence based Permenag No. 2 of 2008. So the formulation of the problem of this research is how humanistic approach in the curriculum (Standards of Competence and Basic Competence) of fiqh subjects MTs. And offer how the impelementation of humanistic approach in learning fiqh at MTs. This study is library research, because the data sources are used entirely derived from the library or dokumentatif. While the research approach uses analytical descriptive approach. The process of analysis data with hermeneutics. whatever available the needs of students requirement, need to be incorporated material balance that reflects the principles of humanistic education. In this study the authors also offer the concept of learning fiqh using humanistic approach.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/179</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 265-282</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 265-282</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/179/256</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/180</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:30Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KESETARAAN GENDER DALAM MASYARAKAT MADANI: STUDI ATAS TAFSIR AL-KASSYÂF KARYA SYAIKH ZAMAKHSYARI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Widayat, Prabowo Adi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Masyarakat Madani</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Gender</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Tafsir al-Kassyaaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Civil Society</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Tafseer al-Kassyaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">SKesetaraan&amp;nbsp; gender&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; masyarakat&amp;nbsp; madani&amp;nbsp; merupakan&amp;nbsp; isu&amp;nbsp; krusial&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; dikembangkan melalui mekanisme bermasyarakat yang didasarkan pada pelaksanaan hak asasi manusia, mewujudkan nilai-nilai sosial, budaya, dan agama yang terbentuk melalui masyarakat tersebut. Gender dalam status sosial seringkali dipahami secara diskriminatif dengan mengacu pada jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) sehingga konsep keberadaanya seringkali menjadi hal yang kontradiktif terlebih bagi mereka yang tidak berpendidikan, hal ini diindikasikan bahwa pemahaman terhadap gender terjadi pada level karakter jenis kelamin, dan perbedaan fisik. Dalam al-Quran konsep gender dimaknai secara beragam menurut orientasi ayat dan pemaknaan sesudahnya oleh para mufassir sehingga terjadi variasi pemaknaan dan kekhasan tersendiri dari ayat-ayat al-Quran yang berafiliasi dengan konsep gender, khusus dalam tafsir al-Kassyâf konsep gender dijelaskan sesuai dengan konteks makna realita sekarang sehingga makna yang terjadi lebih mengedepankan aspek objektifitas, keseimbangan, dan keterpaduan intra teks.
&amp;nbsp;
Gender equality in the civil society is a crucial issue for developed through social mechanisms that are based on the implementation of human rights, embodies the social values, culture, and religion formed through the community. Gender in social status is often understood to be discriminatory by reference to gender (men and women) so that, the concept of his presence often becomes &quot;contradictory things, especially for those who are uneducated, it is indicated that an understanding of gender occurs at the level of the character&#039;s gender, and physical differences. In the Quran the concept of gender is meant for orientation varies by verse and purport afterward by the exegetes such variations and thus distinct from the verses of the Koran which is affiliated with the concept of gender, especially in tafseer al-Kassyâf interpretation of&amp;nbsp; the concept of gender is described according to the context the meaning of reality right now so that, the meaning is going to put forward more aspects of objectiveness, balance, alignment and intra-text</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2011-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/180</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 16 No. 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 283-308</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 16 No 2 (2011): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 283-308</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v16i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/180/257</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/189</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:12Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">SKETSA  PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Mustofa, Imam</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Sketsa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pemikiran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam liberal Indonesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">intelektual</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kebebasan berpikir</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sketch</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">thought</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Indonesia liberal Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">intelectual</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Pemikiran Islam di Indonesia selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan sosial masyarakat. Indonesia sebagai negara plural, baik dari sisi suku, ras, budaya, agama dan keyakinan ternyata memunculkan&amp;nbsp; berbagai produk pemikiran yang plural pula. Bahkan pemikian keislaman di kalangan intelektual dan ulama pun cukup beragam. Salah satu corak pemikiran yang ikut mewarnai pemikiran Islam di Indonesia adalah Pemikiran Islam Liberal. Artikel ini bermaksud mengeksplorasi seketsa perkembangan pemikiran Islam Liberal di Indonesia. Tulisan ini berasal dari penelitian yang berasal dari data kepustakaan (library research) yang dianalisa dan dipaparkan secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan sejarah. Dari hasil analisa data disimpulkan bahwa munculnya Islam liberal di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pemikiran liberal intelektua-intelektual Barat. Intelektual indonesia yang sempat belajar ke universitas-universitas ternyata membawa pengaruh pemikiran liberal Barat ke kancah pemikiran Islam di Indonesia. Pemikiran Islam Liberal di Indonesia sampai saat ini masih hidup, terutama setelah munculnya Jaringan Islam Liberal.
&amp;nbsp;
In line with period and social society development are Islam thought in Indonesia.Indonesia as a plural nation, tribal, race, culture, religion, and believe a matter of fact emergence thought products which plural too. Moreover, Islamic thought&amp;nbsp; is variety in intelectual circle and Muslim Scholar.The liberal of Islamic thought is one of the thought pattern which follow apply a color to Islam in Indonesia. This article aims to explore the liberal Islamic thought in developing vignette in Indonesia.This paper comes from research which comes from library research analized and explained as descriptive by using historical approach.From the result of data analysis concluded that emerging Liberal Islamic in Indonesia is very influence by Liberal intelectuals Western.Indonesia Intelectual have sufficient time to study in the universities be in fact brought the&amp;nbsp; influence Western Liberal thought to hung by a thread Islamic thought in Indonesia.Liberal Islamic thought in Indonesia until this now still live, especially after coming Islamic Liberal network.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-10-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/189</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 153-176</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 153-176</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/189/458</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/190</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:12Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">REAKTUALISASI HUKUM ISLAM: PEMIKIRAN MUNAWIR SJADZALI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Fitria, Vita</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Reaktualisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">maslahah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Munawir Sjadzali</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Reactualization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Dalam perkembangan pemikiran Islam kontemporer saat ini, mulai berkembang suatu pemikiran sumber hukum yang dianggap mandiri yakni maslahah atau maqashid asy-syariyyah. Belakangan konsep tersebut makin berkembang bahkan menjadi disiplin ilmu yang seolah terlepas dari ilmu ushul fikh. Konsep pemikiran tersebut meski mulai berkembang belakangan, namun secara implisit sudah dijadikan sebagai landasan berpikir oleh para intelektual Muslim tak terkecuali di Indonesia. Munawir Sjadzali, seorang intelektual Muslim Indonesia, memunculkan ide tentang “Reaktualisasi Ajaran Islam“ dengan mengedepankan aspek maslahah.&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; Munawir&amp;nbsp; lebih mengkonkritkan lagi pada tiga kerangka metodologi yakni adat, nasakh dan maslahah. Lebih lanjut tulisan ini akan mengupas tentang garis besar pemikiran Munawir terutama pada masalah waris dan bunga bank, beserta argumen-argumen yang melatari konsep pemikirannya. Melalui pendekatan fikh dan ushul fikh, penulis akan menggali aspek pembaruan serta sedikit mengurai tentang pemikiran tokoh Indonesia yang lain sebagai pembanding, juga mengulas tentang beberapa polemik seputar konsep ijtihad yang ditawarkan oleh Munawir tersebut.
&amp;nbsp;
In the development of contemporary study of Islam, there grows an autunomous idea of source of law, that&amp;nbsp; is maslahah or maqashid asy-syariyyah. Lately, this concept has been growing to be a discipline that autonomously apart from ushul fiqh. Relatively new, this discipline has implisitely become a basic of thought for many Moslem intellectualists, including in Indonesia. Munawir Sadjali, one of those, proposed an idea of “Reactualize of Islam” by advancing aspect of maslahah. In this standpoint, Munawir concretize on three methodological frames, namely adat (tradition), nasakh, and maslahah. Further, this writing will analyse the outline of Munawair‟s reasoning, particullary on issues of &amp;nbsp;inheritance and bank interest, along with arguments of his background concept. Through fiqh and ushul fiqh approachment , the writer will dig up some aspects of renewal and a little of some other thoughts of Indonesian figures as comparators; and will also provide a review around polemic of &amp;nbsp;Munawir‟s idea on &amp;nbsp;concept of ijtihad.
&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-10-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/190</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 177-196</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 177-196</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/190/459</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/191</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:12Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM INDONESIA: SEBUAH DESKRIPSI WACANA  INTELEKTUALISME ISLAM DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Abidin, Zainal</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Perkembangan pemikiran Islam di Indonesia mengindikasikan beberapa ide-ide rekonstruksi pemikiran Islam yang memiliki beberapa implikasi. Pembentukan kesadaran Islam yang luar biasa pada diri para cendekiawan muslim, mereka membuat kategorisasi ide untuk membangun perspektif Islam dan untuk mendapatkan beberapa alternatif pemecahan masalah berdasarkan pengalaman. Untuk waktu yang lama beberapa intelektual Islam lebih independen untuk mengekspresikan pikiran mereka seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dll. Mereka memperkenalkan filsafat pada paradigma dan membuat grand metodologi studi Islam di Indonesia. Tulisan ini menunjukkan bahwa perspektif yang digunakan sangat berbeda antara para cendekiawan muslim. Jenis pemikiran dapat dibagi dalam ke empat jenis yaitu ideologi Islam sebagai paradigma fundemental, neo-modernisme yang memiliki konsep terbuka terhadap studi Islam, rasionalism dalam Islam dan percabangannya, dan Islam Liberal yang disutradarai oleh para pemikir muslim muda, lahir setelah reformasi dalam transformasi politik Indonesia. Era ini disebut sebagai era reformasi&amp;nbsp; dimana beberapa aktivis muslim muda pada kesempatan ini dapat mengekspresikan pemikiran dengan semangat pembebasan, dan dalam waktu yang sama konstruksi mereka dalam berpikir harus siap mendapat tanggapan dari kctivis fundamentalisme Islam radikal atau Islam di Indonesia.
The development of Islamic thought in Indonesia indicated that some ideas as the reconstruction of Islamic thinking its have several implications. The establishment of Islamic consciousness remarkable in the muslim scholars, they make categories of their ideas to build in the Islamic perspectives its available to get some alternatives of the people problems like their experiences. For a long time some intelectual moslem have been more independent to expression their thinking like Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid etc. They introduced the philosophy on the paradigm and make the grand metodology of Islamic study in Indonesia. The kind of character in several times, indicated that perspective used is very different between muslim scholars. The type of thinking may be divided in to four kinds, there Islamic Ideologi as the fundemental paradigm in their concept, neo-modernism to have the opened concept of Islamic study, rationalism in Islam and its ramification, and the last time the Islamic liberlism directed by the young muslim thinkers, was born after reformation in Indonesian politic transformation. This era called by reformation era, some young muslim activists on this occasion can be experession &amp;nbsp;with liberation spirit of opened era, and in the same time their construction in thinking must be respons by the Islamic radical or Islamic fundamentalism activis in Indonesia.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-10-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/191</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 219-234</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 219-234</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/191/461</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/201</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:12Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KEPATUHAN SYARIAH (SHARIAH COMPLIANCE) DAN INOVASI PRODUK BANK SYARIAH DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sukardi, Budi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kompilasi  Syariah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">keberlanjutan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">laissez-faire</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Shariah compliance</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sustainability</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Dampak globalisasi keuangan (financial global) dan pasar bebas (laissez-faire) berdampak pada kehati-hatian pelaku industri dan bisnis keuangan Islam untuk menjaga aspek kepatuhan syariah (shariah compliance) sebagai alat pencegahan kemungkinan resiko dan fraud di sektor riil. Begitu juga tantangan terhadap inovasi produk keuangan harus dilakukan dengan melakukan penyesuaian antara manfaat, dinamika masyarakat serta kondisi perekonomian global. Ini diterapkan untuk membuktikan bahwa nilai-nilai Islam mampu dan eksis dalam persaingan bisnis, perdagangan di era globalisasi modern serta menjaga keberlangsungan usaha (sustainability) perbankan Islam di Indonesia. Fungsi kepatuhan sebagai tindakan dan langkah yang bersifat ex-ante (preventif), untuk memastikan kebijakan, ketentuan, sistem dan prosedur, serta kegiatan usaha yang dilakukan oleh Bank Islam. Untuk itu, Bank Islam wajib memahami seluruh ketentuan perundangan yang berlaku, sehingga menjadi tanggung jawab setiap individu dari&amp;nbsp; jajaran tertinggi yaitu Direksi sampai pegawai terendah jajaran Bank. Begitu juga inovasi produk perbankan Islam mengacu pada standar syariah (shariah standards) dan shariah governance, berpedoman pada standar internasional, pemenuhan integritas dan kualitas sumber daya manusia perbankan Islam, kesesuaian akad, dan tidak mendzalimi masyarakat sebagai konsumen. Hal ini menjadi penting, bahwasannya jika bank Islam tidak bisa menjaga nilai-nilai Islam dalam bisnis dan persaingan keuangan global, maka berarti nilai-nilai Islam tidak sesuai dan tidak relevan dengan zaman.
The impact of financial globalization and the laissez-faire impact on prudential industry and Islamic finance businesses to maintain shariah compliance aspects as a means of fraud prevention and possible risks in the real sector. The challenge innovation of financial products has to do with adjusting the benefits, as well as the dynamics of the global economy. It’s applied to prove that Islamic values can exist in the business competition, trade in the modern era of globalization and to maintain sustainability business of Islamic banking in Indonesia. Compliance functions as actions and measures, both are preventive to ensure the policies, rules, systems and procedures, the business activities carried out by the Islamic Bank. That end, the Islamic Bank&amp;nbsp; shall understand all the provisions of laws and regulations, so the responsibility of each individual from the board of directors to the lowest employee ranks of bank. Likewise, the Islamic banking product innovation refers to the sharia standards and sharia governance, based on the&amp;nbsp; international standards, compliance the integrity and quality of human resources Islamic banking, contract compliance and not hurt people as consumers. This is important, if Islamic banks can not maintain Islamic values in the global business and financial competition, it means that Islamic values are not appropriate and irrelevant the times.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-10-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/201</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 235-252</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 235-252</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/201/462</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/202</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:12Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">URGENSI BERFIKIR STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Rifa&#039;i, Andi Arif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Berfikir strategis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pengembangan lembaga</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Strategic thinking</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">institution development</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Persoalan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lagi dipungkiri telah mengalami stagnansi yang cukup lama. Persoalan-persoalan manajerial yang tidak sistematis dan strategis dalam membawa lembaga Pendidikan Islam merupakan persoalan utama. Upaya menjawab persoalan tersebut tidak serta merta dapat dilakukan dengan seketika, butuh perencanaan yang terukur dan strategis. Kunci utama keberhasilan pengembangan lembaga pendidikan Islam tidak dapat lepas dari pemimpin atau otak&amp;nbsp; pelaku kebijakan yang ada di lembaga tersebut. Seorang pemimpin perlu dan wajib berfikir strategis dalam melakukan pengembangan kelembagaan pendidikan Islam. strategis merupakan gambaran dari upaya menciptakan capaian-capaian masa depan yang lebih baik. Dengan melakukan analisis mendalam terkait kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan, maka setrategi untuk melangkah dalam kurun waktu tiga-sepuluh tahun kedepan menjadi lebih pasti. Formulasi strategi dibangun dari analisis yang mendalam, logis, sistematis, dan ilmiah. Sehingga, Konsep berfikir strategis dengan wujud perencanaan strategis dalam pengembangan kelembagaan Islam menjadi solusi terbaik mengahadapi problematika pengembangan lembaga pendidikan Islam saat ini.
&amp;nbsp;
It cannot be denied that some problems exist within the Islamic educational institutions in Indonesia and it has undergone quite a long stagnation. One of the major problem is the managerial issues which are not systematic and strategic in bringing Islamic institution. An attempt to answer these questions may not necessarily be done immediately, it takes a measurable and strategic planning. A major key to success the development of Islamic education institutions cannot be separated from the brain&#039;s of the leader or policy ruling the institution. A leader needs to be strategic in terms&amp;nbsp; of&amp;nbsp; thinking to develop the Islamic education. It is an overview of the strategic efforts of creating episodic sections for a better future. By doing a thorough analysis of related to the strengths, weaknesses, opportunities and challenges, then the strategy to step &amp;nbsp;within three-ten&amp;nbsp; years in the future become more certain. Strategy formulation is built from a deep analysis, logical, systematic, and scientific. So, the concept of strategic thinking and strategic planning in the form of institutional development of Islam becomes the best solution to achieve the development of Islamic education institutions today.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-10-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/202</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 277-290</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 277-290</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/202/463</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/203</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:12Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KH. AHMAD DAHLAN DAN GERAKAN PELURUSAN ARAH KIBLAT DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sakirman, Sakirman</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Ahmad Dahlan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">gerakan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pelurusan arah kiblat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Indonesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">movement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">qiblah direction</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Kajian ini mengungkap bagaimana konstruksi metodologi KH Ahmad Dahlan dalam meluruskan arah kiblat di Indonesia. Cikal bakal problematika&amp;nbsp; pelurusan arah kiblat terjadi di masjid Kauman Yogyakarta. Rekonstruksi yang dilakukan KH Ahmad Dahlan cukup lentur yang&amp;nbsp; dikemas&amp;nbsp; melalui&amp;nbsp; metode&amp;nbsp; ilmiah yakni menggunakan pendekatan astronomi modern, meskipun pada saat itu masyarakat setempat belum menerima sepenuhnya pembaharuan tersebut. KH Ahmad Dahlan berusaha dengan elegan memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa masjid Kauman Yogyakarta tidak tepat mengarah ke posisi kakbah. Pesan singkat yang disampaikan oleh KH Ahmad Dahlan dalam pelurusan arah kiblat adalah suatu hal yang sakral tapi lentur sifatnya. KH Ahmad Dahlan memberikan contoh bahwa Islam itu sebetulnya tidak kaku melainkan lentur. Dengan syarat, tetap memegang teguh nilai yang berlaku. Karena jauh lebih penting adalah urusan ibadah dengan sang pencipta. pelaksanaan prinsip, nilai, anjuran agama yang telah digariskan arah kiblat tetap menjadi penting. Atas dasar itu, KH Ahmad Dahlan melakukan gerakan pemurnian, yang salah satunya berupa upaya meluruskan arah kiblat umat&amp;nbsp; Islam Indonesia. Kala itu umat Islam Indonesia merasa cukup menghadap ke barat saja, tanpa mempertimbangkan sesuai tidaknya dengan arah kiblat.
&amp;nbsp;
This study reveals how construction methodology of KH Ahmad Dahlan in straightening Qiblah direction in Indonesia. The forerunner to its streamlining Qiblah direction occurred in the mosque Kauman Yogyakarta. Reconstruction KH Ahmad Dahlan was quite pliable packaged through scientific methods i.e. using modern astronomical approach, although at that time the local people have not received&amp;nbsp; the renewal entirely. KH Ahmad Dahlan tried elegantly giving enlightenment to the people that no proper mosque Kauman leads to the position of the Kaaba. Short messages that&amp;nbsp; are delivered by KH Ahmad Dahlan in the straightening of the Qibla direction is a sacred thing but supple nature. KH Ahmad Dahlan gave an example that Islam is actually not stiff but pliable. The condition, keep holding fast to values that apply. Because it is much more important is the matter of worship with the creator. the implementation of the principles, values, religious advice outlined Qiblah direction remains important. On that basis, KH Ahmad Dahlan purification movements, one of which is an attempt to straighten the Qibla direction Islam Indonesia. At that time Indonesia Muslims feel quite overlooking the West alone, without considering whether compliance with the direction of the Qibla.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-10-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/203</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 291-308</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 2 (2012): Memperkuat Citra Islam sebagai Agama Perdamaian; 291-308</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/203/464</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/204</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:50Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">MENCIPTAKAN PRINSIP MORAL MENUJU MASYARAKAT MADANI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Safri, Arif Nuh</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Rukun Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ritual</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">moral</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">masyarakat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">civil society</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Setiap agama selalu identik dengan ritualnya masing-masing. Namun, secara keseluruhan ritual tersebut bertujuan untuk menghayati kehadiran Tuhan, serta menangani kehidupan sosial. Dalam Islam, semua jenis ritual yang dikenal sebagai lima rukun Islam, seperti dalam hadist dari nabi, mulai dari syahadat,&amp;nbsp; sholat, puasa, zakat dan Haji. Namun, rukun Islam hanya dimaksudkan sebagai media bagi terciptanya hubungan antara individu dengan Tuhan, sehingga keluar dari aspek sosial yang dikenal dengan perbuatan baik. Dengan kata lain, semua jenis ritual keagamaan menjadi masuk akal dan tidak nyata. Di dalam AlQur&#039;an sendiri, iman kepada Allah harus diwujudkan dalam bentuk&amp;nbsp; ritual&amp;nbsp; yang bertalian langsung dengan aspek kesalehan sosial. Melalui artikel ini, penulis mencoba menjelaskan konsep ritual, dalam hal ini rukun Islam yang lebih sosial, sehingga dengan penghargaan terhadap semua ritual, mungkin membuat pribadi menjadi humanis, dan pada gilirannya pribadi humanis akan menciptakan masyarakat humanis.
Every religion is always identical to its respective rituals. But, the overall aim to live up to God&#039;s presence, as well as handle the social life. In Islam, all forms of ritual known as the five pillars of Islam, as in the hadith of the Prophet. Starting from the creed, pray, fasting, zakat and hajj. However, the pillars of Islam are only meant as the medium in individual relationships with God, so that escape from the social aspect known by the good deeds. In other words, all forms of religious ritual becomes absurd and unreal. In the Qur‟an&amp;nbsp; itself,&amp;nbsp; faith&amp;nbsp; in&amp;nbsp; God&amp;nbsp; should&amp;nbsp; be&amp;nbsp; manifested&amp;nbsp; in&amp;nbsp; the&amp;nbsp; form&amp;nbsp; of&amp;nbsp; ritual&amp;nbsp; is&amp;nbsp; directly proportional to social righteousness or piety. Through this article, the author will try to explain the concept of ritual, in this case the pillars of Islam are more social, so with appreciation towards all rituals, it is possible create humanist personal, and the humanist personal createng humanist society towards civil society.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-05-20</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/204</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 1-18</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 1-18</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/204/272</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/209</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:50Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA PASCA-ORDE BARU: PERTARUNGAN ISLAMISM VERSUS CIVIL ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sholeh, Moh</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">HAM</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Orde Baru</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">civil Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Human rights</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">New Order Regime</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini mencoba memberikan gambaran mengenai kondisi HAM di Indonesia pasca orde baru sekaligus memetakan titik singgung dan titik pisah diskursus HAM di antara golongan anti-barat (Islamism) dan pro-barat (civil- Islam). Dua golongan Islam Indonesia ini akan dijelaskan secara rigid berdasarkan teori-teori hasil temuan penelitian pemerhati Islam Indonesia. Kajian ini menemukan bahwa diskursus HAM Pasca-Orba&amp;nbsp; mengalami&amp;nbsp; pergeseran dari HAM ala militerisme ke HAM yang berkaitan dengan masalah agama. Melalui pendekatan historis rangkaian temuan tulisan ini membawa&amp;nbsp; pada kesimpulan teoretik, bahwa, untuk kasus Islam Indonesia, breeding ground utama Islamism adalah negara yang lemah. Kaum Islamism tumbuh kuat manakala kontrol negara terhadap keamanan, sosial, keagamaan, kemasyarakatan, ekonomi dan politik, melemah. Sebaliknya, lahan subur bagi Civil Islam yaitu, negara otoriter. pada saat negara dengan sangat tangguhnyamengontrol ekonomi, social, budaya, sipil dan politik.&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
This paper tries to give an overview about the condition of human rights in Indonesia after the new order and map the tangent point and the point of separating human rights discourse between the anti-Western (Islamism) and pro-Western (civil-Islam). The two Islamic groups in Indonesia will be described rigidly in line with the existing theories as the results of the research findings on Islam within Indonesia contexts. This study found that the discourse of human rights after the new order regime underwent a shift from human rights which are connected to militarism to human rights with regard to religion issue. Through the historical approach of this paper&#039;s findings led to the conclusion that the theory, in the case of Islam Indonesia, the main breeding ground of Islamism is a weak country. The Islamism grows stronger when the state control of security, social, religious, societal, political, and economic are weak. In contrast, fertile ground for an Islamic civil an authoritarian country. It is a strong country which has powerful control the economic, social, cultural, civil and political rights.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-03-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/209</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 19-46</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 19-46</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/209/451</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/213</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:50Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KONSEP MASYARAKAT MADANI DALAM ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Dacholfany, M Ihsan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">masyarakat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sipil</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kemanusiaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">jaminan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Religion</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">society</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">civil</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">human</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">guarantee</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Islam melahirkan konsep sempurna dengan menampilkan lima jaminan dasar yang diberikan agama kepada warga masyarakat, baik secara perorangan ataupun kelompok. Pertama, keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan fisik di luar ketentuan hukum. Kedua, keselamatan keya-kinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama. Ketiga, keselamatan keluarga dan keturunan. Keempat, keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum. Kelima, keselamatan profesi (intelektual). Kelima jaminan dasar tersebut menampilkan universalitas pandangan hidup atau visi transformatis sosial keagamaan yang utuh. Pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat yang berdasarkan hukum, persamaan derajat dan sikap toleransi adalah unsur-unsur utama kemanusiaan. Namun, hal itu sekedar menyajikan kerangka teoritik. Sehingga, harus diikuti dengan upaya pengorganisasian dan penerapannya di lingkungan sosial secara empiris.
Islam bears perfect concept presented five elementary guarantee which given by religion to society citizen, either through individual or group. First, safety of society citizen physical of physical action out off law. Both, safety of belief of each religion, without constraint to move the other religion. Third, safety of family and descent. Fourth, safety of goods and chattel ownership outside law procedure. Fifth, safety of profession (intellectual). The fifth elementary guarantee present universal view of life or vision of transformation intact religious social. Goverment and society life which pursuant to law, equation of tolerance attitude and degree is human especial elements. But, that thing is merely presenting framework of theory. So that, it should be followed by the effort of organization applying in social environment by empiric.
&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-03-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/213</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 47-74</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 47-74</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/213/452</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/218</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:50Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PLURALISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Zuhdi, Muhammad Harfin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Pluralisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">klaim kebenaran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluralitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sunatullah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pluralism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">truth claim</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">plurality</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Bentuk dan warna agama dalam realitas kehidupan manusia memang sering memperlihatkan corak yang beragam. Keragaman corak keberagamaan ini pertama-tama disebabkan karena doktrin agama yang bersifat universal dan bersumber dari wahyu Tuhan, yang ketika membumi dalam wacana kehidupan manusia tidaklah hadir dalam suatu lingkungan yang hampa budaya. Agama sesungguhnya hadir sebagai petunjuk bagi penciptaan kehidupan yang penuh keteraturan dan keharmonisan. Namun, kehadiran agama di muka bumi ini tidak tampil dalam wajah yang seragam seperti ketidakseragaman manusia itu sendiri. Hal ini, sebenarnya memiliki blessing teologis-sosiologis terutama bagi upaya menciptakan keteraturan kosmik, sebagaimana Allah SWT. menghendaki keragaman (pluralitas) itu sebagai sunnatullah. Secara umum, pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan “mengakui” kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya. Munculnya pluralisme akibat reaksi dari tumbuhnya klaim kebenaran oleh masing-masing kelompok (agama) terhadap pemikirannya sendiri. Persoalan klaim kebenaran inilah yang dianggap sebagai pemicu lahirnya radikalisasi agama, perang dan penindasan atas nama agama. Konflik horisantal antar pemeluk agama hanya akan selesai jika masing- masing agama tidak menganggap bahwa ajaran agama meraka yang paling benar. Itulah tujuan akhir dari gerakan pluralisme untuk menghilangkan keyakinan akan klaim kebenaran agama. Berkaitan dengan pluralisme, sejatinya Islam sejak awal telah memperkenalkan prinsip-prinsip pluralisme, atau lebih tepatnya pengakuan terhadap pluralitas dalam kehidupan manusia. Pengakuan Islam terhadap adanya pluralitas itu dapat dielaborasi ke dalam dua perspektif; pertama teologis dan yang kedua sosiologis. Model pluralisme yang bersyaratkan komitmen yang kokoh terhadap agama masing-masing telah dicontohkan oleh Rasullah SAW, baik dalam kata maupun tindakan, sebagaimana teraktualisasi dalam mitsaq al-Madinah dan tata pengelolaan kepemimpinan masyarakat (negara) Madinah yang mengayomi heterogenitas suku, etnis dan pluralitas agama.
The religion practices in human life varies considerably in form and color.Firstly it is caused by the universal doctrine of religion and messages came from God, that earth in the human life is not present in a cultureless environment.The religion actually comes as the guide for creating a full regularity and harmonic life.Nevertheless, the presence of religion in the earth is not appearing in the same form such as variety of human itself. Those actually has blessing theologies- sociologies especially for efforts creating regularity cosmic, as Allah SWT gives those pluralities as sunnatullah.Commonly, pluralism can be understood as the concept that tolerance any variety of thought, civilization, religion, and culture.Not only tolerance with it, but also even “admitted” the truth of each comprehension.The emerges of plurality as a result of reaction from growing claim of truth by each group (religion) toward their selves thought. The problem of truth claim is considered as the trigger of religion radicalization, war and oppression in the name of religion. The horizontal conflict inter-believer will be finish if only each religion is not assumed that their religion precept is the true one. That was the last aim of pluralism movement to leave out believes of claim the truth religion.Related to the pluralism, the beginning of the truth Islam has introduced the principles of pluralism, or more precise the confession towards plurality in human life.Islam confession toward the existence plurality it can be elaborated into two perspectives; firstly is theology and secondly is sociological.The strong commitment which be requested by model of pluralism towards each religion has given example by Rasulullah SAW, within in word or action, as actualized in mitsaq al-Madinah and the society leadership management structure (nation) Madinah becomes the protector of heterogeneities tribal, ethnic and religion plurality.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-03-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/218</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 75-100</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 75-100</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/218/453</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/219</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:50Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">REGULASI MASYARAKAT MADANI DALAM BINGKAI PLURASLISME</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Buto, Zulfikar Ali</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Masyarakat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">madani</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluraslisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Society</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluralism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Perkembangan masyarakat yang terus mengalami kemajuan dalam berbagai hal, membuat masyarakat kehilangan kendali untuk menetralisir fenomena-fenomena dari dalam dan luar mereka sendiri. Efeknya masyarakat keluar dari norma, ketentuan, dan adat istiadat yang telah menjadi kebiasaan selama ini. Munculnya peristiwa anarkis, perpecahan, dan perang antar sesama menjadi kemelut masyarakat yang hingga kini sulit dicari jalan keluarnya. Untuk itu tulisan ini mencoba memberikan regulasi kehidupan masyarakat madani era modern. Masyarakat Madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta masyarakat yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Regulasi ini walau dalam konteks modern namun tetap berlandaskan norma-noma agama yang kental dengan masyarakat pribumi.
The society development which continues to progress in a variety of ways, has lead the society lost control in neutralizing phenomena from inside and outside of their own. This has brought about the effect in which the society is out of the rooted norms, conditions, and customs. The rise of the anarchist event, splits, and a war between the societies makes the way out hard to reach. To that end this paper tries to provide regulation of the life of civil society. Civil society is a civilized society, upholding human values, as well as the society forward in the mastery of science and technology. This regulation even in the context of modern but still based on the norms of the religion norms existing within the indigenous societies.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-03-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/219</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 101-114</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 101-114</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/219/454</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/223</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:50Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN KEBUDAYAAN MELAYU-ISLAM DI TENGAH ARUS GLOBAL</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sudin, Mokhtaridi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kebudayaan Melayu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan multikultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">era globalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Melayu culture</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">multicultural education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">defend</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalization era</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Era globalisasi telah membawa dampak negative terhadap suatu budaya lokal tertentu. Kecenderungan budaya global telah mengikis banyak kebijaksanaan lokal yang dipertahankan pada setiap tahun. Tulisan ini fokus&amp;nbsp; terhadap pentingnya pendidikan multicultural sebagai upaya untuk mempertahankan budaya nusantara Melayu hidup. Budaya Melayu itu sendiri sangat penting dalam pengertian yang mana memuat banyak nilai-nilai Islami didalamnya. Tulisan ini merupakan kajian pustaka yang mana faktanya telah dianalisa secara kualitatif. Hasil penemuan dari penelitian menunjukkan bahwasanya budaya Melayu seharusnya dipertahankan dengan memperkuat dasarnya dengan demikian akan bisa bersaing dengan budaya global.Seperti upaya yang seharusnya diperoleh melalui pemasukan konsep percaya diri dan penciptaan kebanggaan terhadap budaya lokal. Untuk hal ini, pendidikan multicultural untuk masyarakat melayu dibutuhkan pendidikan formal dan informal. Dan juga, upaya ini seharusnya didukung dengan peneliti-peneliti kebudayaan dan dengan adat istiadat lembaga. Hal ini akan lebih efektif ketika teknologi informasi modern dimanfaatkan secara baik.
The globalization has brought about a negative impact toward a certain local culture. The global culture trends have eroded much yearly preserved local wisdom. This writing focuses on the importance of multicultural education as an effort to keep the Malay Archipelago cultures alive. The Malay Archipelago culture itself is very important in the sense that it contains many Islamic values within. This writing is&amp;nbsp; a library research in which the data is analyzed qualitatively. The findings of the research show that the Malay Archipelago culture should be preserved by strengthening its foundation so that it can compete with the global culture. Such effort could be gained through inserting the self-confident concept and creating pride toward the local culture. For this,&amp;nbsp;&amp;nbsp; a multicultural education for the Malay society is needed both in formal and informal education. Also, this effort should be supported by the cultural observers and by the custom institution. It would be much more effective when the modern information technology is utilized as well.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-03-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/223</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 115-134</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 115-134</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/223/455</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/226</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:33:50Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">VISI  ZAKAT  PADA PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN ANAK</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Maulidia, Rahmah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Zakat.</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">hak asasi anak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Lembaga Zakat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Artikel ini membahas optimalisasi visi dan peran zakat sebagai penggerak pembangunan bangsa. Serta agen perubahan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, terutama dalam pemenuhan hak atas pendidikan bagi anak-anak. Di tengah-tengah masalah yang dialami anak-anak di Indonesia, dalam bentuk kekerasan fisik dan psikologis, putus sekolah, dan pelacuran anak, upaya serius telah dilakukan lembaga zakat di negara dengan serangkaian program pendidikan seperti beasiswa dan pembentukan sebuah sekolah gratis bagi anak- anak miskin. Langkah-langkah konkret selaras dengan pemikiran Gabriela Mistral, pemenang Nobel dan diplomat pendidik dari Chili, yang mengatakan bahwa besok sudah terlambat, hal yang paling penting bagi anak-anak saat ini. Hari tulang anak terbentuk, darahnya sedang dibuat, dan perasaannya sedang dibangun).
This article discusses the optimization of the vision and the role of zakat as a driving the development of the nation. As well as agents of change in the social, economic, educational, especially in the fulfillment of the right to education for children. In the midst of the problems that plagued children in Indonesia, in the form of physical and psychological violence, dropout, and child prostitution, serious attempts have been made by zakat institutions in the country with a series of education programs such as scholarships and the establishment of a free school for poor children. The concrete steps in tune with the thinking of Gabriela Mistral, Nobel laureate and diplomat educators from Chile, who said that tomorrow was too late, the most important thing for children is today. Today the child bone being formed, his blood is being made, and his feelings are being built.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2012-03-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/226</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 17 No. 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 135-154</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani; 135-154</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v17i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/226/456</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/387</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">MODEL INTEGRASI SAINS DAN AGAMA DALAM PERSPEKTIF J.F HAUGHT DAN M.GOLSHANI: LANDASAN FILOSOFIS BAGI PENGUATAN PTAI DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Thoyib, Muhammad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Integrasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sains</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pendidikan Tinggi Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Integration</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">science</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religion</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic Higher Education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Science</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">&amp;nbsp;
Tulisan ini menengahkan pemikiran dua tokoh kontemporer yang begitu intens mengkaji model integrasi sains dan agama, yaitu J.F Haught dan M. Golshani.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini penting dibahas dalam rangka memberikan sumbangan pemikiran untuk membuat tatan hubungan konstruktif antara sains dan agama. Tulisan ini berdasarkan penelitian pustaka. Dari pembahasan diketahui bahwa ketika meninjau model integrasi teologi evolusi (evolution theology) dan sains Islam (Islamic science) terlihat perbedaan yang sangat jelas dimana Haught menerapkan integrasi pada teori evolusi (hanya salah satu jenis sains) sedangkan Golshani mengambil ruang besar Islam sebagai fokus integrasi. Teologi di tangan Haught bersifat sangat adaptif, karena ia berpandangan bahwa teologi adalah bagian dari olah manusiawi yang selalu bergerak. Sehingga ketika teologi bertemu dengan evolusi sains lain maka dimungkinkan adanya perubahan.&amp;nbsp; Akan tetapi perubahan yang ditawarkan Haught dan Golshani tidak bergeser&amp;nbsp; dari ajaran substantif nilai-nilai agama. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan persoalan integrasi sains dan agama tersebut, pemikiran kedua tokoh tersebut dapat dijadikan sebagai landasan filosofis dan akademis dalam upaya penguatan eksistensi perguruan tinggi Islam (PTAI) di Indonesia, melalui: upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan agama secara integrative-subtantif di PTAI Indonesia yang seyogyanya sejak awal sudah dilandasi oleh nilai-nilai agama, sehingga agama akan menjadi ruh bagi konstruksi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan digali maupun dikembangkan oleh PTAI di Indonesia.To understand integration model of science and religion in detail, the research will be done by taking a part of John F. Haught and Mehdi Golshani view about: religion responds towards science, the basis of integration, and the model of integration. Haugth and Golshani respectively have given an enlightenment to make the integration of science and religion possible. On the integration model offered, Haught focuses more on the particular dimension of integration (related to certain scientific theory (theory of evolution) and certain religious dimensions (theology), where Golshani focuses more on the wider dimension of integration (related to science and religion in a wider meaning). Thus, the integration is an embodiment of the union between religion and science based on the perspective and inspired by the religious dimension. Based on the model offered, we can take values how to implement its balancely for empowering the existence of Islamic Higher Education (PTAI) in Indonesia for facing technology development in this globalization era, without forgetting its role as Islamic institution that has commitment to develop Islamic values in the civilization of the world.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/387</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 1-28</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 1-28</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/387/435</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/388</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ILMU FALAK: RELASI HARMONIS AGAMA DAN SAINS</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Maskufa, Maskufa</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">ilmu falak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ayat qauliyah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ayat kauniyah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Ilmu Falak merupakan relasi harmonis agama dan sains. Dikotomi agama dan sains adalah hasil dari imperialisme Barat dan kuatnya paradigma positifistik. Dikotomi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena di dalamnya memuat ajaran tentang ibadah yang sangat berkaitan dengan fenomena alam terutama yang menyangkut waktu-waktu ibadah seperti waktu salat, puasa Ramadan, salat &#039;idain dan ibadah haji. Beribadah tepat waktu yang ditandai dengan fenomena alam dan menjadi konsens dari ilmu Falak sebenarnya&amp;nbsp; menunjukkan adanya relasi yang harmonis antara ayat-ayat qauliyah dengan ayat kauniyah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; atau&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; antara&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; agama&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sains,&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sehingga&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; perlu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lagi mempertentangkan antara agama dan sains karena keduanya merupakan satu kesatuan yang berasal dari sumber yang sama yaitu Allah SWT.
&amp;nbsp;
Falaq study is harmonies relationship between religion and science. Nevertheless, this is not in line with an Islamic perspective. It contains such the worship times such as prayer time, fasting month, &#039;idain and pilgrimage. Performingworship in the right time or predetermine time (kitaban mauqutan), which is science by the nature phenomenon and has become a consensus within Falaq study, actually shows harmonies relationship between kauliyah verses and kauniyah verses or between religion and science.Thereforeit is not necessary to contras the religion and science as (because) both of them are one in the same entity coming from Allah SWT.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/388</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 29-48</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 29-48</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/388/436</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/389</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">GENEOLOGI TRADISI ILMIAH ASTRONOMI ISLAM: Studi Historis Perkembangan Astronomi Muslim Pada Abad Pertengahan</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Setiawan, Wahyu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Geologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">astronomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ilmu pengetahuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Geneology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">astronomy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">science</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Astronomi umumnya didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari gerakan bintang-bintang dan planet-planet. Ini sering dianggap salah satu ilmu pengetahuan Barat warisan ilmiah bangsa Yunani. Para astronom modern tidak tahu kritik yang dilancarkan oleh astronom Muslim, Ibnu Shatir, yang menyoroti sistem Ptolemy. Astronomi hanya mengenal teori yang dibangun Kepler dan Copernicus setelah runtuh batas-batas bumi teori tanpa mempertimbangkan teori Ibn Shatir yang justru merupakan teori pertama yang memetakan gerakan planet-planet di angkasa; sebuah teori yang diyakini milik dunia modern sebagai Kepler dan Copernicus. Artikel ini membahas akar astronomi Islam di abad pertengahan yang menandai kemajuan peradaban Islam selama kegelapan Barat. Pertengahan adalah zaman keemasan Islam yang menyumbangkan banyak teori- teori baru dalam literatur ilmu, termasuk astronomi. Artikel ini menunjukkan bahwa aktivitas astronomi yang dilakukan secara intensif dari awal abad ke-9 hingga abad ke-16. Kegiatan ini tercermin dalam jumlah besar ilmuwan yang bekerja di bidang astronomi praktis dan teoritis, jumlah buku-buku yang ditulis, observatorium aktif, dan pengamatan baru. Semua kegiatan ilmiah dimulai dengan terjemahan karya ilmiah fantastis non-Arabic. Kegiatan astronomi Islam dibagi menjadi dua utama aliran yaitu aliran astronomi-matematika di Timur&amp;nbsp; dan aliran astronomi-filsafat di kekhalifahan Islam di Barat.Astronomy is commonly defined as a science that studies the movements of the fixed stars and the planets. It is often perceived one of Western science as scientific heritage of Greek. Modern astronomers do not know the criticism made Moslem astronomical scientists, Ibn Shatir, who criticize Ptolemy System. Astronomy only knows the theory is built Kepler and Copernicus after collapsing geocentric theory confines without considering the theory of Ibn Shatir who first charted the movement of planets in space, the theory of which is believed to belong to the modern world as Kepler and Copernicus. This article attempts to reviewing the roots of Islamic astronomy in medieval times that mark the advance of Islamic civilization during the darkness of the West. Middle Ages was the golden age of Islam who donated a lot of new theories in science literatures, including astronomy. This article shows that the activity of astronomy widespread intensively from the beginning of the ninth century to the sixteenth century. This activity is reflected in the large number of scientists working in the field of&amp;nbsp; practical and theoretical astronomy, the number of books written, active observatory, and the new observations. All scientific activities began with the fantastic translation of non-Arabic scientific works. Islamic astronomical activities divided into two major schools, astronomical-mathematic school in the East and astronomical-philosophic schools in the Western Islamic caliphate.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/389</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 49-64</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 49-64</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/389/437</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/390</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PERAN INSIST (INSTITUTE FOR THE STUDY OF ISLAMIC THOUGHT AND CIVILIZATION) DALAM PENYEBARAN GAGASAN ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Firdaus, Robitul</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">INSISTS</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">islamisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ilmu pengetahuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Indonesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">islamization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">knowledge</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">
Tulisan ini bertujuan untuk menguji dan menyelidiki peran&amp;nbsp; Institut Studi Pemikiran dan Budaya Islam dalam menyebarkan dan melaksanakan pemikiran-pemikiran Islamisasi wawasan manusia di Indonesia dan mengamati model INSISTS dalam konteks Indonesia. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ide islamisasi wawasan manusia yang diterapkan dan disebarkan oleh INSIST sangat dipengaruhi oleh penjelasan filosofis Al-Attas tentang “Islamisasi” yaitu “dewesternisasi” atau “desekularisasi”. Untuk menyebarkan pemikirannya, INSISTS menggunakan beberapa media, yaitu (1) menerbitkan jurnal pemikiran Islam; (2) mengadakan seminar, training dan workshop tentang pandangan dunia Islam; (3) bekerjasama dengan Koran-koran harian seperti Republika; dan meluncurkan website resmi.The aim of this article is to examine and investigate the role of the Institute for the&amp;nbsp; Study of Islamic Thought and Civilization (the INSISTS) in marketting and implementing the idea of Islamization of human knowledge in Indonesia as well as to observe the model of the INSISTS‟ Islamization in the Indonesian context. As a result, it can be concluded that the idea&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; of Islamization of human knowledge implemented and promoted by the INSISTS largely be influenced&amp;nbsp;&amp;nbsp; by&amp;nbsp;&amp;nbsp; the&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al-Attas‟&amp;nbsp;&amp;nbsp; philosophical&amp;nbsp;&amp;nbsp; explanation&amp;nbsp;&amp;nbsp; of&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Islamization”,&amp;nbsp;&amp;nbsp; namely&amp;nbsp;&amp;nbsp; “de- westernization” or “de-secularization”. In order to spread its ideas, there are several media used by the INSISTS, namely (1) publishing journal on Islamic thought; (2) organizing seminar, training and workshop on Islamic Worldview; (3) collaboration with the daily newspaper, Republika; and (4) launching the official website.
</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/390</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 65-90</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 65-90</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/390/438</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/391</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KOSMOLOGI DAN SAINS DALAM ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Nurjanah, Siti</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kosmologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sains</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Al-Quran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Cosmology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">science</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Koran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Kosmologi sebagai ilmu yang membahas tentang alam semesta telah dijelaskan dalam Al-Qur‟an dengan berbagai penjelasan tentang gejala alam.&amp;nbsp; Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai melakukan pengamatan lebih rasional terhadap alam semesta. Astronomi berkembang, dari pengamatan bintang dan planet melebar ke studi struktur dan evolusi alam semesta. Lahirlah Kosmolgi, sains yang mencari pemahaman fundamental alam semesta. Tulisan ini membehas tentang kosmologi dan sains dalam perspektif Islam. Tulisan ini merupakan hasil telaah mendalam terhadap data kepustakaan yang kemudian dianalisa dan dideskripsikan. Hasil telaah menunjukkan bahwa kosmologi&amp;nbsp; dalam Islam berbicara bukan hanya satu tatanan kosmos yaitu tatanan fisik tetapi juga meliputi tatanan dunia lain yang non fisik. Dalam hal sains, secara mendasar, kaum muslimin dibimbing oleh ajaran-ajaran Wahyu. Kepercayaan pada kesatuan seluruh fenomena seperti yang ditunjukkan dalam Al-Quran, bersama dengan klasifikasi sains seperti filosofis, mendorong penelitian kosmologis yang secara keseluruhan, mencerminkan luasnya pendekatan. Pada satu sisi terdapat spekulasi metafisika dan mistis yang melampaui benda-benda yang dapat diungkap melalui pengamatan langsung atau pengujian rasional murni. Di sisi lain terdapat pengamatan astronomi langsung dan analisis tentang fenomena yang diamati.Kata kunci: Kosmologi, Sains, Al-Quran, dan Islam.Cosmology as a science examining the universe has been described in the Qur&#039;an through various explanations of natural phenomena. Along with the development of science, people started conducting a more rational observation of the universe. The astronomy itself develops, starting from star observations until the study of&amp;nbsp; the&amp;nbsp; structure and evolution of the universe. So was Cosmology born, a science searching for understanding the fundamental nature of the universe. This paper discusses about cosmology and science in the perspective of Islam. This paper is a result of a thorough examination of the library data which is then analysed and described. The results of the study show that Islamic Cosmology does not examines one order of the Cosmos which is the physical order but also includes other world order that is non physical. In terms of science, fundamentally, the Muslims led by the teachings of divine revelation. The belief in the unity of the whole phenomenon as demonstrated in the Al-Quran, together with&amp;nbsp; the classification of science as philosophical, support the cosmological research overall, reflecting&amp;nbsp; the&amp;nbsp; breadth&amp;nbsp; of&amp;nbsp; approaches.&amp;nbsp; On&amp;nbsp; the&amp;nbsp; one&amp;nbsp; hand&amp;nbsp; there&amp;nbsp; are speculations&amp;nbsp; of metaphysics and mystic that go beyond the objects which can be revealed through direct observation or pure rational testing. On the other hand there are direct astronomical observations and analysis of the observed phenomenon.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/391</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 109-122</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 109-122</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/391/440</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/392</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN: Analisis Komparatif Islam dan Barat</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Suryadilaga, M. Alfatih</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">ilmu pengetahuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sejarah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sumber</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">klasifikasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">knowledge</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">science</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">history</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sources</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">classification</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Catatan sejarah ilmu pengetahuan dapat ditelusuri dengan menghitung ribuan tahun sebelum masehi hingga saat ini. Kenyataan historis telah melahirkan konsep-konsep susunan yang luas tentang sifat ilmu pengetahuan. Meskipun di era modern ini, dunia Islam ketinggalan dibandingkan dengan dunia barat. Tetapi didalam historis, Islam telah hadir dengan membawa&amp;nbsp; revolusi yang sangat kuat. Islam tidak pernah&amp;nbsp; mengalami&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; masa keemasan dalam ilmu pengetahuan dan tekhlonologi sementara itu Barat pernah mengalami tentang masa kemunduran dan kegelapan. Dengan cara yang sama, sumber permasalahan dan pengklasifikasian pengetahuan. Hal ini dapat menambahkan semarak dari wacana ilmu pengetahuan di dunia Barat dan&amp;nbsp; Islam. Bagaimanapun, apakah yang telah dihasilkan oleh Barat semata-mata menghasilkan tradisi mereka sendiri? Bagaimanakah Islam memberikan kontribusi dalam hal tersebut? Tulisan ini berupaya untuk meninjau hal tersebut dengan perspektiv historis-sosial dan analisa isi.Recording the history of science can be traced back to thousands of years before Christ until now. Historical necessity gave birth to a wide range of concepts about the nature of science. Although in this modern era, the Islamic world behind compared with the West. But in historical, Islam came with a mighty revolution.&amp;nbsp; Islam&amp;nbsp; never experienced the golden age in science and technology while the West experienced a period of decline or darkness. Similarly, the issue of sources and classification of knowledge. It adds to the splendor of the discourse of science in the West and Islam. However, what the West produced is generated purely from their tradition alone? How Islamic contribution to it? This article attempts to review it with the socio-historical perspective and content analysis.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/392</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 123-150</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 123-150</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/392/441</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/393</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">Melacak Akar Tradisi Pemikiran Rasional Dalam Islam</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Walfajri, Walfajri</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Rasionalisme Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">rasionalisme Yunani</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Tata Bahasa Arab</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic rationalism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Greek rationalism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Arabic grammar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tradisi pemikiran rasional di dunia Islam ini mencapai puncaknya ketika terjadi interaksi secara intensif dengan pemikiran rasional (filsafat) Yunani melalui gerakan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Namun pemikiran filsafat Yunani itu tidak serta merta diterima begitu saja oleh tokoh-tokoh intelektual muslim, melainkan ia mendapat penolakan dan kritik dari tokoh-tokoh intelektual muslim tersebut. Demikian pula halnya dengan para filosof muslim, mereka tidak begitu saja mengadopsi pemikiran filsafat Yunani, melainkan pemikiran filsafat tersebut mereka kembangkan lebih lanjut sehingga tidak dapat dikatakan sama persis atau bahkan jiplakan dari pemikiran filsafat Yunani. Sejak awal periode perkembangan peradaban Islam, umat Islam telah memiliki tradisi pemikiran rasional. Tradisi pemikiran rasional tersebut bermula dari pemikiran mengenai persoalan bahasa Arab (nahwu-sharf) dalam rangka mengatasi permasalahan membaca al-quran dan memahami maknanya secara benar. Kajian- kajian bahasa Arab ini kemudian mendorong munculnya pemikiran-pemikiran rasional di dunia Islam pada bidang-bidang kajian lainnya terutama fiqh, tafsir, dan kalam.The tradition of rationalism in the Islamic world reached its peak during the intensive interaction with Greek rationalism (philosophy) through the translation movement of Greek works into Arabic. So, Greek philosophy had given great contributions for Islamic philosophy growth. However, Greek philosophy was not necessarily taken for granted by Muslim intellectuals, but it got some rejections and criticism from such Muslim intellectuals. Similarly, Muslim philosophers, they did not simply adopt the ideas of Greek philosophy, but they developed their own philosophical thoughts. Furthermore, unlike Greek&amp;nbsp; rationalism which is based on pure reason (secular), Islamic rationalism is the integration between the divine revelation and the reason. So, it can not be said exactly that Islamic rationalism (philosophy) is the same as or even a replica of Greek philosophy. Since the beginning of the development of Islamic civilization, Muslims have had a tradition of rationalism. The tradition of Islamic rationalism has its root in the thought of Arabic grammar (Nahwu-Sharf) in order to overcome problems of reading the Holy Qur&#039;an and understanding its meaning properly. Arabic studies then encouraged the emergence of rational thought in the Islamic world on other object studies, especially Islamic Jurisprudence, Interpretation of the Quran, and Theology.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/393</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 151-166</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 151-166</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/393/442</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/394</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:33Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KAJIAN PSIKOLOGI DALAM DISKURSUS PEMIKIRAN MUSLIM KONTEMPORER</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Abidin, Zainal</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Turats</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">modernitas.</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">psikologi islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">psikologi islami</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">modernity</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">islamic psychology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">psychology of Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini membahas contoh-contoh pengembangan penelitian psikologi di dalam wacana muslim kontemporer. Ada dua cara dalam mengembangkan penelitianpsikologi didunia Islam. Pertama, berdasarkan tradisi Islam itu sendiri, dinamakanturats, dan yang kedua dimulai dari modernitas (hadatsah).&amp;nbsp; Penelitian psikologi berdasarkan turats biasanya disebut pengembangan psikologiIslami dari pengetahuan Islam seperti filsafat Islam dan sufi. Sementara itu, penelitian psikologi dimulai dari modernitas, disebut sebagai psikologi Islam, dikembangkan dari psikologiBarat dengan mencoba nilai ke-Islaman. Diantara keduanya, penelitian psikologiyang bersumber dari tradisi Islam mempunyai nilai yang istimewa. Dalam pembahasan ini, untuk mempelajari psikologi dari tradisi filsafat Islam ialah suatu carayang baik meliputi banyak haldalam mengembangkan penelitian psikologi. Sebenarnya, percakapan intensif antara tradisi Islam dan penelitian&amp;nbsp; psikologimodern akan sangat membantu dalam menemukan intisari dari psikologi Islami.This paper discusses the models of developing the psychology studies in Islamic muslim contemporary discourse. Here, mentioned that there are two ways in developing&amp;nbsp; psychology studies in Islamic world. Firstly, it is based on the tradition of Islam itself, named turats, and secondly, started from modernity (hadâtsah). Psychology studies that based on the turats usually called Islamic psychology developed from the Islamic knowledge such as Islamic philosophy and Sufism. While, psychology studies that started from modernity, called as the psychology of Islam, developed from the western psychology that fitted with the Islamic value. Between both of them, psychology studies that come from Islamic tradition has extra value. Here, to study psychology from the tradition of Islamic philosophy is a good way in developing psychology studies more comprehensive. Actually, the intensive dialogue between the tradition of Islam and modern psychology studies will very helpful in finding the essence of Islamic psychology.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-03-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/394</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 91-108</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 1 (2013): Integrasi Islam dan Sains; 91-108</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/394/439</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/395</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ETIKA SOSIAL DALAM ISLAM: TINJAUAN ATAS RELASI NABI DENGAN PIHAK NON-MUSLIM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Widagdo, Haidi Hajar</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Relasi sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Non-Muslim</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Perdamaian Universal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">social relation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">universal peace</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Hubungan sosial merupakan kebutuhan dasar manusia, manusia mungkin tidak dapat meniadakan interaksi mereka dengan manusia lain. Sayangnya realitas menunjukkan bahwa beberapa orang, ketika membangun hubungan, lupa bahwa ada perbedaan antara mereka, tetapi perbedaan adalah sesuatu yang mustahil dihilangkan dan dalam membangun hubungan sosial, toleransi diperlukan untuk mempertahankan perdamaian dan kebahagiaan secara sistematik. Islam melalui Muhammad Saw telah memberikan contoh nyata. Ia membangun kerjasama dan memperlakukan semua orang baik dengan Yahudi, Muslim atau Kristen; dengan perlakuan yang sama tanpa diskriminasi, perdamaian universal akhirnya dapat diwujudkan pada saat itu. Dalam perkembangannya, perdamaian universal mulai memudar, terulangnya diskriminasi berdasarkan agama dan kepercayaan. Sekarang, semua Muslim di dunia memiliki kewajiban sama untuk mencapai dan mempertahankan perdamaian universal yang sebelumnya telah dicapai.Social relations is a basic need of all human beings, human beings cannot possibly negate their interactions with other humans. Unfortunately the reality of some people when building a relationship they forget that there are differences between them, but the difference is something impossible is eliminated and in building social relationships, tolerance is necessary in order to maintain peace and happiness with the system. Islam through Muhammad has given a real example. He built a degree of cooperation and treat everyone well with Jewish, Muslim or Christian;, with equal treatment without discrimination slightly, so that at the&amp;nbsp; end of universal peace is created at that time. In its development, universal peace began to fade, the recurrence of discrimination based on religion and belief. Now, all Muslims in the world have the same obligation to achieve and maintain universal peace that has previously been achieved.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-23</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/395</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 167-186</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 167-186</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/395/443</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/396</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PESAN DAMAI AL-GHAZALI; SEBUAH KONSEP KAFIR DAN MUKMIN DALAM PERSPEKTIF TASAWUF AKHLAQI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Tohir, Umar Faruq</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">al-Ghazali</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kafir</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Mukmin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Akhlaq</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Pengkafiran terhadap orang lain yang berbeda pemahaman kerap kali terjadi akhir-akhir ini. Seseorang biasanya tetap menuduh kâfir seorang mu&#039;min meski dia masih melaksanakan sholat, puasa dan zakat. Mengkafirkan orang seharusnya sesuai dengan syarî&#039;ah. Syarî&#039;ah hanya membolehkan pengkafiran terhadap orang yang telah benar- benar keluar dari Islam, tidak mengakui Allah sebagai Tuhan, menolak Muhammad sebagai utusan-Nya, dan tentunya, menolak ajaran-ajarannya. Tulisan ini membahas tentang konsep kafir dan mukmin dalam perspektif tasawuf al-Ghazali. Paparan dalam tulisan ini merupakan hasil penelitian pustaka yang bersifat deskriptif. Dari hasil penelitian disimpulkan mengenai pemikiran al-Ghazali mengenai konsep kafir dan mukmin. Menurut al-Ghazali, orang yang menuduh kâfir seseorang tanpa bukti bahwa seseorang tersebut telah menolak ajaran Nabi Muhammad, sejatinya, adalah kâfir. Model pengkafiran ini juga terjadi pada masa al-Ghazali, di mana banyak ulama mengkafirkan lawan ideologinya hanya karena perbedaan pendapat. Dalam komunitas majemuk, melalui konsep tashawwuf akhlâkî, al-Ghazali menyarankan mu&#039;min untuk menghargai semua orang kâfir, namun demikian, al-Ghzali juga melarang mu&#039;min untuk&amp;nbsp; menjadi kâfir, karena menurutnya, kufr dapat menghambat proses tazkiyah al-nafs. Berangkat dari perbincangan-perbincangan ini, al-Ghazali telah merumuskan lima kriteria kualitas seseorang, mu&#039;min atau kâfir, yaitu al-wujûd al-dzâtî, al-wujûd al-hissî, al-wujûd al-khayâlî, al- wujûd al-&#039;aqlî, dan al-wujûd al-syibhî.&amp;nbsp;
Accusing someone with a different understanding as a kâfir happens frequently nowdays. The people use to accuse mu&#039;min as a kâfir event he still does praying, fasting, and zkat (charity). Stereotyping people as a kâfir should be in line with the syarî&#039;ah. Syarî&#039;ah merely allows stereotyping people as a kâfir who really out of Islam, rejects Allah as his God, refuses Muhammad as His prophet, and of course, ignores his (Muhammad) taught. Accusing someone as a kâfir&amp;nbsp; which merely based on contradictory view is not permitted by the syarî&#039;ah. So, people who accuses someone infidel without proving of his ignoring to Muhammad&#039;s taught, in fact, is a kâfir, according to al-Ghazali&#039;s view. This kind of accusing people as a kâfir, also happened in the al- Ghazali&#039;s era, where so many Ulama accuse their ideological opponents as a kâfir just because of their difference in a certain understanding. Imam Hanbali ever accused Imam Asy&#039;ari as a kâfir because Imam Asy&#039;ari ignored Muhammad&#039;s taught in term of Allah&#039;s residence in arsy. Also, Imam Asy&#039;ari ever accused Imam Hanbali as a kâfir because of his ignoring Muhammad&#039;s taught in term of no Allah&#039;s allies. In the plural community, al-Ghazali trough his tashawwuf akhlâkî concept, suggested mu&#039;min to honor all kâfir, even al-Ghzali also prohibited mu&#039;min to be kâfir, because in his opinion, kufr has blocked tazkiyah al-nafs process. Based on those discourses, al- Ghazali has formulated five criteria of people quality, whether mu&#039;min or kâfir. Those five criteria are al-wujûd al-dzâtî, al-wujûd al-hissî, al-wujûd al-khayâlî, al-wujûd al-&#039;aqlî, dan al-wujûd al- syibhî. So, a believer (mu&#039;min) should not accuse people as a kâfir easily. People should respect another people who have different understanding and faith, over tolerance. Accusing people as a kâfir is permitted merely for real kâfir who really ignores Muhammad&#039;s taught.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/396</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 187-208</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 187-208</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/396/444</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/397</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KRITIK TERHADAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN HIZBUT TAHRIR INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Zuhdi, M. Nurdin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">HTI</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluralisme agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">negara islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">jihad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">penafsiran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">klaim kebenaran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluralism of religion</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">State of islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">interpretation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">claims of truth</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Salah satu sindikasi gerakan pemikiran keislaman adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hal yang istimewa dari gerakan ini adalah pandangan Islamnya yang berbeda. Gerakan ini mewakili pandangan Islam garis inklusif-revivalis. Gagasan yang ditawarkan adalah isu-isu tentang syariat Islam, Negara Islam, menolak ide kebebasan beragama, menentang sistem negara sekuler, menentang kebebasan berpikir, serta&amp;nbsp; menghidupkan kembali spirit “keberanian berjihad”. Gerakan ini mendukung penerapan syariat Islam secara keseluruhan dalam sendi kehidupan masyarakat. Sehingga kelemahannya yang muncul adalah produk penafsiran teks eksegetik yang cenderung linier-otomistic dalam menafsirkan teks al-Qur‟an dan mengabaikan kontektualisasi teks. Ciri-ciri model peahaman terhadap teks al-Qur‟an gerakan kaum revivalis yaitu suatu pemahaman terhadap teks al-Qur‟an yang murni. Dalam arti pemahaman terhadap al-Qur‟an yang murni yang mereka maksudkan adalah pemahaman al-Qur‟an yang kembali kepada karakter ideologis yang statis, ahistoris, sangat inklusif, tekstualis dan bias patriarkis. Padahal teks (al-Qur‟an) haruslah dipahami sesui dengan konteksnya agar teks dapat berbicara. Dengan demikian prinsip al-Qur‟an yang shalih li kulli zaman wa makan&amp;nbsp; dapat terbukti.One of the Islamic thought movement in Indonesia is Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). A special case of this is the view of the Islamic movement. This movement represents an inclusive view of Islamic-revivalist. Ideas offered are issues of Islamic jurisprudence, Islamic countries, rejecting the idea of religious freedom, against the secular State system, against the freedom of thought, as well as reviving the spirit of the &quot;courage of the Jihad&quot;. This movement supports the application of Islamic Sharia law on the whole life of the community in the joint. So the weakness that emerged was a product of the interpretation of the text exegetic which is inclined to be linear otomistic in interpreting the text of the Qur&#039;an and ignoring the contextualization&amp;nbsp; of text. The features of the understanding models toward the text of the Qur&#039;an possessed by the revivalist movement is that the understanding of the text of the Qur&#039;an purely. In the sense of understanding of the Qur&#039;an purely, they refer to the static ideological character of the understanding of the Qur&#039;an, ahistoris, very inclusive, textual and patriarchy bias. Whereas texts (the Qur&#039;an) should be understood in line with the context so that the text can talk. Thus the notion stating that Qur&#039;an is compatible for all ages and places can be proven.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/397</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 209-234</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 209-234</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/397/445</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/398</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">FIKIH TASAMUH: MEMBANGUN KEMBALI WAJAH ISLAM YANG TOLERAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sunaryo, Agus</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Inklusif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">toleran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tasamuh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">fikih</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">intoleran</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Pola keberagamaan yang terbuka dan toleran pada dasarnya merupakan salah satu karakter dari ajaran Islam yang bersifat universal. Keterbukaan dan&amp;nbsp; toleransi ini merupakan ajaran yang tidak hanya berlaku&amp;nbsp; pada masa&amp;nbsp; tertentu atau suatu tempat saja, melainkan melampaui keduanya. Namun demikian, fakta sejarah telah menyadarkan kita bahwa pernah terjadi proses pemasungan (penyempitan) universalitas ajaran Islam, sehingga karakter ajaran yang semula inklusif-toleran berubah menjadi apriori-diskriminatif. Bahkan di tangan beberapa orang ajaran tersebut telah diramu menjadi doktrin agama yang eksklusif– intoleran. Artikel ini akan mengurai persoalan tersebut dan menawarkan upaya pembacaan ulang terhadap doktrin agama yang tidak relevan dengan semangat Islam rahmatan lil al-alamin.The opened and tolerant pattern of religiousity is basically one of the characteritics of universal Islamic teachings. The openness and tolerance are tenets that are not only prevalent to a certain time and place, but also they are passing beyond both. However, the historical fact has brought us that there has been a constriction process in the universality of Islamic teaching. So that, the characteristic of Islamic teaching has changed from inclusive-tolerance to a priory-discriminative. Moreover, to certain people, this Islamic teaching has been turned into an exclusive-intolerance religious doctrine. This article elaborates the issue and offers a concept rereading the religious doctrine that is not relevance to the spirit of universality of Islam (rahmatan li al-&#039;alamin).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/398</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 235-254</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 235-254</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/398/446</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/399</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ARGUMENTASI MAKNA JIHAD DALAM AL-QURAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF MASYARAKAT KOSMOPOLITAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Widayat, Prabowo Adi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Jihad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Absolutism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">cosmopolitan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">civilization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">absolutisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Jihad merupakan ajaran hanīf yang dimiliki umat Islam, keberadaannya menjadi sebuah doktrin atau ajaran sendiri ditengah-tengah masyarakat luas, terma jihad telah mengalami penetrasi disegala bidang termasuk kajian keagamaan pun memposisikan jihad sebagai&amp;nbsp; wujud usaha meningkat kualitas beragama berupa implementasi pemikiran keagaamaan dalam konteks keilmuan, peradaban, dan kebudayaan. Dewasa ini terma jihad mengalami distorrsi pemaknaan secara aplikatif, hal ini menjadi sebuah bencana pemikiran keagamaan dikalangan umat Islam. Kejumudan pemikiran dan absolutisme terhadap sebuah gagasan dari kelompok tertentu mengakibatkan dispalitas makna jihad tersebut sehingga mengakibatkan tindakan radikalisme berbasis ajaran jihad. Masyarakat&amp;nbsp; kosmopolitan&amp;nbsp; sebagai masyarakat yang moderat, egaliter, dan berbudaya, mampu menjadi sebuah wacana produktif untuk mengkonsep makna jihad yang proporsional, akomodatif, dan komunikatif dalam segala bidang serta berkontribusi positif untuk memajukan peradaban umat yang majemuk, karena dalam masyarakat kosmopolitan masing-masing anggota komunitas memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyikapi perbedaan kontekstual untuk mencukupi kebutuhannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jihad is a hanīf belonging to the teachings of Islam, its existence became a doctrine or teaching itself among the public at large, term of jihad has experienced penetration in every field including religious studies was positioned as a manifestation of jihad efforts increased the quality of the implementation of the religious thought of religion in the context of scientific knowledge, civilization, and culture. These terma have distorrsi the definition of jihad in applicative, it is becoming a disastrous religious thought among Muslims, rigidity of thought and the absolutism of a notion of certain groups result in dispalitas the meaning of jihad is resulting in acts radicalism based teachings of jihad. A cosmopolitan society as a moderate society, egalitarian, and cultured, capable of being a productive discourse to conceptualize the meaning of jihad is proportional, accommodating, and communicative in all areas as well as to contribute positively to advance civilization of the compounds, as in&amp;nbsp; the cosmopolitan society of each member of the community has a high ability in addressing differences contextual to fullfill his needs in everyday</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/399</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 255-276</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 255-276</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/399/447</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/400</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">STUDI KRITIS TERHADAP FATWA MEJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG ALIRAN AHMADIYAH DAN KEBIJAKAN NEGARA DALAM PENYELESAIAN KASUS AHMADIYAH</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Wibowo, Ari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Fatwa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">MUI</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">dampak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kebijakan negara</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">hak minoritas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">impact</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">state policy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">minority rights</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Menyikapi respon dan perlakuan sebagain masyarakat terhadap perkembangan jamaah Ahmadiyah di Indonesia Majelis Ulama Indonesia (MUI mengeluarkan fatwa tentang aliran Ahmadiyah. Bagi Majelis Ulama Indonesia sendiri, gerakan Ahmadiyah tanpa terkecuali menyimpang dari ajaran Islam yang seharusnya. Akan tetapi, dalam menyikapi hal ini kita harus memiliki paradigma yang holistik, tidak hanya melihatnya dari satu sisi tapi juga dari sisi lain yang bisa jadi memiliki pemahaman yang berbeda. Tulisan ini mengupas tentang metode dampak keluarnya fatwa MUI No: 11 Munas VII MUI/15/2005 tentang Ahmadiyah di Inondesia serta kebijakan Negara dalam menjamin keyakinan warga negara menurut agama yang dipeluknya terkait dengan kasus Ahmadiya. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang bersifat&amp;nbsp; kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan dengan cara wawancara dan&amp;nbsp; dokumentasi kemudian dianalisis dengan cara content analisys (analisis isi). Sementara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologis. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam fatwa tentang Ahmadiyah ini, secara metodologi MUI tidak menggunakan prosedur hierarki sumber hukum Islam dengan praktik yang baik. Dalam fatwa ini, MUI menganalisa suatu masalah menggunakan pendekatan bayani dan istislahi. Dampak fatwa ini ini kepada masyarakat dapat dibagi dalam dua kelompok. Pertama, dampak positif berupa terhentinya kebingungan masyarakat tentang posisi ulama ahlussunnah wal jamaah (MUI) dalam masalah Ahmadiyah dan fatwa ini juga mengurangi lahirnya perpecahan dalam tubuh Islam, Kedua, dampak negatif berupa pengekangan kebebasan berpikir masyarakat. Kebijakan negara dalam kasus Ahmadiyah yang menyetujui fatwa MUI yang mengategorikan&amp;nbsp; aliran&amp;nbsp; Ahmadiyah sebagai aliran sest. Pemerintah cenderung bersikap setengah hati dalam menyelesaikan kasus Ahmadiyah. Secara umum, fakta ini memberikan&amp;nbsp; gambaran bahwa perlindungan pemerintah terhadap kelompok minoritas masih sangat minim.Addressing response and treatment of the community toward the development of the Ahmadiyya Jamaat in Indonesia, the Indonesia Ulema Council (MUI) issued a fatwa about the Ahmadiyya. For the Assembly of scholars of Indonesia itself, the Ahmadiyya movement without exception strayed from the teachings of Islam should be. However, in addressing this we must have a holistic paradigm, not only looking at it from one side, but also from the other side that it could be a different insight. This paper focuses itself on the impact of the fatwa of the MUI No: 11 the Congress VII MUI/15/2005 about the Ahmadiyya in Inondesia as well as State policy in ensuring the confidence of citizens according to the religion they believe related to the case of Ahmadiya. This paper is the result of field research qualitative descriptive nature. The Data collected by means of interviews and the documentation is then analyzed by means of a content analisys. While the approach used is a sociological approach. From the results of the study it was concluded that the fatwa about Ahmadiyah, a methodology does not use the MUI resource hierarchy procedure of Islamic law with good practice. In this fatwa, the MUI analyze an issue using the approach and istislahi bayani. The impact of this bull to the community can be divided into two groups. First, the positive impact of the suspension of the confusion about the position of Ahl al- Sunnah wal Jamaat ulema (MUI) in the Ahmadiyya issue fatwas and this also reduces the birth of the Islamic body, split in two, the negative impact of curbing freedom of thought. State policy in the case of Ahmadiyah, which approves the MUI that categorize the Ahmadiyya as flow sest. The Government is likely to be half-hearted in resolving the case of Ahmadiyah. In General, this fact gives an overview that Government protection against minority groups is still&amp;nbsp; questionable.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/400</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 277-302</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 277-302</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/400/448</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/401</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">MEMBANGUN SEMANGAT KEHARMONISAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Kurniawan, Akhmad Syarief</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kerukunan umat beragama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluralitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">keharmonisan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">dialog antar agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">plurality</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">harmony</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">interfaith dialogue</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Indonesia sebagai negara yang multikultur dan multietnis serta keyakinan, di satu sisi menjadi rahmah dan di sisi yang lain menjadi tantangan. Keanekaragaman suku dan terlebih keyakinan menjadikan konflik horizontal sangat mudah terjadi. Tulisan ini memaparkan tentang pentingnya kerukunan umat beragama. Pemaparan dalam tulisan ini berdasarkan analisa dari data pustaka dengan model deskriptif. Dari hasil pembahasan dpata diperoleh simpulan bahwa kerukunan umat merupakan kebutuhan manusia. Kerukunan umat beragama ini dapat tercapai dengan efektif dengan cara melakukan dialog antaragama secara intens. Dengan adanya dialog dan komunikasi yang baik, perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerjasama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan&amp;nbsp; umat&amp;nbsp; manusia. Penerimaan Islam akan kerjasama itu, tentunya akan dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar agama
The tolerance among different believers is a necessity in Indonesia.Because, this country has been multicultural. As the successors of the country, we must respect the harmony within the relationship among the different religions Indonesia regardless the majority or minority status.The religion plurality in Indonesia, which is populated Muslim majority, obtains much critical attention from foreign observers.While certain domestic society are still unsatisfied toward religion life in Indonesia, the foreign observers begin to examine the dialogue model and the tolerance among different believers in Indonesia as an alternative way that should be developed.The different belief does not restrict and forbid collaboration between Islam and other religions, especially in relating the important of human being.The Islam acceptances of collaboration, it will be certainly applied in the life practice, when there any dialogue inter religious.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/401</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 303-314</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 303-314</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/401/449</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/402</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:34:55Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Juandi, Juandi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Dialog</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pluralitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">toleransi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ekslusifitas agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kerjasama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Dialogue</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">plurality</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tolerance</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religious exclusivity</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">cooperation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Persoalan mendasar dalam kerukunan umat beragama adalah ketidaksamaan pandangan dalam memahami keyakinan agama lain. Tolak ukur kebenaran agama “orang lain” didasari pada agama kita bukan agama “orang lain”&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; sendiri.&amp;nbsp; Islam,&amp;nbsp; dalam pengertian yang sesungguhnya, memberi peluang keselamatan bagi keyakinan lain, sehingga kerukunan beragama bisa direalisasikan. Namun, dalam pengertian khusus, Islam hanya membuka peluang dialog pada level sosial, tidak dalam&amp;nbsp; level ritual. Dengan demikian, peluang menjalin kerukunan umat beragama dalam Islam masih sangat mungkin dilakukan.One of the fundamental issues in religious harmony is inequality in view of understanding the beliefs of other religions. These benchmarks religious truth &quot;others&quot; based on our religion is not a religion &quot;others&quot; itself. Islam, in a real sense, provide an opportunity for the safety of other&amp;nbsp; faiths, so that religious harmony can be realized. However, in a special sense, Islam is only open opportunities of social dialogue at the level, not the level of ritual. Thus, the opportunity to establish religious harmony in Islam is still very possible</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2013-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/402</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 18 No. 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 315-330</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 18 No 2 (2013): Islam dan Kerukunan Umat; 315-330</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v18i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/402/450</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/403</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">REVITALISASI KEPEMIMPINAN PROFETIK</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Safri, Arif Nuh</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kepemimpinan profetik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">peradaban iqra</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">dilektika agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Prophetic leadership</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">iqra civilization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religion dialectic</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Kepemimpinan profetik pada peradaban modern ini, masih menjadi sesuatu yang urgen dan signifikan untuk dikaji dan kemudian diaplikasikan kembali. Keberhasilan Nabi Muhammad saw. dalam membangun peradaban dan transformasi sosial di semenanjung Arabia menjadi sebuah kegemilangan luar biasa, tidak hanya di mata kalangan orang-orang Islam, namun juga di mata kalangan orang-orang non muslim. Dalam artikel ini, penulis melihat setidaknya ada dua hal besar yang dilakukan oleh Rasul dalam membangun peradaban, yaitu peradaban iqra yang dimulai sejak wahyu pertama turun, dan dialektika agama yang dilakukan sejak di Madinah yang termaktub dalam Piagam Madinah. Selanjutnya, kedudukan manusia sebagai khalifah secara nilai sudah saatnya kembali menghayati dua aspek yang dibangun oleh Rasul 14 abad yang lalu. Sehingga tercipta khalifah atau wakil Tuhan yang bebas dari taklid buta dan mistik, serta mampu menghadapi realitas perubahan sosial dengan menciptakan peradaban dialogis dan dialektis.
Prophetic leadership in modern civilization, is still something urgent and significant to be studied and than to be contextualized. Prophet Muhammad’s success in building civilization and social transformation in the Arabian Peninsula into an extraordinary glories, not only in the eyes of the muslims, but also in the eyes of the non-muslims. In this article, the writer saw at least two of the great things done by the apostle in building a civilization namely that iqra civilization first which started since the very first revelation, and religious dialectic which was rooted in Charter of Medina. Furthermore, the position of caliph in humans as it was time to re-live the values of the two aspects introduced by the apostle 14 centuries ago. So as to create caliphs or representatives of God that are free from blind obedience and mystique, and able to face the reality of social change by creating a communicative and dialectical culture.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/403</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 1-17</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 1-17</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/403/411</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/404</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KEPEMIMPINAN PROFETIK: REKONSTRUKSI MODEL KEPEMIMPINAN BERKARAKTER KEINDONESIAAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Widayat, Prabowo Adi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kepemimpinan profetik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">karakter</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">keindonesiaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Prophetic leadership</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">character</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Indonesian’s Perspective</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Pemimpin dan kepemimpinan merupakan dualisme sistematis yang terbentuk melalui mekanisme aturan yang dibentuk oleh suatu kelompok, institusi, dan lembaga. Pemimpin seperti yang kita pahami merupakan sosok manusia yang diberi wewenang oleh suatu kelompok, institusi, atau lembaga untuk memimpin, mengelola, memotivasi atau mempengaruhi, dan merancang suatu sistem bersama sekelompok orang yang dipimpinnya untuk mengoptimalisasikan peran institusi atau lembaga bagi kemaslahatan bersama atau masyarakat. Dalam konteks kekinian pemimpin dapat dinisbahkan kepada seseorang yang mempunyai kapabilitas internal dalam hal emosional dan spiritual, dan eksternal dalam hal kepekaan sosial, budaya, dan pemahaman akan pluralitas suatu bangsa dan negara. kepemimpinan profetik merupakan kemampuan mengendalikan diri dan mempengaruhi orang lain dengan tulus untuk mencapai tujuan bersama sebagaimana dilakukan oleh para nabi, dengan pencapaian kepemimpinan berdasarkan empat macam yakni, sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Kepemimpinan profetik perspektif keindonesiaan hendaknya harus didasarkan pada nilai-nilai patriotisme, nasionalisme, dan khazanah budaya nusantara yang dimanifestasikan dalam suku, agama, ras, dan antar golongan.Leader and leadership are the systematic dualism formed through the mechanism of the rules set up by a group of agencies and institutions. Leader as we understand is the human figure that was authorized by a group, and the institution to lead, manage, motivate or influence, and design a system with a group of his men to enhance the role of the institution for the benefit of the community. In nowadays context, the leader can be ascribed to a person who has the internal capabilities in terms of emotional and spiritual, and externally in terms of social, cultural sensitivity and an understanding of the plurality of the nation and the state. Prophetic leadership is the ability to control himselves and influence people with passion to achieve common goals, as performed by the prophets, with the achievement of leadership based on four different among others; sidiq, amanah, talbligh, and fathonah. As for the prophetic leadership of Indonesia’s perspective should be based on the values of patriotism, nationalism, and cultural treasures of the archipelago which is manifested in the ethnicity, religion, race, and class.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/404</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 18-34</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 18-34</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/404/412</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/405</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Zuhdi, Muhammad Harfin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kepemimpinan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">cita-keadilan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kemashlatan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Leadership</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">justice goal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">utility</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Diskursus tentang kepemimpinan dan masalah pemimpin merupakan suatu yang tidak pernah sepi dari perbincangan dari waktu ke waktu. Tidak terkecuali masa lalu, saat ini dan masa akan datang, pembicaraan mengenai pemimpin banyak dibahas dan dianalisa dari berbagai sudut pandang yang bermacam- macam. Semuanya tergantung dari sisi mana seseorang memandang dan mengulas masalah pemimpin dalam suatu obyek kajiannya. Bila pemimpin dikaji dalam perspektif politik akan melahirkan pandangan yang berbeda bila dikaji dalam perspektif ekonomi. Begitu juga bila pemimpin dibahas menggunakan kacamatan idiologi kapitalis akan sangat berbeda dengan sosialis. Artikel ini mencoba melakukan kajian pemimpin dalam perspektif Islam,dengan mengelaborasi ayat- ayat al-Qur’an secara tematik. karena ajaran Islam harus menjadi bagian sangat penting dan strategis untuk dimunculkan. Karena dari sanalah cita-cita keadilan, kemashlahatan dan kebenaran akan ditegakkan. Tentu semuanya mengacu kepada patokan syari’at agar terhindar dari kepentingan nafsu perorangan, kelompok, maupun isme-isme lainnya yang dapat membuat lemahnya komitmen seorang pemimpin dalam memperjuangan kebenaran dan keadilan dalam rangka mewujudkan kemashlahatan masyarakat yang dipimpinnya.The discourse on the issues of leadership and leader has been challenging from time to time. It was discussed in the past, and is discussing today, and will be discussed in the future from various perspectives. Different perspective results in different judgment. When it is seen from politic perspective, the result would be different from that of economy perspective. The same is true when it is examined through capitalism ideology that would be different from that of social ideology. This writing examines the issue of leadership from Islamic perspective by ellaborating the verses within the holy Koran thematically since Islamic teachings should be important and strategic for the discussion. The holy Koran is the source of goal, justice, utility, and truth. The shari’ah concept should be the standard of the leader in order for him not to be occupied by negative desires or ideologies.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/405</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 35-57</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 35-57</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/405/413</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/406</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">SIMBOLISME DAN ESSENSIALISME KEPEMIMPINAN: KAJIAN FIKIH SIYASAH TENTANG SOSOK PEMIMPIN IDEAL MENURUT ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sunaryo, Agus</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Ideal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pemimpin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">politik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">simbolis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">esensialis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Setiap masyarakat pasti mendambakan lahirnya sosok pemimpin yang ideal untuk menjalankan roda pemerintahan. Sebab, hanya melalui pemimpin yang ideal, harapan dan cita-cita hidup berbangsa dan bernegara bisa terwujud. Namun demikian, mencari seseorang yang diyakini ideal untuk memimpin, bukanlah persoalan mudah. Dalam konteks Islam, perjalanan sejarah politik negara-negara Islam atau negara-negara dengan penduduk muslim mayoritas, terbukti belum mampu mewujudkan suatu pemerintahan yang benar-benar berhasil untuk membawa masyarakatnya menjadi masyarakat yang maju, damai dan sejahtera. Yang ada justeru masyarakat Barat, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mampu menguasai peradaban di zaman sekarang dan memposisikan Islam dengan segala peradabannya di zona periferi peradaban masyarakat modern. Artikel ini akan membahas diskursus kepemimpinan Ideal menurut Islam. Fokus kajian akan diarahkan untuk menganalisa konstruksi pemikiran yang cenderung simbolis dalam menetapkan kriteria ideal bagi seorang pemimpin. Demikian pula konstruksi pemikiran yang lebih esensialis tentang kepemimpinan juga akan dibahas dalam artikel ini.
Every society looks forward to having an ideal leader to run the country. It is through the ideal leader that the society’s dreams and hopes will come true. Nevertheless, such kind of leader is very rare. It has not been found yet within the history of moslem majority countries, such leader who can bring his society into a civilized, peaceful, and prosperous. On the contrary, Western countries could make it in that it puts the moslem countries into a periferi position within modern civilization context. This writing deals with the discourse on the ideal leader seen from Islam perspective. It analizes the thought construction which tends to be very symbolic related to the criteria of an ideal leader. It also adresses the more essential thought construction pertaining to leadership.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/406</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 58-74</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 58-74</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/406/414</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/407</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">RESONANSI PEMIKIRAN PEMIMPIN ISLAM SYI’AH DALAM DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA: STUDI TENTANG SMA PLUS MUTAHHARI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Irwansyah, Dedi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam Syi’ah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Muthahhari</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Fadlullah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Jalaluddin Rakhmat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Shi’ah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tindakan kekerasan atas Islam Syi’ah di Indonesia menunjukkan adanya gab komunikasi antarmazhab yang perlu direspon melalui ragam pendekatan termasuk pendekatan pendidikan. Tulisan ini menunjukkan bahwa ranah pendidikan merupakan pintu masuk yang relevan untuk saling mengenal dan mempersempit gab yang dimaksud. Dalam banyak hal, pendidikan Islam Syi’ah telah mengalami kemajuan signifikan sejak zaman Morteza Muthahhari di Iran terutama melalui perubahan radikal pada filosofi pendidikan yang menghilangkan polarisasi ilmu agama dan ilmu modern. Revolusi pendidikan tersebut menguat melalui pemikiran dan kiprah Muhammad Husain Fadlullah di Libanon. Peran Fadlullah sebagai seorang marja’ membuat pemikirannya dalam bidang sosial, politik, dan pendidikan, beresonansi hingga ke Indonesia. Resonansi pemikiran tersebut terlihat jelas pada kiprah Jalaluddin Rakhmat dalam memimpin pendirian Yayasan Muthahhari yang salah satu visinya adalah untuk mempromosikan komunikasi antarmazhab di Indonesia. Yayasan tersebut juga bergerak dalam bidang pendidikan terutama melalui SMA Plus Muthahhari di Bandung. Pencapaian SMA Plus Muthahhari yang sangat gemilang dan telah mendapat pengakuan dari pihak swasta dan pemerintah, menunjukkan keunggulan filosofi pendidikan Islam Syi’ah. Resonansi pemikiran pemimimpin Islam Syi’ah dan manifestasinya dalam dunia pendidikan di Indonesia, selain berpengaruh positif terhadap dunia pendidikan di Indonesia, tampaknya juga akan mampu mempersempit gab komunikasi antarmazhab di Indonesia sehingga perbedaan mazhab akan dapat dipandang sebagai dinamika dalam kehidupan keberagamaan di Indonesia yang pluralis.The violence act toward the Shi’a followers in Indonesia indicates a gab in term of communication among the different Islamic school of thoughts (mazhab). Such gab is in need of urgent response from various approaches including education approach. This article shows that education is a relevant entry point to bridge those different Islamic school of thoughts and to narrow down the existing gab. To many extents, Shi’a has experienced remarkable progress in education field particularly since Morteza Muthahhari’s era in Iran through the change of educational philosophy which breaks such polarization of religion knowledge and modern science. Such revolution of education was strengthened by the works and thoughts of Muhammad Husain Fadlullah in Lebanon. Fadlullah was a marja’ whose sayings and thoughts on social, political, and educational matters, resonates and reaches Indonesia. His thought resonance is clearly seen in Jalaluddin Rakhmat’s playing important role in establishing Muthahhari Foundation in which one of its mission is to promote effective communication among the Islamic school of thoughts in Indonesia. The foundation also focuses on education field particularly through the establishment of SMA Plus Muthharari in Bandung. Some remarkable achievement of SMA Plus Muthahhari, besides being acknowledged by reputable institutions both private and state, show the superiority of Shi’ah educational philosophy implementation in Indonesia. The thought resonance among Shi’a leaders and its manifestation in Indonesia not only brings positive fresh air to Indonesia educational context but also carries hope for the betterment of communication among the Islamic school of thoughts so that the differences existing within the schools would be seen as a dynamic of religion life in the pluralistic Indonesia</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/407</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 75-89</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 75-89</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/407/415</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/408</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DINAMIKA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DALAM KEPEMIMPINAN KESULTANAN YOGYAKARTA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Rachman, Arief Aulia</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kerukunan Umat Beragama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kesultanan Yogyakarta</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">RUUK Daerah Istimewa Yogyakarta</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">interfaith harmony</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">the royal of Yogyakarta</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">legal draft of Yogyakarta law</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang mempunyai hubungan kuat dengan sistem kepemimpinan kerajaan lokal. Keberadaan Yogyakarta selalu dihubungkan dengan peran kharismatik dari dua raja lokal yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono dan Sri Paduka Paku Alam. Sejarah menyebutkan bahwa kedua pemimpin lokal tersebut sangat memengaruhi kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sebab itu, kepemimpinan keduanya sebagai raja daerah bukan saja menunjukkan kearifan lokal tetapi juga berpengaruh terhadap kepemimpinan dalam pemerintahan yaitu sebagai gubernur dan wakil gubernur. Selain itu, Keraton Yogyakarta mempunyai nilai-nilai sakral yang sangat kuat karena raja lokal itu dan menjadi pusat peradaban masyarakat Yogyakarta. Demikian juga, Yogyakarta mempunyai karakteristik tersendiri sebagai salah satu Daerah Istimewa di Indonesia. Karakteristik itu menunjukkan keistimewaan Yogyakarta dari sisi tradisi dan kepemimpinan lokal yang bersifat patron-klien. Regulasi keistimewaan Yogyakarta itu juga berpengaruh terhadap dinamika kehidupan beragama masyarakat Yogyakarta yang berbentuk penerimaan terhadap pluralitas.
Yogyakarta is one of the provinces that has a strong correlation with local royal system. The existence of Yogyakarta is always associated with the charismatic roles of the two local kings namely Sri Sultan Hamengkubuwono and Sri Paduka Paku Alam. Historically, both the local kings have major influence on the struggle of the Yogyakarta people. Therefore, the leadership of both the kings as head and deputy cover not only the issue of tradition but also affects the formal leadership of the governor and deputy governor of Yogyakarta. In addition, Kraton Yogyakarta has a sacred value which is very strong because it is the king’s residence of Yogyakarta and also becomes civilization and the struggle symbols of the Yogyakarta people. Thus, Yogyakarta has certain characteristics as one of the areas in Indonesia than other regions. That characteristic has became the privilege elements of Yogyakarta on tradition and local leadership that has patron- klien character. Regulation of the status of that privilege is also affecting the various dynamics of religious life that occurred in the life of the Yogyakarta people with their acceptance of plurality understanding.
&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/408</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 90-116</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 90-116</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/408/416</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/409</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KEPEMIMPINAN SPIRITUAL MENURUT M. QURAISH SHIHAB</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Tusriyanto, Tusriyanto</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Konsep</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemimpin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Spiritual</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Concept</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">leader</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">spiritial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Seorang pemimpin mempunyai posisi yang sangat sentral dalam membuat kehidupan menjadi lebih baik, yaitu melalui aturan-aturan dan kebijakan-kebijakan yang dibuat serta komitmen terhadap aturan dan kebijakan tersebut. Realita yang ada dalam kehidupan sehari-hari para pemimpin bangsa ini belum memperlihatkan sikap Islami. Pemimpin kita yang seharusnya memberikan tauladan, perlindungan dan kesejahteraan bagi masyarakat, tetapi justru sebaliknya sebagian mereka korup dan tindakan-tindakannya jauh dari aturan-aturan Islam. Kajian ini bertujuan memberikan acuan dalam memilih seorang pemimpin ideal yang membawa kemajuan dan perubahan lebih baik bagi masyarakat. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah library research dengan sumber primer berupa buku “Membumikan Al-Qur’an Jilid 2 (Memfungsikan Wahyu Dalam Kehidupan). Menurut M. Quraish Shihab, seorang pemimpin harus dapat membawa kemajuan dan perubahan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Dalam konteks kepemimpinan spiritual, seorang pemimpin harus memenuhi syarat, yaitu As-Shiddiq, Al-Amanah, Al-Fathanah dan Tabligh, selanjutnya seorang pemimpin juga harus memiliki sikap adil baik terhadap diri sendiri, masyarakat yang dipimpinnya terlebih terhadap Allah karena kepada-Nya nanti akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak.A leader has a very central position in making life better, namely through the rules and policies made and a commitment to the implementation of the rules and policies. Existing reality in the daily lives of this nation’s leaders have not shown an Islamic attitude. Our leaders are supposed to provide role models, protection and welfare for the people, but quite the contrary most of them corrupt and behave against the rules of Islam. This study aims to provide a reference in selecting an ideal leader who brings progress and change for the better of society. The method used in this paper is a research library with a primary sources book “Membumikan Al-Qur’an Jilid 2 (Memfungsikan Wahyu Dalam Kehidupan). According to M. Quraish Shihab, a leader must be able to bring progress and change for the people he leads. In the context of spiritual leadership, a leader must be qualified, is As-Siddiq, Al-Amanah, Al-fathanah and Tabligh, then a leader must also have a fairly good attitude about himself, the people they lead first to God for him later will be accounted for in later hereafter.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/409</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 117-134</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 117-134</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/409/417</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/410</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">MEMBANGUN INTEGRITAS DAN KARAKTER KEPEMIMPINAN LOKAL SEBAGAI PILAR KEPEMIMPINAN  NASIONAL</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Haikal, Husain</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Citra</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">karya</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kepemimpinan lokal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Image</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">work</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">local leadership</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar saat ini telah mengalami berbagai permasalahan dalam berbagai dimensi. Mulai dari politik, sosial, pendidikan, ekonomi, hukum dan berbagai persoalan lainnya. Permasalahan- permasalahan tersebut tentunya harus segera diselesaikan, agar masyarakat bisa mencapai kesejahteraan yang berkeadilan. Pada dasarnya semua komponen masyarakat bertanggung jawab untuk ikut serta dalam penyelesaian berbagai masalah yang melanda bangsa Indonesia, akan tetapi, sosok yang paling bertanggung jawab dan harus berperan aktif adalah pemimpin bangsa. Namun, pergantian dan suksesi kepemimpinan bangsa seolah tidak mengurangi permasalahan tersebut. Tulisan ini bermaksud mengupas tentang penguatan dan pembangunan integritas dan karakter pemimpin local dalam rangka memperkuat kepemimpinan nasional. Tulisan ini menampilkan beberapa contoh kepimpinan local yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan di daerah. Tulisan ini disusun berdasarkan data kepustakaan dengan pendekatan historis-sosiologis. Berdasarkan pamaparan dalam tulisan dapat disimpulkan bahwa Jelaslah ada beragam kepemimpinan lokal dan kepemimpinan non-formal dengan kekhasan masing-masing dan amat sulit untuk dipahami secara sepotong demi sepotong dari kiprah seorang pemimpin. Dalam keberagaman kepemimpinan, masing-masing akan berhasil apabila mampu mengkaji, menghayati, dan mengamalkan ajaran Tuhan dan tuntunan rasul.Indonesia is now facing many serious problems in politics, social, education, economics, law, fields. Those problems are to be solved immediately in order for the Indonesian people live prosperously and fairly. As a matter of fact, all elements within the society are responsible for finding out the way out of the existing problems. Nevertheless, a leader is supposed to be the most liable person for the solution of the problems. Some succession of the leader within Indonesian context seems not to reduce the problems. This article is aimed at depicting the strengthening and building efforts of the local leader’s characters that will lead to the strengthening of national leadership. This writing also shows some cases of local leadership who apparently dealt with local problems successfully. This writing is organized in line with the library data and analyzed through historical and sociological perspectives. The results of the analysis show that a variety of local leaderships and non-formal leadership are not always easy to understand when they are viewed partially. All of the leaders have their own characters which lead to a common ground in that any leadership would be successful when they examine, digest, and implement spiritual values coming from God and messengers.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/410</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 135-151</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 135-151</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/410/418</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/411</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">TEOLOGI LINGKUNGAN RANGGAWARSITA: KAJIAN TERHADAP TEKS-TEKS ZAMAN EDAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Iswanto, Agus</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Teologi lingkungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Ranggawarsita</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Zaman Edan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kearifan Islam Jawa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kajian teks</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">AbstrakTulisan ini menyajikan pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, pujangga Jawa di Keraton Sukararta. Tulisan ini berdasarkan pada studi teks-teks Zaman Edan. Teks-teks ini adalah sebuah karya terjemahan dari beberapa puisi, yang mencakup Serat Kalathida, Serat Sabda Jati, Serat Sabdatama, Serat Jaka Lodhang dan Serat Wedharage, yang diterjemahkan dan diedit oleh Ahmad Norma dalam buku yang diberi judul Zaman Edan. Studi ini memberikan kontribusi bagi wacana teologi lingkungan dari seorang pemikir budaya lokal. Pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, yang ditafsirkan dari teks-teks tersebut, dapat dimasukan dalam pandangan “kekerabatan manusia dengan alam” atau yang juga disebut dengan “deep ecology.” Dalam pandangan ini, kelestarian lingkungan dan bencana akan selalu dikaitkan dengan hubungan antara manusia sebagai ‘hamba’ dan ‘khalifah’ dengan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta. Konsep teologi lingkungan Ranggawarsita menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal Jawa dengan ajaran-ajaran Islam. Hal ini dimungkinkan karena konteks sosial-budaya, yakni Ranggawarsita sebagai santri sekaligus juga sebagai priyayi Jawa.
&amp;nbsp;
This article presents eco-theology thought of Ranggawarsita, the poet of Surakarta Javanese keraton (palace). This article based on the study of Zaman Edan texts. These texts is translation work from some poetry text, include Serat Kalatidha, Serat Sabda Jati, Serat Sabdatama, Serat Jaka Lodhang, dan Serat Wedharage, which translated and edited by Ahmad Norma in the book of Zaman Edan. This study gives a contribution for eco-theology discourse from local cultural thinker. Eco-theology thought of Ranggawarsita, which interpreted from Zaman Edan texts, can be included in the view of “human kinship with all creatures” or which may be called deep ecology. In this view, environmental sustainability and disasters will always be associated with the relationship between man as servant and caliph with God as the Creator and the universe. The concept of eco- theology’s Ranggawarsita combine the values of Javanese local wisdom with Islamic teachings. It is possible with socio-cultural context, ie, Ranggawarsita as a santri as well as Javanese priyayi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/411</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 185-200</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 185-200</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/411/423</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/412</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">Islam Vis A Vis Orang Rimba: Studi Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup Orang Rimba Dalam Seloko Pesemian</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Muzakki, Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Orang rimba</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">seloko</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan lingkungan hidup</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Rimba ethnic group</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">environmental education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Artikel ini mendeskripsikan tentang konsep pendidikan lingkungan hidup Orang Rimba yang berada di Rombong Sungai Kedundung Muda Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi. Ketertarikan penulisan artikel ini muncul karena katagori pelestarian alam atau lingkungan hidup menjadi salah satu tema besar dalam ajaran Islam. Allah sangat membenci dan tidak menyukai kerusakan yang berujung pada kebinasahan dan kepunahan. Pada satu sisi, Orang Rimba tidak memiliki hubungan relegiusitas yang inten terhadap ajaran Islam. Namun, mereka tidak hanya sekadar sadar akan pentingnya lingkungan hidup, bahkan mereka menjadi praktisi dan “penjaga gawang” dalam memelihara alam atau lingkungan hidup. Mereka juga memiliki konsep dan tips dalam memelihara hutan beserta sumber daya alam yang terkandung didalamnya. Ada banyak nilai dan pendidikan yang dapat dipetik dan dijadikan pembelajaran dari aktivitas hidup dan kehidupan Orang Rimba untuk kemudian diinternalisasikan.This article deals with the concept of environmental education of Rimba ethnic group living around Rombong river Kedundung Muda of national park of Bukit Duabelas Jambi. Such discussion on environmental education is believed to be one of the crucial issues of Islamic doctrine. Allah prohibits all destructive efforts leading to devastation and extinction. In one hand, the Rimba ethnic group do not have religious relationship with the Islamic doctrine. On the other hand, they consciously maintain and preserve the nature fully-hearted. They also possess a well-established concept and tips of how to preserve the forest as well as the natural resources within. There has been a plenty of valuable educational lessons from their practices. Such lessons are to be internalized beyond the Rimba ethnic group.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/412</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 201-222</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 201-222</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/412/424</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/413</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">REKONSTRUKSI PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP MELALUI PENDEKATAN RELIGIUS</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Angkupi, Prima</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Lingkungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">penegakan hukum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religius</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Environment</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">law enforcement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religious</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Kerusakan lingkungan merupakan suatu proses yang tidak dapat dihindari, karena manusia hidup berinteraksi dengan alam dan lingkungannya. Sehingga, ikhtiar untuk mengendalikan dampak kerusakan lingkungan tersebut menjadi upaya yang harus selalu diperjuangkan. Penegakan hukum lingkungan hidup secara total enforcement oleh hukum pidana substantive tidak mungkin dilakukan oleh para penegak hukum, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup, karena tidak menyentuh akar penyebab kejahatan lingkungan. Tulisan ini mengeksplorasi penegakan hukum lingkungan dengan pendekatan religius. Kajian dalam tulisan ini berdasarkan penelitian kepustakaan dengan pendekatan yuridis normatif. Berdasarkan kajian tersebut, dapat diimpulkan bahwa sebagai bangsa yang religius, penyertaan peran agama dalam penegakan hukum Perlu diberikan ruang yang seluas-luasnya. Penegakan hukum yang selama ini ada cenderung mengabaikan keterkaitan ilmu hukum pidana dengan ilmu ketuhanan berimplikasi kepada terpuruknya keberhasilan penegakan hukum lingkungan. Upaya pencegahan kejahatan lingkungan hidup merupakan bentuk penanggulangan yang efektif, dengan menggunakan pendekatan religius dapat memperbaiki kesadaran masyarakat dan perilaku masyarakat yang taat hukum.&amp;nbsp;
This paper is discussing about the damage of ecology as an unavoidable process since human life will always interact with his/her environment and nature. Thus, the initiative to control the damage of ecology becomes the essential effort that must be struggled. The law enforcement on ecology thoroughly supported by the subtantive criminal codes which may not be undertaken individually by the law enforcer, especially when it relates to the ecology, as it does not touch the substantive causes of ecological crime. As a religious nation, the attaching role of religion in law enforcement need wide space. The implementation of law enforcement in the real life tends to ignore the law of crime toward theology which implicates to the declining enforcement of ecological law. The preventive effort toward the ecological crimes will be effective when it includes the religiuos approachment in it, and by implementing the religious approachment, it may improve the social awarnerss and the social obidient of law.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/413</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 223-240</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 223-240</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/413/426</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/414</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Zulaikha, Siti</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Pengelolaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">perlindungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ekologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">undang-undang</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">hukum Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Management</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">protection</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ecology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">legal aspects</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">law</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic law</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Masalah lingkungan adalah berbicara tentang kelangsungan hidup (manusia dan alam). Melestarikan lingkungan sama maknanya dengan menjamin kelangsungan hidup manusia dan segala yang ada di alam dan sekitarnya. Pelestarian lingkungan hidup merupakan upaya sistematis dan terpadu yang harus dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup seperti perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Tulisan ini bermaksud mengelaborasi pelestarian lingkungan dari sudut pandang hukum Islam dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya pengembangan wawasan keilmuan dan memberikan pemahaman terhadap masyarakat akan arti penting melestarikan ekologi untuk kebrlangsungan ekologi secara keseluruhan. Secara keseluruhan, tulisan ini akan mengurai tentang aspek hukum atas pelestarian lingkungan hidup, yang menitikberatkan pada kajian eksploratif; yaitu mengurai secara lengkap tentang pelestarian lingkungan hidup dilihat dari dua aspek yakni hukum Islam dan aspek yuridis (undang-undang). Data tulisan ini adalah data kepustakaan yang berkaitan pelestarian lingkungan, baik dalam perspektif hukum Islam maupun hukum positif. Pendekaan yang digunakan dalah pendekatan normative-empiris Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif hukum positif ditegaskan bahwapelestarian lingkungan hidup diadopsi dalam asas tanggung jawab negara. Negara menjamin hak warga Negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Sementara dalam perspektif hukum Islam terdapat konsep-konsep pelestarian lingkungan hidup yang bertitik tolak dari landasan teoritis fiqh, yaitu teori ushul al-fiqh yang sudah direvitalisasi, yang menuntut manusia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.Environmental issue deals with life sustainability of human and nature. Preserving the environment means keeping the life sustainability of human and nature. Environmental preservation is a systematic and integrated effort to maintain the function of the environment as well as to prevent its contamination and damage. This could be reached through a good planning, utilization, controlling, maintaining, preserving, supervising, and penalization. This writing elaborates the discussion of environmental preservation viewed from Islamic jurisprudence and Indonesian legal system. This writing also aims at increasing the insight and understanding in order to preserve the ecology holistically. Above all, this writing provides the legal aspect of environmental preservation emphasizing the explorative study. That is to explore the environmental preservation from twoperspectives namely Islamic jurisprudence and legal law. This writing is a library research in nature. The approach used is emprical-normative one. The result of the researh shows that positive legal law states that the govenrment is responsible for the environmental preservation. The state assures the right of every citizen to have a good and healthy environment. Consequently, everyone has to preserve the environment and control its contamination and damage. Moreover, Islamic jurisprudence also calls for the revitalization and preservation of the environment.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/414</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 241-263</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 241-263</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/414/427</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/415</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">MODAL SOSIAL DAN KOMUNITAS AGAMA SEBAGAI PENDUKUNG INSTRUMEN HUKUM DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA METRO</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Tisnanta, H S</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Wahab, Oki Hajiansyah</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Setyawan, Dharma</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Modal sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">komunitas agama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">peraturan daerah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social capital</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">religious communities</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">regulation of regional</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini mengajukan argumentasi bahwa modal sosial masyarakat, partisipasi komunitas-komunitas agama di suatu wilayah merupakan salah satu faktor pendukung bekerjanya instrumen hukum dan kebijakan. Tulisan ini mengambil studi di Kota Metro yang mayoritas masyarakatnya adalah suku Jawa dan juga memiliki beragam pemeluk agama. Filosofi hidup Rumongso Melu Handarbeni yang diyakini oleh masyarakat Jawa dalam prakteknya ikut mendukung berbagai program Pemerintah Kota Metro. Di sisi lain keberadaan berbagai komunitas agama yang ada di Kota Metro sesungguhnya memiliki potesi yang besar dalam mendukung Kota Metro yang berwawasan lingkungan. Agama dengan ajaran tentang kepedulian lingkungan akan dapat menjembatani proses bertemunya modal sosial dan kebijakan pemerintah dalam mengatasi permasalahan lingkungan khususnya sampah di Kota Metro. Agama Islam dan Kristen dapat menjadi prototype dalam membangun kesadaran lingkungan antarpemeluknya. Pada konteks inilah usaha Pemerintah Kota Metro dalam membentuk sebuah produk hukum daerah sebaiknya memperhatikan modal sosial masyarakat. Hal ini harapanya akan mampu mendukung proses transformasi Kota Metro menuju Kota yang berwawasan lingkungan.This article discribes about social capital behold, the participate of religion communities in the region is one of the supporting factor to operation of legal instruments and the policy.This paper a study in Metro when the major of Javanese and also has a variety of faiths. The Philosophy of life RumongsoMelu handarbeni believed with Javanese to supporting the various programs of Metro’s Government. Therefore, the existence of the religion communities in Metro actually has a great potention to be support of Metro’s environmentally concept. Religion with theory about environmental concerns will be able to bridge the convergence of social capital and government policies to superintend environmental issues specially of waste in Metro. Islam and Christianity can be a prototype to build environmental awareness among its adherents. In this context, the Metros’ Government efforts to arrange a legal product should be attention the community’s social capital. It can be to support the process of transformation Metro City of environmentally concept.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/415</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 264-286</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 264-286</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/415/429</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/416</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">NILAI ISLAM DALAM UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP: Stusi Kasus Penangulangan Pencemaran Sungai Musi oleh Pertamina Refinery Unit III Plaju, Palembang</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Amnawaty, Amnawaty</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Konsep Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pre-emtif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">preventif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">represif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">rehabilatatif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic concept</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">preventive</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">repressive</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">rehabilitative</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Berdasarkan Hasil penelitian tahun 1996 sampai dengan 1998 diketahui telah terjadi 54 kali tumpahan kecil di bawah 15 barel dan satu kali tumpahan besar di atas 500 barel. Sumber tumpahan 99% berasal dari oil cathcer/separator sisanya 1% dari lain-lain. Jenis tumpahan minyak tersebut adalah minyak hitam. Penelitian ini berusaha menelisik upaya-upaya Pertamina Refinery Unit III Plaju, Palembang) terhadap pencemaran lingkungan akibat tumapahan minyak. Kemudian upaya tersebut direlevansikan dengan nilai-nilai Islam dalam pelestarian lingkungan. Penelitian ini pada dasarnya adalah penelitian lapangan yang sumber datanya adalah dari lapangan, namun ada pengayaan data melalui dokumentasi, khusunya terkait dengan kajian keislaman dalam pelestarian lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sistem penanggulangan pencemaran lingkungan adalah sistem Non Penal. Non Penal yang menitik beratkan pada upaya-upaya Pre–emtif, Preventif, Represif dan Rehabilitatif (NP=P2R2). Penanggulangan yang dilakukan oleh Pertamina Refinery Unit III Plaju Palembang adalah yang dilakukan adalah Penanggulangan Tanpa Pidana (PTP). Ditinjau dari konsep Islam maka dapat diketahui bahwa Pertamina Refinery Unit III Plaju telah melakukan penanggulangan yang bersifat tidak merusak alam atau sungai Musi di Plaju, Palembang.&amp;nbsp;
A researach from 1996 to 1998 shows that there had been 54 small spillage less than 15 barrels and one big spillage bigger than 500 barrels. The source of the 99% spillage was the oil cathcer/ separator, and the rest 1% is from the other source. The spilled oil was categorized as black oil. This research investigates the responses of Pertamina Refinery Unit III Plaju Palembang in dealing with the environment contamination caused by the spilled oil. Such responses are viewed from islamic concepts on environment maintenance. This field research is enriched by related documentation particularly the one related to islamic concept of the environment maintenance. The result of the research shows that non penal system was used to deal with the environment contamination. The non penal system emphasizes the pre-emtive, preventive, repressive, and rehabilitative responses (NP=P2R2). The responses conducted by Pertamina Refinary Unit III Plaju Palembang belongs to tackling without punishment. Viewed from islamic perspective, Pertamina Refinary Unit III Plaju Palembang had established the efforts which did not destroy the nature and the river existing in Plaju Palembang.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/416</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 287-303</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 287-303</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/416/430</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local`</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/417</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KONSERVASI ALAM DALAM PERSPEKTIF ETIKA ISLAM: TANTANGAN DAN TUNTUTAN GLOBALISASI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Aziz, Abd.</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">eco-sufism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Conservation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ecology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">environmental fiqh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Konservasi alam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ekologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">fiqh lingkungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">eko-sufisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian, keseimbangan dan keindahan alam. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energi harus menjadi slogan dalam kehidupan. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain. Namun demikian, realitanya, banyak orang yang justru merusak alam, menebang hutan secara liar, melakukan penambangan yang tidak terukur, melakukan pengeboran minyak bumi tanpa analisis mengenai dampak lingkungan, dan beberapa tingkah merusak alam yang lain. Setelah melakukan pembahasan terhadap problematika tersebut melalui pendekatan etika lingkungan; Antroposentrisme, Biosentrisme, Ekosentrisme, Eko-feminisme, artikel ini menemukan bahwa salah satu penyebab perusakan alam tersebut adalah karena faktor paradigma transendental yang tidak lagi menganggap bahwa melestarikan lingkungan juga dianjurkan bahkan diwajibkan oleh agama Islam. Melalui tiga paradigma konservasi alam; eko-teologi, fiqh lingkungan, dan eko-sufisme, dalam memanfaatkan alam, manusia harus menyeimbangkan tiga porsi amanahnya; al-intifâ’, al-i’tibâr,dan al-ishlâh. Tiga etika Lingkungan tersebut tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.
As a part of environment, human should keep the perpetuation, the balance, and the beauty of nature. A careful use of the limited natural resources must be a slogan in daily life. The environment is not provided only for human, but also for other creatures. Factually, many people destroy universe by illegal logging, free mining, uncontrolled drilling, of course, without any analysis of its damage impact to the environment. After discussing these problems through an approachment of environment ethics; Anthroposentrism, Biocentrism, Ecocentrism, Eco-feminism, this articel found that the cause of the damage of this universe is a transcendental paradigm factor assumed that conservation was notemphasized by Islam. Through these conservational paradigm; ecology, environmental fiqh, and eco-sufism, in term of universe utilization, people should balance three aspects; al-intifâ’, al-i’tibâr, dan al-ishlâh. These three environment ethics not only investigate the way of people behavior to universe, but also maintain the relation among creatures in this universe, between people and people, people and all other creatures.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/417</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 304-321</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 304-321</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/417/431</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/418</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KOSMOLOGI DAN URGENSI SPIRITUALITAS</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Sukman, Sukman</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Trilogi Kosmos</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Analagi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Nilai Spiritualitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Cosmos Trilogy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Analogy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Spiritual</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Para filosuf dan sarjana telah banyak memberikan perhatian serius tentang keberadaannya. Kajian mereka tentang manusia tidak pernah tuntas. Manusia menurut sebagian mereka, ilmuan hanya dikaji secara instrument dan terbatas dalam mengkaji manusia, dan belum ke dalam substansi pokoknya. Kajian tentang manusia selalu menarik. Al-Qur’an jauh sebelumnya telah menjelaskan pandangan umum tentang manusia. Tidak hanya secara matrial semata, tetapi secara spiritual. Para ulama (baca: cendikiawan Muslim) tidak hanya melihat dunia natural sebagaimana dipermukaan (baca: pada zahiriahnya), tetapi ada hubungan dan analogi positif antara tiga dunia (kosmos). Para kosmolog Muslim telah menciptakan teori relasi antar mikro kosmos, makro kosmos, dan metta kosmos. Para nabi dan rasul (orang-orang suci) telah mencoba menemukan rahasia jawabannya dalam kita suci Al-Qur’an dan Hadis nabi. Dalam kajiannya, mereka menemukan bahwa al-Quran menekankan pentingnya alam sebagai fenomena natural yang mempunyai hubungan erat dengan Allah sebagai pemiliknya. Oleh sebab itu, manusia harus melakukan observasi (baca: pengamatan mendalam) dan mempelajari gejala-gejala yang terjadi dalam relasi tersebut. Mereka menemukan makna sempurna dalam ketiga hubungan tersebut. Untuk menemukan makna Tuhan (baca: Allah) tidak perlu jauh, memahami Tuhan cukup dengan memahami diri sendiri serta alam semesta tempat berada. Artikel ini menjelaskan tiga serangkai antara hubungan manusia, alam semesta dan Tuhan sebagai pencipta hakiki.
The mans is comprehensively. Whether from the fhilsuf or scholars said that essentially of human have more paid attention. Yet, the attention is always unsuccess. Human is only capable to complete his essential for the instrument’s limit and not for the substansial. So, discouse with human always be interest. Al-Qur’an have explore the worldview, not only about material world, but also spiritual world. The Leaders of religion, not see the world naturally but there are many analogies and allegories relationship. Cosmologist Muslim, create theories that differentiate three worlds, they are, macro cosmos, micro cosmos and metta cosmos. The holly peoples of Mulsim have tried to find the secret behind of the Qur’an and Hadist texts. They try to find the meaning along with the central role of human being in their correlation. Qur’an emphasizes various natural phenomena as signs from Allah that must be observed and studied, so they find the dept wisdom in their life. Their Thoughts are never far from traces of Allah and to find the wisest way to get closer to Allah.Keywords: Cosmos Trilogy, Analogy and Spiritual.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/418</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 322-343</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 322-343</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/418/432</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/419</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">MEMPERTANYAKAN PERAN ULAMA DALAM PENANGGULANGAN KABUT ASAP DAN PERUBAHAN EKONOMI  TRADISI  MASYARAKAT JAMBI AKIBAT INDUSTRI BIOFUEL</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Aziz, Arfan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kabut asap</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">biofuel</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">degradasi lingkungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ulama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Jambi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Haze</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">biofuels</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">environmental degradation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Pertanian kelapa sawit industri yang berorientasi untuk mengganti bahan bakar fosil semakin dinamis di Jambi. Masyarakat agraris perlahan beralih kepada pertanian komoditas kelapa sawit. Namun, kabut asap yang terjadi hampir setiap tahun menjadi salah satu dampak dari semakin luasnya perkebunan kelapa sawit tersebut. Melalui tinjauan pustaka dan kajian empiris penulis, dengan teknik wawancara dan observasi, untuk mendalami sebab-sebab konflik agraria di Jambi pada 2011 dan 2012, serta pemerhatian lapangan terhadap peristiwa kabut asap pada 2014, tulisan ini menguraikan dapatan kajian bahwa kabut asap dan transisi ekonomi tradisi adalah akibat kehadiran industri perkebunan kelapa sawit berorientasi bahan bakar minyak berbasis tumbuhan atau biofuel yang semakin masif.. Tulisan ini akhirnya menyarankan strategi untuk membantu menyelesaikan dua isu sosial dan ekonomi di atas, yaitu dengan menguatkan peran para ulama dalam menyebarkan konsep almaslahah dan khalifah dalam isu lingkungan dan sosial di Jambi serta menegakkan identitas ulama sebagai penjaga nilai-nilai kebaikan (amr ma’ruf nahi mungkar) dalam kehidupan umat manusia.&amp;nbsp;
Oil palm plantation industry which oriented to replace fossil fuels is more dynamic in Jambi. Agrarian society slowly shift to oil palm agriculuture commodities. Smoke haze that occur almost every year as one of the impact of the rapid development of oil palm plantations. Through literature reviews and empirical research, through interviews and observation technique, to explore micro agrarian conflict in Jambi in 2011 and 2012, and the field observation on the smoke haze in 2014, this papers proposes some measures that enviromental degradation and economic ruin tradition is due to the massive presence of the oil palm plantation industry oriented plant-based fuels or biofuels. Finally, this papers suggest alternative strategies to solve both social and economic issues, by strengthening the ulama roles in spreading the concept almaslahah and caliph in Jambi and enforce the ulama’s identity as a guard virtues (amr ma’ruf nahi munkar) in the life of mankind.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/419</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 361-384</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 361-384</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/419/434</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/425</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:51Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">HAKEKAT  PENCIPTAAN MANUSIA DAN PENGEMBANGAN DIMENSI KEMANUSIAN SERTA URGENSINYA TERHADAP PENGEMBANGAN DAN  KELESTARIAN LINGKUNGAN DALAM PRESPEKTIF AL-QURAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Umami, Ida</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Manusia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">lingkungan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">dimensi manusia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Human being</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">environment</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">human dimension</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Allah menciptakan manusia antara lain adalah sebagai khalifah di muka bumi. Berkaitan dengan konsep ini, maka manusia berkewajiban memelihara dan melestarikan lingkungan. Namun, tidak jarang manusia malah merusaka alam dan lingkungan. Hal ini tentunya bertentangan dengan tugas dan fusngsinya sebagai khalifah. Tulisan ini mengeksplorasi hakikat penciptaan mausa dan urgensinya dalam pelestarian lingkungan. Kajian dalam tulisan ini mengacu pada perspektif al-Quran. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan dapat didapat kesimpulan bahwa hakekat penciptaan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam semesta dan lingkungannya. Salah satu tugas penting yang diamanahkan kepada manusia adalah tugasnya sebagai khalfatullah di muka bumi. Prinsip amanat yang dibebankan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi menghendaki adanya cobaan, ujian dan medan pergulatan antara kebajikan dan keburukan. Manusia diciptakan untuk mengarungi kehidupan dan melaksanakan tugas kekhalifahannya terkait dengan pelestarian alam semesta baik bagi manusia maupun lingkungannya baik di laut, di darat maupun di udara. Manusia di lahirkan ke dunia dibekali dengan kemampuan/ daya cipta, rasa, karsa karya dan daya taqwa. Dalam kaitannya dengan lingkungan, daya tersebut merupakan&amp;nbsp; fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Daya disebut&amp;nbsp; akan mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin serta ajaran agama dalam mengemban tugas kekhalifahan dan khususnya dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab terhadap pelestarian lingkungan alam semesta.&amp;nbsp;
The essence of human creation cannot be separated from the universe and its environment. One of the important tasks entrusted to human beings is their duty as khalfatullah on the earth. The principle of the duties assigned to humans as vicegerent on earth leads for hurdle, temptation and struggles between virtues and evils. Humans were created to live and carry out duties related to the preservation the nature of universe for both humans and the environment such as the sea, the land and the air. It has been stressed by Allah in the Quran that the damage in the land and sea was actually caused by human hands. In this context as an-Nas and Bani Adam, to describe the universal values that exist in every human being regardless of background differences in gender, race and ethnicity or their respective faiths, human being born into the world equipped with the ability/ creativity, feeling, creation and faith. Related to the environment, those values are the most executive function in the human soul. It also will encourage the implementation of the doctrine and dogma in the duties as a khalifah and mostly in the duties implementation and responsibilities toward the environment of the universe.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-10-22</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/425</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 344-360</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 2 (2014): Agama dan Pelestarian Lingkungan; 344-360</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/425/433</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/428</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PEREMPUAN DAN EKSISTENSI KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Tobibatussaadah, Tobibatussaadah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Perempuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kepemimpinan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Womwn</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">leadership</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">AbstrakIslam adalah agama pembawa semangat reformasi bagi kaum perempuan. Islam juga telah memberikan fondasi terhadap kesetaraan lelaki dan perempuan dalam banyak dimensi kehidupan. Namun, perdebatan yang sering muncul adalah terkait dengan kepemimpinan perempuan dalam Islam. Dalam sejarahnya, wanita dipandang kurang cakap menjadi pemimpin karena umumnya mereka tidak memiliki akses ke dunia pendidikan. Namun demikian, Islam telah menempatkan wanita setara dengan laki-laki. Tidak ditemukan nash yang secara diametris&amp;nbsp; atau langsung melarang wanita terlibat dalam kepmimpinan publik atau politik. Dalam konteks hukum Islam, sesuatu yang tidak dilarang secara jelas, tidak direkomendasikan, yang berarti bahwa perempuan dibolehkan memasuki arena kepemimpinan. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa perempuan yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin, harus menjadi pemimpin. Sejarah telah mencatat beberapa perempuan yang memiliki kemampuan menjadi pemimpin.
Islam is a religion that brings the spirit of reform related to women’s issues. Islam has been laying the foundations of equality between men and women in the various dimensions of life. One of the highlights for debate is the relationship with the leadership of women in Islam. According to the history, culture women are not considered to own ability to be a leader. This assumption because women have little or no access to education. Islam, however, puts women as whole human beings equal to men. There is no passage which is diametrically and straight forward prohibit women involved in the issue of leadership in the public domain or politics in general. In the study of Islamic law against things that are clearly not prohibited is also not recommended, it is permissible or allowed to enter the territory. Thus, it can be said that women who have capability to be a leader should be a leader. This notion can also be proven historically that some great women capable of becoming a leader.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/428</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 152-166</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 152-166</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/428/419</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/429</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF ULAMA PESANTREN DI ACEH</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Marzuki, Marzuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemimpin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Perempuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Ulama Pesantren</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Leaders</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">women</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Ulama</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pesantren</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">AbstrakKepemimpinan perempuan dalam Islam masih menjadi salah satu persoalan yang menjadi perdebatan di kalangan Ulama di dunia, Indonesia bahkan di tingkat daerah. Aceh merupakan satu-satunya daerah legalisasi pelaksanaan syariat Islam di Indonesia, sehingga mengetahui pandangan para Ulama di Aceh tentang kepemimpinan perempuan yang masih menjadi polemik merupakan hal yang sangat penting dan menarik, terutama pandangan para Ulama Pesantren di Aceh. Studi ini berbentuk analisis terhadap jajak pendapat yang dikumpulkan dari pandangan para ulama Pesantren di Aceh terhadap kepemimpinan perempuan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Ulama Pesantren di Aceh memiliki dua pandangan dalam meninjau kebolehan seorang perempuan menjadi pemimpin. Pertama, membedakan antara urusan Syariah dan muamalah. Dalam urusan syariah, para Ulama sepakat tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin, seperti menjadi Imam shalat dan Khatib Jumat. Sedangkan dalam urusan muamalah, mereka membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin, seperti menjadi Kepala sekolah, ketua PKK, ketua Koperasi dan lain-lain, hingga Jabatan legislatif dan eksekutif. Kedua, Ulama Pesantren di Aceh “memberi celah” bagi perempuan untuk menjadi pemimpin, yaitu mereka pada dasarnya melarang atau tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin. Namun, apabila ada di antara perempuan yang mencalonkan diri, dan dia memiliki kemampuan dan dijamin keagamaannya, maka hal tersebut tidak dipermasalahkan, asalkan ia memiliki kecakapan dan berada pada jalan syariat Islam.&amp;nbsp;
Female leadership in Islam is still one of the contentious issues among Ulama in the world , Indonesia and the local level. Aceh is the only area of the legalizations the implementation of Islamic law in Indonesia, so knowing the views of the Ulama in Aceh on women’s leadership is still being debated and is a very important and interesting, especially the view of the Ulama Pesantren in Aceh. This study is an analysis of the poll form collected from the view of the scholars boarding school in Aceh on women’s leadership . The results of this study indicate that the boarding school in Aceh Ulama have two views in reviewing the permissibility of a woman becoming a leader . First ,the respondents distinguish between Sharia and muamalah affairs. In matters of sharia , the scholars agreed not to allow a woman to become a leader , as an Imam and Khatib. While in the affairs muamalah, they allow a woman to become leaders, such as being a school principal, chairperson of a cooperation, up to the legislative and executive Position. Second , Ulama Pesantren in Aceh “giving gap” for women to become leaders, that they basically do not prohibit or allow a woman becomes a leader. However, if there is among women who ran, and she has the ability and guaranteed religious, then it does not matter, as long as she has the skill and is on the way Islamic law.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2014-03-19</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/429</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 19 No. 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 167-184</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 19 No 1 (2014): Agama dan Kepemimpinan; 167-184</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v19i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/429/420</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/430</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DARI SAKRAL KE PROFAN: Globalisasi Dan Komodifikasi dalam Dunia Spritual dengan Ilustrasi Tarekat Naqsyabandiyah- Khalidiyah Babussalam (TNKB)</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Muzakir, Muzakir</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Sakral</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">profan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">dunia spritual</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tarekat naqsyabandiyah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sacred</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">profane</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">spirituality</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">mysticism order</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Abstrak
Tulisan ini menjelaskan adanya pergeseran serius dalam orientasi institusi spiritual dengan ilustrasi Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB). Pergeseran ini terjadi karena pengaruh globalisasi yang terjadi telah berhasil merubah orientasi institusi spiritual tidak lagi semata-mata melakukan “olah-spritual”, tetapi juga “olah-material”. Dalam penelitian ini digunakan teori globalisasi dan komodifikasi untuk menemukan bagaimana proses pergeseran itu terjadi dan apa yang terjadi pada institusi spiritual dalam kaitan kedua yang dikemukan. Untuk menemukan pengaruh dan respon TNKB vis a vis globaliasi, yaitu pengaruh globalisasi terhadap TNKB telah berhasil melemahkan sistem tradisi yang dianut. Kemudian, respon yang diberikan TNKB dengan adanya upaya penguatan identitas sebagai upaya untuk tetap bertahan dalam situasi perkembangan yang ada. Konsekuensin dari pengaruh globalisasi ini mengakibatkan adanya disorientasi pada TNKB, yaitu dari dari sakral ke profan dengan adanya praktek komodifikasi dalam hampir semua aktifitas yang dilakukan di dalamnya.
This article describes a serious shift in the orientation of spiritual institution illustrated through the mystic order of or Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah Babussalam (TNKB). The shift occurs due to the globalization era that has changed the orientation of the spiritual institution in that the institution does not merely focuses on spirituality only but also on material benefit orientation. This research applies the globalization and co-modification theories to depict the shift process and what really happens in the spiritual institution. That is to find out the influence and response of TNKB vis a vis globalization era. Globalization has weakened the traditional system adhered by TNKB. With regard to that phenomenon, TNKB is seeking to strenghten its individual identity. Nevertheless, the influences of globalization er brings about disorientation for TNKB that is from being sacred into profane. This shift is supported by the co-modification practices that exist in almost all of the institution activities.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/430</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 1-26</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 1-26</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/430/392</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/431</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ISLAM PERSUASIF DAN MULTIKULTURALISME DI ACEH: Upaya Rekonstruksi Penerapan Syariat Islam Berbasis Pendidikan</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Fikri, Mumtazul</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Aceh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">penerapan syariat Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">multikulturalisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam persuasif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">implementation of islamic sharia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">multiculturalism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">islamic persuasive</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Beberapa tahun terakhir pergolakan dan penolakan terhadap syariat Islam di Aceh semakin gencar disuarakan, selain itu banyak pertikaian berbasis agama muncul dalam masyarakat Aceh, ini menunjukkan ada masalah akut dalam penerapan syariat Islam di Aceh. Tulisan ini diawali dengan uraian fakta bahwa multikultural merupakan konsep klasik di dalam Islam yang telah ada sejak lama bahkan sejak negara Madinah lahir sebagai negara Islam pertama di dunia. Sedangkan dalam konteks Aceh, multikultural juga telah lama dikenal mengingat Aceh merupakan daerah pluralis dengan keragaman identitas masyarakatnya. Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis yang menunjukkan bahwa syariat Islam di Aceh seolah belum mampu memayungi aspek multikultural masyarakat Aceh. Bahwa implementasi syariat Islam di Aceh membutuhkan kepada pendekatan berbasis lokal dengan mengedepankan multikultural sebagai muara dari penetapan kebijakan. Konflik multikultural di Aceh dapat diselesaikan melalui pendekatan pendidikan melalui 2 (dua) substansi. Pertama, Substansi Teoritis, yang berhubungan dengan kurikulum pendidikan, metode pembelajaran, materi pelajaran dan lembaga pendidikan. Kedua, Substansi Praksis, yang berhubungan dengan penelitian sosial, budaya, ekonomi dan agama yang akar masalahnya bermuara pada multikulturalisme, selanjutnya dicari solusi praktis dan bijak berbasis pendidikan. Penulis merumuskan konsep Islam persuasif melalui 4 (empat) prinsip, yaitu: (1) dakwah berbasis kultur budaya, (2) mewujudkan partisipasi aktif umat, (3) dakwah berbasis psikologis, dan (4) dakwah yang bernilai optimis. Keempat prinsip tersebut diharapkan mampu menjadi solusi dalam upaya resolusi konflik agama yang terjadi di Aceh.&amp;nbsp;
In the last few years, the upheaval and rejection of Islamic law in Aceh is voiced intensively, besides many religion-based disputes arise in Acehnese society, this issue indicates to an acute problem in the application of Islamic law in Aceh. This paper begins with a description of the fact that multicultural is a classic concept in Islam that has existed for a long time even since the state of Medina was born as the first Islamic country in the world. While in Acehnese context, multicultural also has long been recognized in view of Aceh is a pluralist society with multiple identities. This paper is the result of a research which showed that Islamic law in Aceh as yet able to accommodate multicultural aspect of the Acehnese. Implementation of Islamic law in Aceh need to locally-based approach in promoting multicultural as the aim of the policy- setting. Multicultural conflict in Aceh can be resolved through a educational approach in two substances. First, Theoretical Substance, the substance related to curriculum, teaching methods, learning materials and educational institutions. Second, Practical Substance, the substance related to the study of social, cultural, economic and religious where the root of the problem based on multiculturalism, subsequently sought practical solutions and instant-based education. The author formulates the concept of Islamic persuasive through four principles, namely: (1) cultures-based preaching, (2) embodies the active participation of the umat, (3) psychological-based preaching, and (4) optimistic preaching. These four principles are expected to be the solutions to religious conflict resolution in Aceh.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/431</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 27-46</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 27-46</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/431/393</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/432</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">GENEOLOGI PENAFSIRAN AGAMA MASYARAKAT PEDESAAN: Tinjauan Epistemologi Hukum Islam terhadap Pluralitas Pemahaman  Keagamaan Masyarakat Rejomulyo Metro Selatan, Lampung</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Setiawan, Wahyu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Literalis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tradisionalis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">epistemologi hukum  Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Literalists</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">traditionalists</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">islamic law epistemology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">AbstrakArtikel ini merupakan hasil kajian epistemologi hukum Islam pada tataran aplikatif di tingkat masyarakat desa Rejomulyo, Metro Selatan, Lampung yang menampilkan kreativitas intelektual dalam penafsiran agama. Studi ini diawali dari adanya kontinuitas dan perubahan isu pembaharuan dari tradisi besar (great tradition) arus pemikiran terhadap tataran tradisi kecil (little tradition) masyarakat pedesaan yang mengerucut pada perdebatan masalah hukum konkrit dan standar ganda yang menguat. Tujuan artikel ini mendeskripsikan geneologi penafsiran agama masyarakat pedesaan terhadap pluralitas pemahaman keagamaan masyarakat Rejomulyo Metro Selatan, Lampung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akar pluralitas pemahaman keagamaan di Rejomulyo terbentuk berdasarkan perspektif sejarah terdiri dari lima periode. Periode awal, nuansa keagamaan diwarnai ajaran sinkretik Hindu-Islam dan kebatinan Jawa (kejawen). Periode kedua, tahun 1940-an dengan pola keberagamaan lebih pada Islam kultural. Periode ketiga, tahun 1960-an diwarnai harmonisasi antara kelompok organisasi keagamaan Muhammadiyah dengan kelompok Tradisionalis. Periode keempat, yaitu sejak 1990-an merupakan awal muncul gejolak pemikiran antara Islam Tradisionalis dan Islam Literalis. Periode kelima, tahun 2000-an, dimana perbenturan antar tradisi pemahaman keagamaan di Rejomulyo semakin kompleks. Kemunculan kembali kelompok Islam Tradisionalis yang berupaya menghidupkan kembali pola keberagamaan kultural. Kemudian terbentuk kelompok ‘Tradisionalis baru’ yang berada diantara kelompok Tradisionalis-Literalis yang selama ini selalu terlibat kontestasi memperebutkan klaim kebenaran praktek keagamaan yang paling otentik.&amp;nbsp;
This article is result of study about epistemologi of islamic law in villagers applicative level of Rejomulyo, south Metro Lampung which shows intellectual creativity in interpretating a belief. This current study starts from the excistence of continuity and transformations of reforming issue that was coming from the great tradition to thoughts that concerns with the little tradition rank. The purpose of this article is to describe the geneology of villagers’ interpretating a belief toward villagers’ plurality of region insight of Rejomulyo – South Metro, Lampung. The yield of this current paper shows that the roots of villagers’ plurality region insight at Rejomulyo shaped based on aspects of history which consist of five periods. Early period, the nuance of region has been colored by hindu-islam doctrines and java’s spritualism. Second period is in the 1940’s, the patterns of diversity is more rather than islamic cultural. 1960’s is the third period where it has been colored by harmonization between two islamic organizations, those are Muhammadiyah and the traditionalist. The fourth period has been begun 1990’s. That year was time when thought of differences appeared between The traditionalist and the Literalist. Mellinnium era is the fifth periode where conflicts between tradition of relegion thoughts was more complex in Rejomulyo. The Emergence of islamic traditionalist group who try to energize the patterns of cultural variations. The new group,then, is well-known “ New Tradition” which resided between traditionalist and Literalist group that always involved to flight over the claim of thruthfulness which is the authentic one in doing reverence.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/432</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 47-68</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 47-68</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/432/394</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/434</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ISLAMIC STUDIES DALAM KONTEKS GLOBAL DAN PERKEMBANGANYA DI  INDONESIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Abidin, Zainal</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Studi Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kontemporer</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Barat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">orientazlisme</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic Studies</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">contemporary</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Western</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">orientalism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Artikel ini membahas tentang kajian Islam dalam lintas sejarah dalam konteks global dan perkembangannya di Indonesia. Permasalahan mendasar dalam kajian ini adalah mengenai akar tradisi studi Islam pada lembaga pendidikan di Indonesia. Selain itu, tulisan ini juga bermaksud menelusuri pengaruh Barat terhadap studi Islam di Indonesia. Kajian dalam tulisan ini merupakan kajian pustaka dengan pendekatan historis. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Studi Islam tidak dapat dipisahkan dari Orientalisme dalam konteks sejarah dan termasuk sejarah agama Kristen, sebab secara realitas orientalisme lebih dekat dan bersinggungan langsung dengan program imperialisme khususnya di Asia dan Afrika, dan dalam kenyataannya banyak Negara Islam berada di bagian Timur belahan dunia. Di Indonesia, Studi Islam telah lama ada dan menjadi studi yang penting, dikarenakan telah menjadi kebutuhan bagi umat Islam terutama dalam konteks akademik seperti yang dipelajari di UIN, IAIN, dan STAIN. Banyaknya intelektual muslim Indonesia yang studi di negara-negara Barat berimplikasi pada corak dan metode studi Islam di Indonesia.&amp;nbsp;
This article discusses about history of Islamic studies in global context and its developments in Indonesia. The deep problem in this paper is about the roots of tradition of Islamic studies at educational institutions in Indonesia. Besides, this paper also intends to explore the influence of the West against toward Islamic studies in Indonesia. This paper is a literature review where the historical approach was used to investigate it. Based on the discussion, it could be summarized that the Islamic studies can not be separated from the Orientalism on the context of history and also it included the history of Christianity. Since, the reality of Orientalism closes and interacts directly with the program of imperialism as well, especially both Asia and Africa. In fact, many Islamic countries are in Eastern parts of the universe. In Indonesia, Islamic Studies had long existed and become an important study, because it has become a necessity for Moslems, especially in the academic context which is learned in UIN, IAIN, and STAIN. A number of Indonesian Moslem scholars who studied in Western have implicated on thier style also method of islamic study in Indonesia.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/434</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 69-84</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 69-84</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/434/395</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/435</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">URGENSITAS HERMENEUTIK HASAN HANAFI DALAM MEMAHAMI AGAMA DI ERA GLOBALISASI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Nurkhalis, Nurkhalis</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Al Qur‟an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Hermeneutika</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Hasan Hanafi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Hermeneutic</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini menje;laskan tentang Hanafi yang telah memperkenal suatu teori hermeneutik dengan pendekatan istimbat istiqra’i (eksplorasi deduktif). Istiqra’ dipahami dengan istaqraitu diartikan dengan „saya telah menguji‟ dengan cara menhadirkan kembali pengujian dari khusus ke umum melalui pengetahunan makna setiap bahagian dan spesifikasinya. Istiqra’ merupakan kemampuan memegang kesimpulan yang dibuat dari pandangan puncak keseluruhan akal yang sama pada setiap orang atau apresiasi sebuah estetis individual yang diterima oleh orang-orang pada umumnya. Dalam tulisan ini, hermeneutik revolusioner bertujuan dalam hubungannya terhadap pembebasan bumi (tahriru aridhi) orang Islam atas nama Tuhan (Allah), aradhu al mi‘ad (bumi yang memenuhi janji) yang mengikat antara Allah dan bumi dengan aqidah, lahūt ardh&amp;nbsp; (memfaktakan Tuhan di bumi) yakni penyatuan antara tauhid dan wahdatul ummat, antara nubuwwah dan dinamika historis, revolusi bumi, dinamika zaman yang menghapuskan kesenjangan antar sukūnina (kedamaian) dan takhallufina (perbedaan yang ada), maka inilah yang membentuk peradaban&amp;nbsp; (hadharah)&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; saling&amp;nbsp; berkoneksi&amp;nbsp; antar&amp;nbsp; manusia,&amp;nbsp; zaman,&amp;nbsp; kesejarahan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan dinamika. Gerakan pembaharuan Islam kontemporer menghendaki pemindahan ‟ishlah din (reformasi agama) ke nahdhah syamilah’ (kebangkitan kinerja). Kemudian dari „nahdhah syamilah’ akan melahirkan pencerahan akal maka dengan sendirinya akan mudah terjadi revolusi sosial dan politik. Reformasi dalam konsep mitsali (ideal) menuju kepada reformasi sosial, harus melalui perkawinan wa’yu siyasi (wacana politik) dengan wa’yu tarikhi (wacana sejarah).Kombinasi&amp;nbsp;&amp;nbsp; pemahaman&amp;nbsp;&amp;nbsp; agama&amp;nbsp;&amp;nbsp; antara&amp;nbsp;&amp;nbsp; sensus&amp;nbsp;&amp;nbsp; literalis&amp;nbsp;&amp;nbsp; (makna&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang banyak diterima dalam literal), sensus spiritualis (makna yang cepat membangkitkan kehadiran teologis) dan „sensus komunal‟ (mayoritas pendapat pakar) akan membentuk sebuah cakupan cakrawala hermeneutik desiratum yakni pemahaman agama yang dilahirkan melalui&amp;nbsp;&amp;nbsp; interpretasi&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; diperoleh&amp;nbsp;&amp;nbsp; melalui&amp;nbsp;&amp;nbsp; pencapaian&amp;nbsp;&amp;nbsp; kegigihan&amp;nbsp;&amp;nbsp; para&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; interpreter menemukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; jalan&amp;nbsp;&amp;nbsp; tengah&amp;nbsp;&amp;nbsp; antara&amp;nbsp;&amp;nbsp; ideal&amp;nbsp;&amp;nbsp; good&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al&amp;nbsp;&amp;nbsp; Qur‟an&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan menciptakan persaudaran yang positif dalam beragama. Penelitian ini merupakan hasil dari penelitian studi pustaka.This paper describes the Hanafi who has introduced a hermeneutical theory with istimbat istiqra&#039;i approach (deductive exploratory). Istiqra&#039; is understood to mean istaqraitu meaning that I have been testing by bringing back test from the particular to the general through meaning&amp;nbsp; knowledge&amp;nbsp; of&amp;nbsp; every&amp;nbsp; part&amp;nbsp; and&amp;nbsp; specifications. Istiqra&#039; is&amp;nbsp; the&amp;nbsp; ability to&amp;nbsp; hold the conclusions&amp;nbsp; of&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; the summit view of the overall the same sense in every person or aesthetic appreciation of an individual who is accepted by all people in general. In this paper, hermeneutic revolutionary aims in relation to the earth liberation (tahriru aridhi) of Muslims in the name of God (Allah), aradhu al mi&#039;ad (earth that fulfills the promise) binding between God and the earth with faith, lahūt ardh (making factuality of God on the earth) which is the union between monotheism and wahdatul ummah, between nubuwwah and historical dynamic, the revolution of the earth, with the dynamics that abolish disparities between sukūnina (peace) and takhallufina (differences), then that has shaped civilization (hadharah) mutually connect between man, age, history and dynamics. Contemporary Islamic reform movement requires the removal of ’ishlah din (religious reform) to nahdhah syamilah&#039; (awakening of performance). Then from &#039;nahdhah syamilah&#039; will give birth to enlightenment sense then by itself will easily occur social and political revolution. Reforms in the concept mitsali (ideal) to social reform should be through marriage wa&#039;yu siyasi (political discourse) with wa&#039;yu tarikhi (historical discourse). The combination of religious understanding between census literalists (meaning that is widely accepted in the literal), census spiritualist (meaning that quickly evokes the theological presence) and ‘census communal’ (the majority opinion of the expert) will form a coverage horizon hermeneutic desiratum that is the understanding of religion that was born through interpretation obtained through the achievement of the persistence of interpreters who find a middle course between the ideal good in the Qur&#039;an in creating a positive religious fraternity. This study is the result of literature review.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/435</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 85-102</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 85-102</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/435/396</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/436</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PENGARUH PENGELOLAAN WAKAF DI MESIR TERHADAP PENGELOLAAN HARTA WAKAF PENDIDIKAN DI INDONESIA: Studi terhadap Ijtihad dalam Pengelolaan Wakaf Pendidikan di UII dan Pondok Modern Gontor</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Mu&#039;allim, Amir</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Wakaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Mesir</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Indonesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ijtihad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">UII</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pondok moodern Gontor</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">darussalam Gontor Islamic boarding school.</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Awqaf in Egypt</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">endowments in Indonesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">AbstrakTulisan ini membahas tentang pengaruh pengelolaan wakaf di Mesir terhadap pengelolaan harta wakaf pendidikan di Indonesia. Keberhasilan Mesir ikut memberikan kontribusi terhadap lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang kemudian dikelola dengan harta wakaf. Harta wakaf yang sangat besar di Universitas al-Azhar. Jami’ah al-Azhar tidak menarik iuran dari mahasiswanya, bahkan setiap tahunnya universitas selalu memberikan beasiswa bagi ribuan mahasiswanya. Hal ini karena adanya harta wakaf yang diklelola dengan baik. Universitas Al Azhar selaku nadzir atau pengelola wakaf hanya mengambil hasil wakaf untuk keperluan pendidikan. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh pengelolaan wakaf di Mesir terhadap pengelolaan harta wakaf pendidikan di Indonesia. Adapun fokus artikel ini pada studi terhadap ijtihad dalam pengelolaan wakaf pendidikan di Universitas Islam Indonesia dan pondok modern Gontor. Kesimpulan artikel ini menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan pengelolaan wakaf di Mesir terhadap pengelolaan wakaf di lembaga pendidikan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada pengelolaan dan pengembangan wakaf yang dilakukan oleh Yayasan Badan Wakaf UII dan Yayasan Pemeliharaan, Perluasan Wakaf Pondok Modern Gontor Ponorogo. Konsep pengelolaan wakaf di lembaga pendidikan ini adalah untuk menciptakan maslahah al ammah, yaitu kemaslahatan umum yang menyangkut kepentingan orang banyak.
&amp;nbsp;
This paper discusses about the influence waaf maintenance at Egypt on maintenance waaf of education in Indonesia. The successfulness of Egypt takes part in giving contribution toward educational institutions in indonesia which is managed through the waaf properties. Wealth of waaf is profoundly much at Al Azhar University. So that, it does not collect dues tuition or fees. In fact, it always provides scholarships annualy for its thousand –student. It is due to Wealth of waaf is available which managed well. Al Azhar University is as nadzir or administrator of waaf just takes the yeild to fulfill educational needs. This article aims to describe the influence of waaf maintanance at Egypt toward the managing wealth of waaf in educational institution of Indonesia. Concerning the main point of this paper is about study Ijtihad in managing educational waaf in Islamic University of Indonesia and Darussalam Gontor Islamic Boarding School. The summary of this research shows that there is a significant influence in the management ofwaaf at Egypt toward the management of waaf in educational institution of indonesia. It could be seen in maintenance and developing waaf that have been done by both Islamic University of Indonesia’s foundation of waaf and Darussalam Gontor Ponorogo islamic instituion’s foundation for waqf maintenance and enlargement. The consept of maintenance of waaf in those educational institution is to creat maslahah al ammah, that is the advantage for all.In</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/436</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 103-122</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 103-122</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/436/397</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/437</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">IMPLEMENTASI FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN DALAM PENGELOLAAN WAKAF PRODUKTIF DI SINGAPURA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Suhairi, Suhairi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">manajemen</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">wakaf produktif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kepengurusan wakaf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">waqf organization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">productive waqf</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">management</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Negara Singapura sebagai negara sekuler, muslimnya merupakan minoritas, akan tetapi telah sukses mewujudkan pengembangan wakaf produktif. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah, bagaimana implementasi fungsi-fungsi manajemen dalam pengelolaan wakaf produktif di Singapura? Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi praktisi pengelola wakaf sebagai rujukan bagaimana mewujudkan keberhasilan pengelolaan wakaf. Penelitian ini merupakan penelitian pranata ekonomi dalam hukum Islam. Data dikumpulkan melalui tiga cara, yakni dokumentasi, wawancara, dan observasi. Pengolahan data dilakukan dengan sistematisasi, membuat klasifikasi dan kategorisasi berdasarkan relevansinya dengan objek kajian dan dianalisis dengan teori-teori manajemen, terutama fungsi-fungsi manajemen dan manajemen wakaf produktif. Temuan penelitian ini adalah fungsi-fungsi manajemen telah diimplementasikan secara baik dalam pengelolaan wakaf produktif di Singapura. Telah diimplementasikan fungsi-fungsi manajemen secara baik tersebut dibuktikan dengan telah diterimanya sertifikat ISO9001 oleh MUIS dalam hal manajemen dan admininistrasi wakaf.&amp;nbsp;
As a secular country where Muslims are minority, Singapura has been a good model of productive waqf management. The question of this research, how is the implementation of management functions in productive waqf management within Singapore context? This resrach on the success of productive waqf management in Singapore is hoped develop waqf practitioners’ understanding on how to manage productive waqf successfully. This research is a kind of economic research in Islamic law. The data are collected through documentation, interview, and observation. The data analysis is conducted through systematic classification and categorization in the light of relevant theories on management particularly those related to management functions and productive waqf management.The findings of this study is the management functions have been well-implemented in productive waqf management in Singapore. The evidence of such implementation is shown through the achievement of ISO 9001 certificate by MUIS in term of waqf management and administration.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/437</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 123-136</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 123-136</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/437/398</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/439</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PERAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN ISLAM PADA ERA GLOBAL</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Yuberti, Yuberti</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Teknologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">perspektif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Technology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">islamic perspective</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini membahas tentang kemajuan bidang teknologi yang menjadi faktor penting bagi kemajuan dan peradaban. Tujuan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan peran teknologi pendidikan Islam pada era global. Sasarannya adalah mengembangkan manusia yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam, dan menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan seni) yang memadai, dan selalu menyelesaikan masalah kehidupan sesuai dengan syariat Islam. Kesimpulan artikel ini menunjukkan bahwa teknologi pendidikan akan semakin berperan dalam dunia pendidikan. Pendidikan pada masa mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan komunikasi yang memungkinkan berinteraksi dan berkolaborasi. Teknologi dapat meningkatkan kualitas belajar apabila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting dalam kesejahteraan ekonomi. Teknologi pendidikan hanya dapat diakui sebagai suatu disiplin keilmuan apabila memberikan kemungkinan untuk dilakukannya berbagai macam penelitian yang diselenggarakan dengan pendekatan yang bervariasi sesuai dengan perkembangan paradigma penelitian.
&amp;nbsp;
This research discusses about the progression of technology which becomes an important factor for development and civilization. The purpose of this article is to describe the role of islamic technology in globalization. The goal is developing human resource who have high islamic value, mastering tsaqofah Islam, dominating islamic life skills ( science and art) and doing life’s problems accordance with islamic laws. The conclusion of this research shows that educational technology will play a vital role more in educational field. Educational in future will be considered by network of communication that enables for interacting and collaborating. Technology can upgrade learning quality, If those are used to be education and training wisely. Also, it has a role for prosperity. Technology of education can only be admited as a emperical study, If it gives possibility to be done through some researchs which held by variance of approachs accordance with paradigm research growth.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/439</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 137-148</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 137-148</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/439/399</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/440</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ISLAM DAN GLOBALISASI: Studi Atas Gerakan Ideologisasi Agama Majelis Tafsir Al-Quran di Yogyakarta</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Yusdani, Yusdani</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Machali, Imam</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Majelis Tafsir Al Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">faham keagamaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">gerakan puritan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">hegemoni</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">relegious ideologization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">puritan movement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Fenomena gerakan dakwah Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) yang tidak akomodatif terhadap tradisi, budaya, dan kearifan lokal menimbulkan berbagai persoalan sosial di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh ideologi gerakan pemurnian agama yang MTA lakukan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan faham dan ekspresi keagamaan yang dikembangkan oleh MTA, Strategi MTA dalam memperjuangkan faham dan ekspresi keagamaannya, dan dampak sosial keagamaan yang muncul di masyarakat akibat dari faham, dan ekspresi keagamaan MTA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi dan faham Keagamaan Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah eksklusif. Sedangkan faham keagamaan MTA masuk dalam katagori gerakan Islam puritan yang diidentikkan sebagai gerakan salafi. Strategi MTA dalam memperjuangkan faham dan ekspresi keagamaan di DIY dilakukan dengan tiga cara pertama, memperkuat hubungan, komunikasi, jaringan dan dukungan dengan kelompok (jamaah) yang seideologis dengan ajaran MTA, kedua, menguasai kelompok-kelompok pengajian (majelis ta’lim) dan ketiga, menguasi pengelolaan masjid dengan mendatangkan para penceramah, khatib, dan berbagai kegiatan-kegiatan keagamaan dari pendakwah MTA. Implikasi faham, ekspresi keagamaan dan strategi dakwah MTA di DIY adalah pertama menguatnya posisi orang Muhammadiyah dalam menghegemoni Masjid melalui dakwah-dakwah MTA. Kedua, peminggiran jamaah dalam berbagai aktivitas keagamaan, dan Ketiga, migrasi jamaah ke aktifitas keagamaan lain yang memiliki keyakinan islam budaya yang sama.&amp;nbsp;
The phenomenon of da’wah movement of Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) which does not accommodate the traditions, culture, and local wisdom raises many social problems in the community. This is caused by the ideology of religious purification movement that has been conducted by MTA. This study aimed to describe the ideology and religious expression developed by the MTA, MTA strategy in fighting the schools and religious expression, religious and social impacts that arise in society as a result of the schools, and religious expression MTA. These results indicate that the expression and Religious ideology of Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) in Yogyakarta is exclusive. While the MTA religious schools included in the category of puritanical Islamic movement that is identified as the Salafi movement. MTA strategy in the fight for religious expression in the schools and Special Province of Yogyakarta done in three ways, first, strengthen relationships, communication, networking and support groups (pilgrims) who have similar ideology with the teachings of the MTA, second, master study groups (informal gatherings) and third , in charge of the management of the mosque by bringing in speakers, preachers, and various religious activities of preachers MTA. Implications ideology, religious expression and propaganda strategy MTA in the province is the first strengthening the hegemonic position of the Muhammadiyah Mosque through propaganda-propaganda MTA. Second, the exclusion of pilgrims in various religious activities, and Third, pilgrims migration to other religious activities that have the same culture of Islamic beliefs.Keywords : Majelis Tafsir Alquran (MTA), relegious ideologization, puritan movement, and hegemony.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/440</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 149-172</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 149-172</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/440/400</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/441</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:53Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">REFORMASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI: Sebuah Tantangan dan Harapan</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Dacholfany, M Ihsan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Reformasi, pendidikan Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tantangan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">harapan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">challenges</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">expectations</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Artikel ini membahas tentang Pendidikan Islam yang mendapat berbagai tantangan krusial di era globalisasi. Pendidikan Islam menempati posisi yang penting dalam kehidupan globalisasi, sebab globalisasi itu sendiri mempunyai pengaruh positif dan negatif pada pendidikan Islam. Untuk itu, reformasi pendidikan Islam dapat mengupayakan membangkitkan kembali visi pendidikan Islam yang lebih baik untuk membangun dan meningkatkan mutu manusia dan masyarakat Muslim di era globalisasi dengan tetap merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber ajarannya. Tujuan artikel ini untuk mendeskripsikan reformasi pendidikan Islam dalam menghadapi era globalisasi. Data dalam tulisan ini merupakan data kepustakaan yang yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa globalisasi dapat menjadi peluang dan menjelma sebagai tantangan bagi pendidikan Islam. Arus globalisasi bukan lawan atau kawan bagi pendidikan Islam, melainkan sebagai dinamisator. Jika pendidikan Islam mengambil posisi anti global, maka akan stagnan tidak bergerak dan pendidikan Islam akan mengalami penghambatan intelektual. Sebaliknya bila pendidikan Islam terseret oleh arus global, tanpa daya identitas keislaman sebagai sebuah proses pendidikan akan dilindas. Maka pendidikan Islam harus memposisikan diri dengan menakar arus global, dalam arti yang sesuai dengan pedoman dan ajaran nilai-nilai Islam agar bisa direformasi, diadopsi dan dikembangkan.&amp;nbsp;
This writing discusses about islamic education which gets some crusial challenges in globalization era. Islamic teaching plays important role in globalization. Since globalization itself has possitive also negative in islamic teaching and training. Thus, reformation of islamic teaching could strive for raising better vision of islamic teaching for building and upgrading quality of human being and moslem society in globalization that ought to refer to both Al Koran and Al Hadith as source of its teaching. The goal of this current research is to describe reformation of islamic teaching in facing globalization. Data of this paper is literature fact which is analyzed through descriptive. The result of this writing shows that globalization can be opportunity and also challenge for islamic teaching. The stream of globalization is not an opponent or companion for islamic teaching, on the other hand being as motivator. If islamic teaching takes position non global, it will not move and it will undergo blocking of intellectual. On the contrary, if islamic teaching involves to globaliztion era, islamic identities will be gone. Thus, islamic teaching ought to take part to measure globalization era, it means by oreintation and values of islamic teaching in order to could be reformed, adopted and developed.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-04-14</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/441</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 173-194</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 1 (2015): Studi Islam di Era Global; 173-194</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/441/401</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/442</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">EDUKASI PUBLIK UNTUK KESEJAHTERAAN SOSIAL: STRATEGI  LEMBAGA PENGEMBANGAN INSANI DOMPET DHUAFA MENINGKATKAN PERAN PUBLIK UNTUK PENDIDIKAN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Fahrurrozi, Fahrurrozi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Strategi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Edukasi Publik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kesejateraan Sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Strategy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Public Education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Welfare</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini diawali dengan uraian tentang Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa. Dijelaskan bahwa, salah satu lembaga yang concern terhadap masalah kesejahteraan sosial tersebut adalah Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD), yang melakukan edukasi publik agar masyarakat turut serta dalam membangun masyarakat sejahtera melalui program pendidikan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang berupaya meneliti tentang sebuah subyek secara mendalam. Penelitian dilakukan pada tahun 2010. Data-data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen. Selanjutnya data-data tersebut dianalisis dengan cara melakukan kategorisasi- kategorisasi terhadap upaya-upaya edukasi publik untuk kesejahteraan sosial melalui jalur pendidikan, sehingga menghasilkan beberapa tipologi strategi edukasi publik yang dilakukan LPI-DD untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga strategi edukasi publlik yang dilakukan LPI DD, yaitu: pertama, strategi fungsional, yang menekankan pada kekuatan dan kemampuan internal lembaga dalam melakukan komunikasi dengan publik dari segi penetapan sasaran, tujuan, pesan, media, sumber pesan, dan umpan balik. Kedua, strategi diferensiasi, yang menekankan pada keunikan dan kestrategisan program pendidikan untuk membangun masyarakat yang sejahtera. Ketiga, strategi korporat, yang menekankan pada kemampuan dalam membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk bersama-sama mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
This paper is begun with explaining about development of Dompet Dhuafa Foundation. It is clearly explained that one of foundation which concerns with social welfare is Dompet Dhuafa Foundation that does education to public in order to the people join in building social welfare through educational program. This study uses qualitative research to attempt examining about such a subject deeply. This study has been done in 2010. The data is collected by interviewing, observation and field note technique.Then, those data are analyzed by categorizing to some efforts of public education to social welfare through education, in order to get some typology strategies of public education is done by Dompet Dhuafa Foundation to actualize prosperous society. The achievement of current paper shows that there are three public education strategies which are done by Dompet Dhuafa Foundation, those are : first, functional strategy which emphasizes on force and internal capacity of institution in doing communication with publics from view of arragement of the target, purpose, message, media, source of information and feedback. Second, differentiation strategy emphasizes on the novelty and strategic educational program to build prosperous society. Thirdly, corporate strategy emphasizes on capacity in building collaboration with some parties to achieve prosperous society mutually.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/442</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 195-208</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 195-208</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/442/402</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/443</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">OPTIMALISASI PERAN BAITULMAL DALAM PENINGKATAN PUNGUTAN ZAKAT: KAJIAN TERHADAP FAKTOR PENENTU PEMBAYARAN ZAKAT DI ACEH</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Wahid, Nazaruddin A.</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Baitulmal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">zakat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Aceh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini membahas tentang peran baitulmal dalam peningkatan pungutan pajak, studi di Baitulmal Aceh. Baitulmal aceh merupakan punggung perekonomian masyarakat muslim dalam pengelolaan harta umat Islam dan juga mampu menjawab kebutuhan zaman moderen, terutama dalam hal pengelolaan zakat yang mengacu pada pertumbuhan ekonomi masyarakat miskin. Namun satu hal yang membuat peneliti merasa gelisah adalah dalam realitas didapati bahwa pungutan zakat oleh Baitulmal belum optimal. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor penentu terhadap optimalisasi pungutan zakat, sehingga mencapai sasaran yang tepat dan sesuai dengan ketentuan syariat. Data diperoleh dari Batulmal kabupaten atau kota, responden yang terpilih dengan melakukan Focus GroupDiscution (FGD) dan responden bebas khususnya golongan penerima zakat, mereka tersebar di seluruh provinsi Aceh. Hasil kajian dapat ditemukan bahwa ada sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya perolehan zakat, diantaranya&amp;nbsp; faktor Qanun zakat, demografi atau lingkungan, keimanan,&amp;nbsp; pengetahuan masyarakat tentang zakat, kepercayaan kepada Baitulmal dan faktor kemudahan cara membayar zakat. Oleh karena itu, kajian ini merekomendasikan; (1) Penerapan qanun yang tegas dan jelas termasuk didalamnya sanksi hukum bagi yang lalai menunaikan kewajiban zakat. (2) Meningkatkan pelaksanaan pendidikan masyarakat mengenai manfaat zakat, dengan konsep-konsep tarbiyah yang pendekatannya lebih intensif untuk memberi pemahaman yang benar bagi muzakki, sehingga dapat memberikan kesadaran untuk membayar zakat melalui Baitulmal.&amp;nbsp;
Baitulmal Aceh has been established based on Indonesian Act No. 44/1999 and Act No. 11/2006 with technical rules based on Qanun No. 10/2007. The Government of Aceh expects that the Baitulmal is able to support Muslims economy, managing their wealth, and providing answer to common contemporary problems in Muslim society. Baitulmal also plays a role in zakat management to empower poor communities. Nevertheless, in practice, zakat collection is not yet optimized. This gap on potential and reality in zakat collection should be comprehensively studied. This research aims to explore factors that contribute to the zakat collection optimization. The data is collected from Batulmal in each Districts of Aceh Province. The respondents are classified between those who are invited for a Focus GroupDiscussion (FGD) and those who are not. This research found some factors that cause non-optimal zakat collection, such as Qanun on Zakat, demographic/environment, religiosity, people understanding on zakat, their confidence on Baitulmal dan facilities to pay zakat to Baitulmal. Therefore, this study recommends the following; (1) legislate a clear and comphensive Qanun on Zakat, including sanctions to those who are not paying zakat. (2) Improve people’s education and awareness on zakat with an intensive tarbiyyah so that muzakki could have a proper understanding on zakat and willingness to pay zakat through Baitulmal.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/443</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 209-228</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 209-228</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/443/403</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/444</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DIALOG NABI MUHAMMAD DENGAN NON MUSLIM MEMBANGUN KESEJAHTERAAN UMAT</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Arifinsyah, Arifinsyah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Dialog</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Non Muslim</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Nabi Muhammad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kesejahteraan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Dialogue</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">non-Muslim</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">the Prophet Muhammad</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">welfare</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Membangun sebuah tatanan dunia baru yang produktif dan sejahtera sangat ditentukan oleh kerjasama yang saling menyelamatkan antarumat beragama dan lintas peradaban melalui dialog. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dialog yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan non muslim yang humanis, saling menyelamatkan dan mensejahterakan, yang kemudian dapat dijadikan contoh membangun peradaban agama masa kini. Metode yang digunakan adalah dengan mengumpulkan literatur klasik Islam, yang kemudian dilakukan content analisis sesuai konteks kekinian. Hasil telaahan menunjukkan bahwa dialog di sini dipahami sebagai suatu cara berjumpa atau memahami diri sendiri dan dunia pada tingkatan yang terdalam, membuka kemungkinan-kemungkinan untuk memperoleh makna fundamental dari kehidupan secara individu maupun kolektif dan dalam berbagai dimensinya. Dialog dipahami dan dipraktikkan pada masa lalu oleh para manusia pilihan, terutama Nabi Muhammad adalah untuk mensejahterakan umat manusia. Dialog tersebut berisi kesimpulan bahwa tidak ada suatu tatanan dunia yang sukses jika tidak dilengkapi dengan etika dunia, tidak ada perdamaian antar negara-negara tanpa adanya perdamaian antar agama-agama. Inilah saat yang tepat untuk mengambil kekuatan dialog Nabi Muhammad dengan non muslim pada tingkatan yang baru di mana ia dapat membuat perbedaan struktural untuk menghadapi problem-problem dunia.&amp;nbsp;
Building such a new system of world which productive and prosperous is profoundly determined by collaborating that mutually save among religious communities and across civilization through dialogue. This article aims to know the dialogue has been done by the prophet Muhammad SAW with non muslim community humanely, mutually,saving and bringing welfare. Then, it can be created pattern of building religious civilization nowdays. The usedmethod is collecting clasical islamic literature which is done through analysis based-content on current context. The outcome of study shows that dialogue here is understood as a way encountering and understanding one self and earth on the deepest of level, exposing possibilities to get fundamental sense of living individually and collectively on various demensions. In the past, dialogue is understood and practiced by choice people mainly the prophet Muhammad SAW is to bring welfare to whole of people. The dialogue consists of inference that none of&amp;nbsp; system of world that actually get success if it is not completed with world values, no reconciliation among countries without having peace between the beliefs. Right now is right time to remove the power of the prophet Muhammad’s dialogue with non muslim communities on such new level where he was able to make distinct of structural to face worlds’ issues.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/444</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 229-242</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 229-242</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/444/404</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/445</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KESEJAHTERAAN SOSIAL DI INDONESIA PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Kholis, Nur</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Kesejahteraan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Jaminan Sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Ekonomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Prosperity</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social Warranty</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Economy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Artikel ini membahas tentang kehidupan sejahtera yang menjadi tujuan dari seluruh manusia di muka bumi ini, juga merupakan tujuan, dan cita-cita pendiri negeri ini. Namun, kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum terwujud secara merata. Hal tersebut diperkuat oleh peneliti dengan menyampaikan data lapangan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia termasuk ke dalam kategori sedang yaitu pada peringkat 108. Kajian penelitian dalam tulisan ini merupakan kajian pustaka. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan maka kesimpulan penelitian ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan berbagai upaya, di antaranya mengeluarkan Undang-undang yang terkait kesejahteraan sosial dan berbagai peraturan derivasinya, termasuk penanganan fakir miskin, Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dan lain-lain.Namun, Peneliti menemukan beberapa temuan diantaranya ternyata aplikasi program untuk mewujudkan kesejahteraan sosial belum sepenuhnya memenuhi konsep ideal jaminan sosial dalam Islam untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Untuk itu, peneliti memberikan masukan bahwa perlu ada ikhtiar untuk merealisasikan kesejahteraan sosial yang sesuai dengan tujuan ekonomi Islam yang sekaligus tujuan manusia itu sendiri. Ikhtiar tersebut harus menggunakan dasar ekonomi Islam yaitu moral sebagai dasar sistem ekonomi, harus menjaga halal-haram dalam konsumsi, serta ekonomi yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan umat manusia. The article studies about prosperity which becomes aim for all human throughout the world, also it is hopes of founding father of this country. Yet, prosperity for whole indonesian do not realize yet. It is supported by a reseacher who was delivered the data which were coming from Human Development Index which proposes that Indonesia is on the intermediate category in 108 level. The research is literature review. Based on discussion which was done,the conclusion of this article is to actualize prosperity for all indonesian. Indonesia goverment has done by some ways, such as : issuing regulations which refer to social prosperity and sorts of its derivation includes handling the poor, National social warranty system and others.&amp;nbsp; In spite of this, writer found several findings, such as the implementation of that program do not realize social prosperity wholly and do not complete the ideal consept of social warranty yet in islam to realize social prosperity. To be so, the writer confers inflows that there should be effort to actualize social prosperity which suits with the goal of islamic economy and humans’ hopes. The effort must use basic islamic economy that is morality as the foundation of economy system, care for halal and haram in comsumsing, as well as economy is having a goal to actualize prosperity for all human being.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/445</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 243-260</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 243-260</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/445/405</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/446</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">BANK SYARIAH DAN PEMBERDAYAAN COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY: PERAN DAN FUNGSI BANK SYARIAH PERSPEKTIF FILOSOFI SOSIO-EKONOMI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Nofrianto, Nofrianto</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Suardi, Suardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Bank Syari’ah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">CSR</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemberdayaan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Ekonomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic Banking</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Empowerment</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini diawali dengan penjelasan seputar Corporate Sosial Responsibility yang ada kaitannya dengan perbankan syariah. Peneliti menggunakan penelitian studi pustaka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah prinsip pokok operasional bank syari’ah tidak terfokus pada upaya memperoleh keuntungan demi pertumbuhan dan keberlangsungan usaha. Lebih dari itu, bank syari’ah juga dimaksudkan menjadi lembaga yang mampu merespon kebutuhan sosial masyarakat. Penulis juga menilai bahwa Corporate Social Responsibility (CSR)merupakan salah satu sarana bagi bank syari’ah agar dapat mencapai tujuan tersebut. Misalnya, dengan membuat program takaful sosial, menciptakan kluster ekonomi untuk kelompok usaha mikro dan kecil, serta berbagai kegiatan yang sasaran utamanya adalah pengentasan kemiskinan, perlindungan sosial, dan secara perlahan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia para dhu’afa dan mustadh’afin. The paper is began with elaborating around Corporate Social Responsibility deals with islamic banking. The researcher uses literature review. The inference of the current research is the fundamental operational principle of islamic banking does not focus on efforts in obtaining profits on behalf of growing and continuity the bussiness. Moreover, islamic banking is meant to be instution which is able to respond public social needs. The writer estimates Corporate Social Responsibility (CSR) is one of facilities for islamic bank in order to achieve the goals. For instance, making a program social tafakul, creating economic cluster to micro attempts.Also, some affairs that has such a main target is removing poverty, social warranty, and can increase the quality of human resources on dhu’afa andmustadh’afin.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/446</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 261-276</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 261-276</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/446/406</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/447</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">TAFSIR KEADILAN SOSIAL DAN SEMANGAT GENDER</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Amin, Surahman</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">keadilan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Gender</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">perempuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kemajuan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">gender</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">women</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">delevoptment</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">justice</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Artikel ini diawali dengan penjelasan pengertian gender. Perbedaan istilah seks dan gender sangat mendasar yaitu seks lebih bersifat alamiah yang tidak dapat berubah sepanjang hidup, sedangkan gender mengambil peran dalam area sosial di masyarakat. Dalam hal gender, banyak persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, fenomena ketidakadilan gender, berkaitan erat dengan doktrin agama yang selama ini dipahami secara sempit oleh tokoh, dan sebagian besar masyarakat. Peneliti menggunakan studi pustaka untuk menjawab kegelisahan akademiknya seputar keadilan gender. Hasil penelitiannya disampaikan secara deskriptif analitis. Peneliti menemukan wacana gender semarak di dunia Barat, disebabkan karena perubahan pola sosial, terutama semenjak terjadinya revolusi industri. Sebuah perjuangan antar kelas (class struggle), yakni antara kaum perempuan sebagai sebuah kelompok sosial melawan kelompok sosial yang lainnya, yaitu kaum lelaki dengan tujuan untuk mencapai kesejajaran. Semangat gender ini sesungguhnya berkaitan dengan persoalan kemajuan perempuan dan tercapainya kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa melalui pemahaman gender maka dampak pembangunan terhadap kehidupan perempuan dan laki-laki tidak akan berbeda, sebab ketimpangan status sosial bukan sekedar bersumber pada persoalan seks tetapi seluruh nilai sosial budaya yang hidup dalam masyarakat turut memberikan andil.
This article begins with introducing meaning of gender. Distinction both term of sex and gender, sex is more unadorned which could not change for long away, while gender plays role in social area in society. In the line of gender, gender’s&amp;nbsp; problems profoundly close with daily life. For instance, injustice gender phenomenon deals with dogmas of religion which were understood narrowly by scholars and mostly the publics. The researcher uses literature review to answer his academic anxiety around justice of gender. The result of this paper is passed on by descriptive analysis. The writer finds gender discussion in western lively, it is caused since changging ofsocial patterns particulary at beggining of revolusion industry. A struglle betwen classes (class struggle), that is women as a social group opposes other social groups, namely men are having a goal to achieve alignment. Spirit of gender deals indeed with women progress and achieving alignment between women and men. The conclusion of this study is by understanding gender, a crash emerges toward development of women and men live would not differ, since dispropostion of social status does not originate from the matter of sex, but cultural social value which exists in society also gives the contribution. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/447</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 277-294</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 277-294</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/447/407</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/448</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">PELAKSANAAN ZAKAT BADAN HUKUM: STUDI PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DI KOTA METRO, LAMPUNG</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Mustofa, Imam</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Zakat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Badan Hukum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Lembaga Keuangan Syariah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Alms</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Corporation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Board of Islamic financial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Para ulama kontemporer berpendapat bahwa badan hukum wajib dizakati. Dalam konteks Indonesia, dalam aturan perundang-undangan yang mengatur masalah zakat, disebutkan bahwa muzakki tidak hanya perseoragan, akan tetapi juga bisa berupa badan hukum. Berdasarkan hal ini, Lembaga Keuangan Syariah (LKS) wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah memenuhi syarat. Di Kota Metro terdapat beberapa Lembaga Keuangan Syariah yang juga merupakan badan hukum. Berdasarkan hal ini, permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana pelaksanaan zakat badan hukum pada LKS di Kota Metro. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang berusaha menelisik dan mengungkap pemahaman para pengelola LKS di Kota Metro terhadap kewajiban zakat badan hukum. Penelitian ini juga mengungkap pelaksanaan zakat badan hukum dan mekanisme pengelolaannya. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif. Populasi penelitian ini adalah Lembaga Keuangan Syariah di Kota Metro. Teknik sampling yang digunakan adalah purposif sampling. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara tidak terstruktur dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa dengan metode deskriptif-analitis. Setelah data dianalisa dan dikaji, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua pengelola Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Kota Metro memahami mengenai kewajiban badan hukum. Ada pengelola yang memahami bahwa zakat badan hukum adalah zakat yang dikeluarkan oleh pengelola terhadap dirinya, bukan lembaga yang dikelolanya. Selain kesimpulan di atas, dapat diketahui pula bahwa Ada tiga bentuk pelaksanaan zakat badan hukum LKS di Kota Metro. Pertama, LKS yang tidak dizakati karena ketidaktahuan pengelolanya mengenai ketentuan dan aturan kewajiban zakat badan hukum. Kedua, LKS yang dikeluarkan zakatnya, meskipun para pengelolanya belum mengetahui aturan dan ketentuan zakat badan hukum. Ketiga,&amp;nbsp; LKS yang dikeluarkan zakatnya karena para pengelolanya mengetahui teori dan landasan hukumnya. Mengenai mekanisme pelaksanaan zakat LKS, ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Perbedaan ini pada tataran perhitungan nisab, kadar, pengumpulan dan penyaluran.
The contemporary scholars propose that corporation is liable given through&amp;nbsp;&amp;nbsp; alms. In indonesia context, the regulation which regulates about alms is called that board commite of alms is not only individually, but also it can be corporation. In the line of this, Board of islamic financial is liable removed its alms if it has granted its terms. Metro has several&amp;nbsp; Boards of islamic financial, it is also corporation. Based on this case, the issues of the paper is how does corporation implement alms at several Boards of islamic financial in Metro. This study is the result of research which tries to investigate and reveal insights of manager&amp;nbsp; Boards of islamic financial in Metro toward alms obligation of corporation. The research also tries to reveal the alms implemetation of corporation and its maintenance. This research is field research which is having character of qualitative approach. The population of this study is boards of islamic financial in Metro. Techique sampling used is purposive sampling. Techique in gathering the data is used by non-structured interviewing and documentation. The data is analyzed through descriptive analysis method. After the data is analyzed and examined, the conclusion can be taken is not all boards islamic financial in Metro understand about obligation of corporation. There is manager who understands that alms of corporation is alms which paid by manager to their self, it is not broad that should pay it. In spite of conclusion above, it can be known that there are three models the implementation alms of corporation in Metro. First, boards islamic financial which is not paid alms yet because the manager did not know the implementation about appointment and the rule of alms for corporation. Secondly, boards islamic financial has paid its alms, eventhough its managers did not know rule and appointment for corporation. Last, boards islamic financial has paid its alms and its managers knew theori and its base of law. Regarding to the mechanism alms for boards islamic financial, there is difference between one and else. This distinct on calculation nisab, grade, collecting and distributing</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/448</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 295-322</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 295-322</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/448/421</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/449</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">FRACTIONAL RESERVE FREE-BANKING DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH: SEBUAH KOMPARASI PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM DAN EKONOMI AUSTRIA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Fathurrahman, Ayief</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Bank</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Maslahah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">fractional reserve</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">finansial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">financial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini membahas tentang fractional reserve free-banking dalam perspektif maslahah yang dikemas dalam sebuah komparasi pemikiran ekonomi Islam dan ekonomi Austria. Latar belakang munculnya tulisan ini adalah kegelisahan penulis terhadap terus berulangnya krisis ekonomi. Penulis mencoba mengkomparasikan antara pemikiran ekonomi Islam dan ekonomi Austria dalam memandang permasalahan ini.fractional reserve banking merupakan sistem perbankan modern yang sarat dengan resiko resesi ekonomi, karena dibangun sebagai wadah finansial semu dan berimplikasi pada bubble economy. Sehingga dalam melihat fenomena ini, pemikiran ekonomi Islam dan pemikiran ekonomi mazhab Austria bersama-sama menyumbangkan pemikiran kontrusktif terhadap sistem moneter perbankan, yaitu berupa fractional reserve free-banking. Karena menurut kedua pemikiran ini, sumber instabilitas ekonomi modern pada saat ini terletak pada sistem fractional reserve banking yang diaplikasi di perbankan komersial di seluruh dunia melalui kemampuan penciptaan uang (creation money), sehingga money supply bergeser dari titik keseimbangannya.
The study discusses about fractional reserve free-banking in maslahah perspective which is presented in comparating between islamic-economic thought and Austria economy. At the beggining of this study is researcher’s disquiet about recuring crisis of economy. The writer tries to interconnect between islamic-economy thought and Austria economy in beholding this issue. Fractional reserve banking is such a modern banking system which has a recession of economy, since it is built as forum of financial illusory, then, it implicates to bubble economy. In order to regard this phenomenon, islamic-economy thought, along with Austria economy, contributes constructive thought toward such monetary banking system. According to these thoughts, the source of instabilitymodern economy is located on fractional reserve banking system that implemented in commercial banking in over the world by creating money. Then, supplying money grates with its balancing.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/449</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 323-336</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 323-336</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/449/408</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/450</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ASPECTS OF QURBAN RITUAL IN PEKANBARU</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Purnamasari, Endah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Panitia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">ritual Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">penyembelihan hewan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">daging</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">board of Qurban</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Ritual Qurban</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">meat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Penelitian ini dirancang untuk menghitung jumlah ternak yang digunakan pada penyembelihan hewan dalam Islam atau dikenal sebagai Ritual Qurban, jenis hewan yang disembelih dan jenis kelaminnya, jumlah daging yang diperoleh, termasuk tulang dan jeroan, pola distribusi, jumlah daging yang dialokasikan untuk panitia di tempat penyembelihan, teknologi yang diterapkan dalam penanganan daging, tindakan yang diambil untuk daging yang tidak dibagikan dan pelaksanaan standar operasional prosedur untuk menyembelih hewan. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan metode survei dengan sampel sebesar 390 masjid dan masjid kecil yang disebut musholla dan langgar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hewan ternak yang banyak disembelih yaitu sapi, kambing, dan kerbau dengan jenis kelamin laki-laki yang paling lazim. Proporsi daging dan lemak, tulang, dan jeroan yang diperoleh dari pengolahan ini mencapai masing-masing 63%, 24%, dan 13%. Hampir semuadaging (99,70%) didistribusikan kepada masyarakat melalui sistem kupon meskipun ditemukan bahwa 21,80% dari kupon yang diberikan akhirnya tidak ditebus oleh penerima. Selain itu anggota panitia mendapat 8,48% daging. Sekitar dua pertiga (64,52%) dari responden menentang gagasan menyerahkan persentase tertentu daging kepada pihak ketiga untuk diproses lebih lanjut meskipun mereka sadar akan manfaat dengan pengolahan daging modern (74,02%). Temuan dari penelitian ini juga menunjukkan perbaikan yang diperlukan dari pelaksanaan Ritual Qurban di daerah-daerah kritis seperti pasokan ternak, manajemen komunikasi antar panitia untuk meminimalkan daging yang tidak dibagikan dan langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan upaya dalam mendistribusikan daging dalam bentuk olahan daging sapi.&amp;nbsp;
The research is designed to calculate the number of catlles are used to slaughter in islam or it is well-known as Qurban, sorts of cattles, sex, the number of meat includes bones and bowels, the way of distribution, meat for board of Qurban in that place, technology used for taking care of meat, some steps are taken for indistributed meat also standard operational procedure of slaughtering the cattles.&amp;nbsp; This research is done by using survey method through the number of sample is 390 mosques. The result of research shows that the cattles are slaughtered such as cow, goat and buffalo, those are mostly virile. The proportion of meat, grease, bone and bowel are gotten from this proccessing is 63%, 24%, and 13%. Almost 99,70 % of meat is distributed to people through such a coupon system, eventhough 21,80% of coupon which was given finally do not taken by receivers. Besides, board of Qurban get 8.48% of meat. Approximately 64.52% of respondents resist the idea of delevering certain meat to third party to be processed more. Even, 74.02% respondents aware that the function of modern processing the meat. The finding of this study also shows revision which is needed from ritual Qurban in several critical places like as cattle supplying, communication between boards of Qurban to minimize undistributed meat and such steps to increase efforts in distributing the bend of meat.&amp;nbsp; </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/450</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 337-358</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 337-358</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/450/409</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/451</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:36:17Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM  DALAM PEMBERDAYAAN UMAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KESEJAHTERAAN UMAT</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Suparta, Suparta</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Tantangan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pendidikan Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kesejahteraan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">challenges</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">islamic education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">prosperity</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini menjelaskan betapa besar tantangan pendidikan Islam di era sekarang ini. Tantangan-tantangan tersebut diantaranya adanya dikotomi pendidikan, kurikulum yang belum relevan, dan manajemen pendidikan Islam yang belum kompeten. Untuk itu, penulis mencoba memberikan sumbangan pemikiran agar Pendidikan Islam harus optimis dan dinamis menghadapi tantangan zaman.Tulisan ini berdasarkan hasil dari penelitian lapangan atau field research. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi pustaka dan dijelaskan secara desript analitis. Berdasarkan hasil observasi penelitian di lapangan, masih ada asumsi masyarakat bahwa orientasi pendidikan Islam hanya mengurusi masalah ritual atau spiritual saja. Karena jika asumsi itu masih ada maka materi pendidikan Islam hanya seputar masalah aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak tanpa menyentuh ilmu-ilmu umum. Jika demikian, maka inilah bukti masih kentalnya dikotomi ilmu pengetahuan. Asumsi seperti itu dengan sendirinya berarti menafikan bahkan meragukan keunggulan Al-Qur’an yang merupakan barometer bahkan fondasi utama pendidikan Islam. Hal ini dapat kita lihat realita saat ini umat Islam menjadi umat yang jauh tertinggal dari berbagai bidang terutama dari bidang kesejahteraan dan ilmu pengetahuan. Kesimpulan dari tulisan ini adalah pendidikan Islam harus menjadi pendidikan yang mengembangkan semua aspek kehidupan termasuk di dalamnya tentang pengembangan kesejahteraan umat.
The paper explains how big challenges of islamic education currently. Those challenges such as educational dicothomy, irreleven curriculum, incompetence of management of islamic education.To be so, the writer tries to give contribution of thought in order to islamic education should be optimist and dynamic in facing challenges. This current research is based on field research. The technique in gathering data is used literature review and explained by descriptive anaylisis. Based on the result of observation in field, there are still people assumption that education-oreinted is only taking care of case in ritual or religous only. Because of the assumption still exists, thus the materials of islamic education is around aqidah, ritual, muamalah, and akhlak without touching common knowledges. In fact, it is proof strongly knowledges dicothomy.This assumption denies even doubts to the holy Qur’an which is the measurement, in fact as the main foundation of islamic education. It can be seen that islamic community is community which neglectes in various aspects particularly in prosperity and scien. The conclusion is islamic education should be main education that develops in all aspects includes developing prosperity of people.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2015-10-21</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/451</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 20 No. 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 359-372</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 20 No 2 (2015): Islam dan Kesejahteraan Sosial; 359-372</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v20i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/451/410</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/452</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">SASTRA ISLAM NUSANTARA: PUISI GUGURITAN SUNDA DALAM TRADISI KEILMUAN ISLAM DI JAWA BARAT</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Rohmana, Jajang A.</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">sastra</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sunda</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">guguritan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">literature</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sundanese</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">metrical verse</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Jaringan Islam Nusantara yang terhubung dengan Haramayn telah merangsang berkembangnya tradisi intelektual Islam di sejumlah wilayah Nusantara. Di wilayah ini, tradisi Islam ditandai beragam kreatifitas lokal keagamaan dalam mengartikulasikan beragam elemen lokal ke dalam tradisi keilmuan Islam. Puisi guguritan Sunda atau dangding merupakan salah satu bentuk elemen lokal yang menghiasi tradisi keilmuan Islam di Jawa Barat. Dengan menggunakan pendekatan strukturalisme sastra, kajian ini memfokuskan pada penggunaan guguritan sebagai bagian dari eskpresi kreatifitas keilmuan Islam tersebut. Pembahasan diarahkan pada masalah pengaruh Islam terhadap sastra Sunda, perkembangan puisi guguritan, dan posisinya dalam tradisi keilmuan Islam di Jawa Barat. Guguritan digunakan sedikitnya dalam tiga tradisi keilmuan Islam, yakni tasawuf, terjemah dan tafsir Al-Qur’an, dan catatan tentang perjalanan haji. Guguritan sufistik menghasilkan kreatifitas sufistik Sunda yang menitikberatkan pada citra simbolis lokal. Terjemah dan tafsir Al-Qur’an berbentuk guguritan mampu menghadirkan sebuah nuansa puitisasi terjemah dan tafsir sufistik yang jauh lebih kompleks dibanding terjemah puitis lainnya. Sedangkan guguritan haji mampu merekam perjalanan historis haji sekaligus mengekspresikan pengalaman spiritual ibadah haji secara individual. Elemen spiritual kiranya menjadi pengikat utama dari ketiga tema keislaman tersebut, karena bahasa guguritan lebih dekat dengan eksrepsi pengalaman batin yang suci dan sakral dibanding bernuansa hiburan dan profan. Studi ini menegaskan bahwa beragam tema keislaman tersebut menjadi bukti bahwa sastra keagamaan memiliki pengaruh besar dalam proses indigenisasi Islam dan perkembangan bahasa dan sastra Nusantara. Sebuah warisan keagamaan Islam Nusantara yang menjadi bagian dari kekayaan khasanah keagamaan Islam di dunia.The network of Islam in Indonesia which is connected to Haramayn has stimulated the development of the Islamic intellectual tradition in some regions of the archipelago . In this region, the Islamic tradition was marked by diverse local creativity in articulating some local elements into the intellectual tradition of Islam. Guguritan or Sundanese metrical poetry is a form of local elements that marked the intellectual tradition of Islam in West Java. Using a literary structuralism approach, this study focused on the use of guguritan as part of the expression of the tradition. The discussion highlights the influence of Islam to Sundanese literature, the development of guguritan, and its position in the intellectual tradition of Islam in West Java. Guguritan is used in at least three intellectual tradition of Islam: sufism, translation of the Qur’an and its commentaries, and story on the pilgrimage to Mecca. Sufi’s work in the form of guguritan generates a creativity of Sundanese sufi on local symbolic imagery. Translations and commentaries of the Quran in the form of guguritanpresents a poetic translation and interpretation which more complex than others. While the hajj story in the form of guguritan shows the recording historical journey and express spiritual experience of hajj individually. Spiritual element is the main binder of the three themes of the guguritanworks, because it is closer to express the inner experience of the holiness and sacred rather than a profane and entertainment. This study suggests that a variety of guguritanthemes of local Islamic literature greatly influences in the process of indigenization of Islam in the archipelago. It is an Islamic religious heritage in the archipelago which at once becomes a part of Islamic religious heritage in the world..</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-05-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/452</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 1-18</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 1-18</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/452/273</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/453</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">INTERAKSI ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI KHANDURI MAULOD PADA MASYARAKAT ACEH</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Abubakar, Fauzi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Budaya Aceh</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Khanduri Maulod</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Interaksi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Agama Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Acehnese culture</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Interaction</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan tradisi khanduri maulod pada masyarakat Aceh dan nilai-nilai Islam pada tradisi khanduri maulod sebagai bentuk interaksi Islam dengan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengamatan berperanserta atau observasi langsung dan telaah dokumen. Karena itu penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis keagamaan untuk memahami objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Khanduri Maulod di Aceh merupakan tradisi terbesar, karena setiap gampong (desa) pasti merayakannya meskipun dalam skala kecil, dan sejak jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Tradisi dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Saw sebagai bentuk syukur masyarakat terhadap rezeki yang dianugerahkan Allah Swt. Tempat pelaksanaannya di meunasah atau mesjid, dengan kegiatan makan bersama, menyantuni anak yatim, dakwah Islamiyah, shalawat, zikir, dan syair-syair mengagungkan Allah Swt. Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi ini sebagai bentuk interaksi Islam dengan budaya lokal dapat dilihat dari tradisi khanduri maulod menjadi sarana dakwah sehingga melalui tradisi ini diharapkan masyarakat semakin mengenal dan mencintai Nabi Muhammad Saw, sehingga akan lahir masyarakat yang menghidupkan sunnah Rasul. Kemudian nilai shilaturrahmi (ukhuwah Islamiyah) yang diwujudkan dengan makan bersama, serta menyantuni atau memberi makan anak yatim sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw.&amp;nbsp;
This study discusses the implementation of festivity tradition called maulidin Acehnese society and Islamic values in the tradition khandurimaulod as a form of interaction between Islam with the local culture. This study used descriptive qualitative method with participatory observationtechniques&amp;nbsp; or direct observation and study of the document. Therefore, this study used an anthropological approach to understanding religious objects. The results show that the tradition KhanduriMaulod in Aceh is the greatest tradition, because every village celebrates it though on a small scale, and since long ago it has been prepared in such a way. Tradition held in commemoration of the birthday of the Prophet is a form of gratitude of the society towards the sustenance which Allah bestowed. Place of execution in meunasah or mosque, with the activities of eating together, sympathizing orphans, Da&#039;wah Islamiyah, and prayers, remembrance, and poems glorifying Allah. Islamic values existsing in this tradition is a form of interaction of Islam with local culture. Maulodkhanduri tradition is a means of propaganda in order to know and love the Prophet Muhammad better. Then the value of brotherhood (ukhuwah Islamiyah) is reflected through eating together and feeding orphans as instructed by the Prophet.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2017-02-27</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/453</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 19-34</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 19-34</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/453/276</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/454</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">STRATEGI PENERJEMAHAN ARAB – JAWA SEBAGAI SEBUAH UPAYA DALAM MENJAGA KEARIFAN BAHASA LOKAL (INDIGENOUS LANGUAGE): STUDI KASUS DALAM PENERJEMAHAN KITAB BIDAYATUL-HIDAYAH KARYA IMAM AL-GHAZALI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Anis, Muhammad Yunus</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Saddhono, Kundharu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Teknik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Metode</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Penerjemahan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Arab – Jawa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Model word for word translation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kitab Bidayatul-Hidayah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Technique and Method of Arabic-Javanese translation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">word-for-word translation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Bidaayatul-Hidaayah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Dewasa ini, kekhawatiran akan punahnya bahasa ibu selayaknya menjadi perhatian besar masyarakat Indonesia. Punahnya bahasa ibu atau bahasa-bahasa lokal merupakan salah satu indikator punahnya warisan budaya bangsa. Dengan semakin memudarnya warisan budaya bangsa maka hilanglah karakter utama bangsa, oleh sebab itu bahasa ibu dan bahasa lokal sebagai warisan budaya harus terus dijaga dan dipertahankan keberadaannya. Salah satu ikhtiar utama dalam menjaga warisan budaya tersebut adalah dengan menjaga bentuk penerjemahan khas Arab – Jawa, yang sudah jamak dilakukan oleh para santri pondok-pondok pesantren di Nusantara. Salah satu kitab yang menggunakan terjemahan tersebut adalah kitab Bidaayatul-Hidaayah karya Imam Al-Ghazali yang diterjemahkan oleh Kyai Haji Hammaam Naashirud-Din Magelang. Dalam menerjemahkan kitab tersebut, penerjemah menggunakan model word for word translation yang cukup khas dan berkarakter. Pesan moral yang ada dalam kitab diungkapkan dengan syarah (penjelasan) dengan menggunakan bahasa Jawa. Makalah ini akan mengelaborasi problematika penerjemahan yang ada dalam penerjemahan kitab Bidayatul-Hidayah, baik dari sisi teknik dan metode penerjemahan kitab tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, makalah ini menemukan adanya pergeseran bentuk satuan kebahasaan yang ada dalam penerjeman Arab – Jawa kitab Bidayatul-Hidayah. Selain itu, pesan moral yang ada dalam kitab tersebut telah menjadi landasan fundamental dalam pembentukan karakter Santri Nusantara.Language extinction, both mother tongues and local languages, nowadays deserves Indonesian’ attention. When a language extinguishes, a cultural heritage and a character of a nation also disappear. Mother tongue and local languages should be preserved. One plausible way to do so is by maintaining the translation pattern of Arabic-Javanese that are common among the Islamic boarding schools. An example of such pattern is seen in Imam Al-Ghazali’s Bidaayatul-Hidaayah translated into Javanese by Kyai Haji Hammaam Naashirud-Din Magelang. The translation appears to be word-for-word translation with some explanation, syarah, which is also written in Javanese. This writing elaborated the translation problems of Bidaayatul-Hidaayah from its technique and method of translation. A qualitative descriptive method was used to figure out language feature shift in the Arabic-Javanese translation. This writing suggests that the moral message within Bidaayatul-Hidaayah serves as fundamental framework in shaping the Muslim learners in Indonesian Islamic boarding school.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-05-15</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/454</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 35-48</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 35-48</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/454/278</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/455</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">SEKOLAH BERBUDAYA LINGKUNGAN PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM: IMPLEMENTASINYA DI SMAN 4 PANDEGLANG, BANTEN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Muhajir, Muhajir</dc:creator>
	<dc:creator xml:lang="en">Hidayatin, Ida Nur</dc:creator>
	<dc:description xml:lang="en">Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) sebagai salah satu wadah peningkatan pengetahuan dan kemampuan peserta didik memiliki peran penting dalam menyumbang perubahan yang terjadi dalam keluarga. Bagaimana menghargai air bersih, memahami pentingnya penghijauan, memanfaatkan fasilitas sanitasi secara tepat serta mengelola sampah menjadi pupuk tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Sebagai komponen terkecil dalam masyarakat perubahan yang terjadi dalam keluarga akan memberi pengaruh pada masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sekolah berbudaya lingkungan dalam perspektif&amp;nbsp; Islam dan untuk mengetahui implementasi sekolah berbudaya lingkungan dalam&amp;nbsp; perspektif Islam di SMA Negeri 4 Pandeglang. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa dengan penerapan sekolah berbudaya lingkungan&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekolah menjadi bersih dari sampah, tertib dan nyaman sehingga akan tercipta suasana yang kondusif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Diperkuat oleh beberapa hal antara lain: (1) Sekolah berbudaya lingkungan dalam perspektif&amp;nbsp; Islam memiliki karakteristik yang khas, yaitu dengan memasukkan pendekatan keagaamaan; (2) Model pelaksanaan sekolah berbudaya lingkungan di SMAN 4 Pandeglang merujuk pada program adiwiyata yang terdiri dari empat aspek untuk dikelola dengan cermat dan benar yaitu; kebijakan, kurikulum, kegiatan, dan sarana prasarana; dan (3) Implementasi sekolah berbudaya lingkungan dalam perspektif&amp;nbsp; Islam di SMA Negeri 4 Pandeglang menggunakan&amp;nbsp; 4 unsur&amp;nbsp; sebagai medianya, yaitu melalui kebijakan, kurikulum, kegiatan, dan sarana prasarana sekolah
&amp;nbsp;
Environment-cultured school as a means to increase learners’ knowledge and ability plays an important role in contributing to the changes that occur in the family. It deals with how to appreciate clean water, understand the importance of greening, utilize appropriate sanitation facilities as well as manage the waste into fertilizer integral in improving the behavior of healthy and clean life. As the smallest components of society changes in the family will make an impact on society. This study aims to determine the environment-cultured school in the Islamic perspective and to know the Implementation of the School of Environmental cultured in the context of Islam in SMAN 4 Pandeglang. Results of the study show that: (1) environment-cultured school in the perspective of Islam has distinctive characteristics, namely by entering religion&amp;nbsp; approach; (2) model implementation environment-cultured school in SMAN 4 Pandeglang refers Adiwiyata program which consists of four aspects to be managed carefully and correctly namely; policies, curriculum, activities, and infrastructure; and (3) implementation of the environment-cultured school in the context of Islam in SMAN 4 Pandeglang use four elements for media, namely policy, curriculum, activities, and infrastructure.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-04-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/455</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 49-64</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 49-64</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/455/385</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/456</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ISLAM DAN KEARIFAN LOKAL: PEMBARUAN HUKUM KELUARGA DI INDONESIA MODEL INKULTURASI WAHYU DAN BUDAYA LOKAL</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Rajafi, Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Hukum Keluarga</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Inkulturasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Wahyu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Budaya Lokal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">family law</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">inculturation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">revelation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">local wisdom</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Pergulatan pemikiran tentang Islam dan kearifan lokal telah memberikan akses keterbukaan di masa kini untuk lebih kritis dalam memahami hukum Islam atas dasar definisi asy-syari’ah, termasuk melalui proses inkulturasi wahyu dengan budaya lokal. Mengenai hal tersebut, ketika asy-syari’ah telah terkodifikasi dalam bentuk Al Qur’an dan Islam telah tersebar ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia – yang tentunya memiliki perbedaan sosial-budaya dengan masyarakat Arab – maka perlu dilakukan sebuah pembacaan ulang terhadap asy-syari’ah dengan pendekatan inkulturasi tersebut. Proses inkulturasi yang dimaksud di dalam tulisan ini harus dibaca secara bottom-up, dengan cara memberikan pemahaman bahwa ketika asy-syari’ah yang berasal atau lahir dari proses budaya, lalu budaya tersebut berubah maka asy-syari’ah seyogyanya juga berubah sehingga budaya baru tersebut dapat diimplementasikan di dalam masyarakat. Salah satu contoh yang urgen dalam konteks hubungan Islam dan kebudayaan lokal di Indonesia melalui model tersebut adalah tentang kewarisan produktif. Dalam hal ini, perubahan sebagai sifat utama dari budaya, akan selalu menghendaki masyarakatnya untuk selalu mengapresiasi perubahan dan melakukan perubahan, termasuk dalam hal ortodoksi keagamaan, sehingga kritikan ilmiah terhadap ortodoksi agama tidak sekedar menjadi bacaan yang kaku sehingga menegasi maksud Tuhan yang lebih besar. Perubahan yang lebih baik di dalam masyarakat sesungguhnya juga bagian dari wahyu Tuhan yang sering kali tidak terbaca.&amp;nbsp;
The Problematic of thought on Islam and local wisdom has granted access in the present era to be more critical in understanding Islamic law based on the definition of al-syari&#039;ah, including through a process of inculturation revelation to the local wisdom. Regarding this, when the al-syari&#039;ah has been codified in the form of the Qur&#039;an and Islam has spread all over the world, including Indonesia - which has a socio-cultural differences with the Arab community - there should be re-reading of the al-syari&#039;ah with the inculturation approach. The process of inculturation in this case is must be read in bottom-up, by providing an understanding that when the al-syari&#039;ah come from or born from the culture process, then that culture changes into al-syari&#039;ah should also change so that the new culture can be implemented in the community. One example is the urgency in the context of relationship between Islam and local wisdom in Indonesia through the model is inheritance productive. In this case, alteration as the main characteristics of the culture will always want community to always appreciate the changes and make changes including in terms of religious orthodoxy so that&amp;nbsp; scientific criticism against religious orthodoxy did not just become so rigid readings negate God&#039;s greater purposes. The changes for the better in society actually also the part of God&#039;s revelation that is often illegible.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-04-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/456</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 65-82</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 65-82</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/456/386</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/457</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DIALEKTIKA ISLAM DALAM MANTRA SEBAGAI BENTUK KEARIFAN LOKAL BUDAYA JAWA</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Saddhono, Kundharu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">mantra</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Jawa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">kearifan lokal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">dialektis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Javanese</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">local wisdom</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">dialectical</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur Mantra Jawa dan relevansi Mantra sebagai kearifan lokal dalam kaitannya dengan agama Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan lokasi di Solo Raya termasuk Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, dan Sragen. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif, seperti reduksi data, display data, dan kesimpulan. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa Mantra Jawa&amp;nbsp; memiliki tiga jenis struktur, yaitu: (1) yang ideal, (2) acak, dan (3) tidak stabil. Struktur ideal Mantra Jawa Mantra dibagi menjadi tiga bagian utama, seperti: kepala, tubuh, dan kaki. Struktur Mantra ditutupi dengan rumus mistis, magis, mitologi, suara, diksi, dan imajinasi. Wacana nilai Islam telah sangat dominan dalam bahasa Mantra. Zat bahasa Arab juga dilekatkan dalam teks Mantra dan menghasilkan bentuk karakteristik khusus yang baru. Kondisi ini telah membuat karakter tertentu dari teks Mantra, seperti sintesis antara Jawa dan budaya Islam di satu kombinasi dan dari tradisi lain yaitu budaya Jawa. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Mantra milik orang Jawa secara bebas dapat diartikan sebagai metode atau konsep diungkapkan dengan kata-kata dan itu menegaskan bahwa Mantra memiliki kekuatan yang tak terlihat dan juga telah dibuat sebagai penetrasi pemecahan masalah kehidupan.&amp;nbsp;
This considerable study aims to explain the structure of Javanese Mantra and the relevancy of Mantra as a local wisdom in its relation with Islamic religion. This study is using the descriptive qualitative approach using the certain locations in Solo Raya including Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, and Sragen. The technique of analysis used in this study is interactive analysis, such as the data reduction, data display, and the conclusion. The result of the study has shown that the Javanese people Mantra has three types of structure, they are: (1) ideal, (2) random, and (3) unstable. The ideal structure of Javanese people Mantra was divided into three main parts, such as: the head, the body, and the leg. The structure of Mantra was covered by the mystical formula, magical, mythological, the sound, the diction, and the imagination. The discourse of Islamic value has been extremely dominant in the language of Mantra. The Arabic language substances also embedded in the text of Mantra and performed the new specific characteristic form. This condition has made the specific character of Mantra’s text, such as the synthesis between the Javanese and Islamic culture in the one combination of Javanese cultural tradition. Based on this study, it can be concluded that the Mantra belongs to the Javanese freely can be interpreted as a method or the concept expressed by the words and it was confirmed that Mantra has the invisible power and also it has been made as the penetration to solving the problems life. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-04-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/457</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 83-98</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 83-98</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/457/387</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/458</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ISLAM JAWA, DISTINGSI TRADISI,  TRANSFORMASI SPIRIT PROFETIK, DAN GLOBALISASI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Muqoyyidin, Andik Wahyun</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam Jawa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tradisi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">transformasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">spirit profetik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Javanese Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tradition</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">transformation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">prophetic</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">spirit</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini hendak menjelaskan perihal Islam yang berdialektika dengan budaya lokal di Indonesia yang pada akhirnya membentuk sebuah varian Islam yang khas dan unik, sebagaimana Islam Jawa. Varian Islam tersebut bukanlah Islam yang tercerabut dari akar kemurniannya, tapi Islam yang di dalamnya telah berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam proses tersebut, Islam tetap tidak tercerabut akar ideologisnya, demikian pula dengan budaya lokal tidak lantas hilang dengan masuknya Islam di dalamnya. Sebagai salah satu varian Islam kultural yang ada di Indonesia, Islam Jawa memiliki karakter dan ekspresi keberagamaan yang cenderung sinkretis dengan berbagai tradisinya yang distingtif. Hal tersebut dapat dilihat dari dialektika antara agama dan budaya yang terjadi seperti dalam penyelenggaraan sekaten di Yogyakarta dan Cirebon serta perayaan hari raya dengan makanan khas ketupat di Jawa Timur yang diselenggarakan satu minggu setelah ‘Idul Fitri. Sekaten ini merupakan upacara penyelenggaraan maulid Nabi. Substansinya adalah mentransformasikan spirit profetik berupa ajaran tauhid sekaligus melestarikan budaya lokal. Pada kenyataannya, Islam di Jawa memang tidak bersifat tunggal, tidak monolit, dan tidak simpel. Islam Jawa bergelut dengan kenyataan negara-bangsa, modernitas, globalisasi, kebudayaan lokal, dan semua wacana kontemporer yang menghampiri perkembangan zaman dewasa ini. Dalam konteks ini, terlihat bagaimana respons kelompok-kelompok atau organisasi Islam di Indonesia dan Jawa khususnya, mulai dari yang konservatif, moderat, liberal, radikal, hingga fundamentalis.This article will explain about Islam that dialectic with the local culture in Indonesia that eventually forms a variant of Islam that is distinctive and unique, as Islam Java.Variety of Islam is not Islam that is cut off from the roots of purity, but in which Islam has been acculturated with local culture. In the process, Islam remains rooted ideological roots, as well as with the local culture are not necessarily lost with the advent of Islam in it.As one of the variants of cultural Islam in Indonesian, Javanese Islam has character and religious expression are likely to merge with a variety of distinctive traditions.It can be seen from the dialectic between faith and culture which is happening in the administration Sekaten in Yogyakarta and Cirebon and festivals with typical food rhombus in East Java, which was held one week after Idul Fitri. Sekaten is an organization of the Prophet&#039;s birthday ceremony. The substance was to transform the prophetic spirit in the form of the doctrine of monotheism while preserving local culture. In fact, Islam in Java is not a single, not a monolith, and not simple. Javanese Islam wrestles with the fact the nation-state, modernity, globalization, local culture, and all the contemporary discourse that came with the times today. In this context, seen how the response of groups or Islamic organizations in Indonesia and Java in particular, ranging from the conservative, moderate, liberal, radical, fundamentalist up.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-04-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/458</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 99-116</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 99-116</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/458/388</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/459</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">ZIARAH DAN CITA RASA ISLAM NUSANTARA: WISATA RELIGIUS DALAM BINGKAI KEARIFAN LOKAL (LOCAL WISDOM)</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Ilahi, Mohammad Takdir</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Ziarah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islam</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kearifan Lokal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tradisi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pilgrimage</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">tradition</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Local Wisdom</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini membahas tentang dinamika kearifan lokal dalam tradisi Islam yang menjadi cita rasa Islam Nusantara sampai sekarang. Salah satu tradisi dan kearifan lokal yang bernafaskan Islam adalah ziarah spiritual ke makam para wali yang dianggap memiliki karomah atau kesaktian selama menjalankan misi dan dakwah Islam di bumi Nusantara. Ziarah spiritual dalam tradisi Islam merupakan salah satu ciri khas dari kearifan lokal yang berkembang di Indonesia dengan segala kemajemukan yang mewarnai dinamika kehidupan masyarakat. Ziarah dalam tradisi Islam merupakan salah satu perjalanan spiritual (the advanture of spirituality) untuk memetik sumber barakah dari orang-orang suci yang selama hidupnya selalu dekat dengan Allah. Dengan berkunjung ke makam para wali, peziarah seolah diajak untuk menyelami hikmah-hikmah kehidupan yang sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad untuk selalu ingat dengan sang pencipta dan berusaha memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Semangat untuk memperkuat dan mempertebal keimanan adalah tujuan utama yang hendak diperoleh oleh peziarah sehingga petualangan spiritual atau wisata religius ini bisa menjadi sarana untuk memperkuat ikatan persaudaraan antara sesama muslim yang berasal dari berbagai daerah. Dalam konteks Indonesia, tradisi ziarah bukanlah sesuatu yang tabu dilakukan, melainkan sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, terutama kalangan yang berasal dari NU. Meskipun banyak pihak yang tidak suka dengan tradisi ziarah, namun praktik ritual keagamaan ini tetap menjadi sarana bagi umat Islam untuk mengolah batin dan jiwa mereka agar selalu mengingat akan kematian yang menjadi rahasia Allah. Dalam praktiknya, tradisi ziarah memang mendapat banyak tanggapan negatif karena dianggap lebih dekat dengan takhayyul, khurafat, dan kesyikiran. Namun, ziarah sebagai bagian dari tradisi masyarakat muslim bukanlah dimaksudkan untuk meminta sesuatu kepada kuburan, justru sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengingkat akan kematian dan mendoakan orang-orang suci yang sudah meninggal dunia. Apalagi, tradisi ini mempunyai tradisi yang berakar panjang dalam sejarah perkembangan agama Islam, baik di Timur Tengah atau pun di Indonesia sendiri. &amp;nbsp;
This paper discusses about the dynamics of local wisdom in Indonesian Islamic tradition. One of the traditions and local wisdom in Indonesia is a spiritual&amp;nbsp; pilgrimage to the tombs of the saints who has “karomah”. Spiritual pilgrimage in the Islamic tradition is one of the characteristics of the local wisdom that developed in Indonesia with all diversity and religiosity.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pilgrimage in the Islamic tradition is one of spiritual journey to direct connection with the God. One of destination for muslim people to visit the tombs of saints are to explore some wisdom of life which suistanable with guidance of the prophet Muhammad to always remember the creator and effort to reform our behavior in everyday life. The main purpose from pilgrims is to reinforce of the faith so that spiritual journey or religious tourism can be a means to strengthen the bonds of brotherhood among muslim from diffrent regions.In the context of Indonesia, the pilgrimage tradition is always become activity for muslim people to improve their belief to the God, especially who come from NU. Although many people who dos’nt like pilgrimage tradition, but this religious practical is still become instrument to cultivate the mind and spirit to always remember of the death who become the secret of God. In practice, pilgrimage tradition getting negative respones because its closer to polytheism. However, the pilgrimage as part of the tradition of the muslim community is not intended to ask something to the grave, but as instrument to direct connection with Allah. Morever, this tradition has a long history was rooted in the developing of Islam, whether in the middle east or even in Indonesia. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-04-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/459</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 117-132</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 117-132</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/459/389</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/460</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">REKONSTRUKSI DAN REPOSISI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA BERBASIS PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Asrori, Achmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">globalization</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">reconstruction</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">education</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">multiculturalism</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">globalisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">rekonstruksi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">pendidikan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">multikultural</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini berusaha menjelaskan keadaan nyata pendidikan Islam di Indonesia baik di Madrasah maupun di sekolah pada umumnya. Pendidikan Islam masih jauh dari harapan ideal kita. Pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia masih belum sepenuhnya menerapkan ajaran Islam tentang menghargai perbedaan dalam bingkai pluralisme multikulturalisme. Masih banyak dijumpai sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah yang masih mengjarkan truth claim atau klaim kebenaran yang sejatinya hal tersebut tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun. Kiranya peneliti merasa gelisah terhadap pendidikan Islam di Indonesia yang seperti itu apalagi sekarang sedang menghadapi berbagai tantangan globalisasi baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, dan hukum.&amp;nbsp; Peneliti menggunakan studi pustaka dalam&amp;nbsp; penelitiannya sehingga diperoleh wawasan tentang model pendidikan Islam yang cocok diterapkan di Indonesia dengan basis pendekatan pendidikan multikultural. Teori-teori yang digunakan adalah teori tentang pendidikan, pendidikan Islam, pluralisme, dan teori tentang multikulturalisme. Teori-teori tersebut digunakan untuk memberikan gambaran rekontruksi dan reposisi pendidikan Islam di Indonesia berbasis pendekatan pendidikan Multikultural&amp;nbsp;
This writing investigates the real condition of Islamic education in Indonesia both in Islamic school, madrasah, and in general school. Islamic education is still far from what it should be. Current practices of Islamic education in Indonesia has not yet reflected tolerance toward pluralism, and multiculturalism. Many schools and madrasa have been introducing ‘truth claim’ which it is against the spirit of any religion. This study was a literature study which focused on the multicultural-based Islamic education model appropriate for Indonesian context. Relevant theories on education, Islamic education, pluralism, and multiculturalism were used as the basis to reconstruct and reframe the position of the multicultural-based Islamic education in Indonesia.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-04-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/460</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 133-152</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 133-152</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/460/390</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">Local</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/461</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:32:43Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DESAIN MATERI AJAR  BAHASA ARAB BERBASIS CERITA RAKYAT UNTUK TINGKAT MADRASAH IBTIDAIYAH</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Akla, Akla</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Bahasa Arab</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">cerita rakyat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">materi ajar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">madrasah ibtidaiyah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini merupakan hasil penelitian&amp;nbsp; dan pengembangan model materi ajar bahasa Arab berbasis cerita rakyat untuk Madrasah Ibtidaiyah disimpulkan bahwa model materi ajar bahasa Arab yang&amp;nbsp; dibutuhkan peserta didik dan guru di Madrasah Ibtidaiyah adalah berbasis cerita rakyat yang mencakup empat keterampilan bahasa seimbang, menarik disertai gambar warna-warni dan&amp;nbsp; sesuai dengan kehidupan peserta didik sehari-hari. Materi harus&amp;nbsp; disertai dengan latihan-latihan yang cukup. Rancangan model Materi ajar bahasa Arab yang akan dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari: (1)&amp;nbsp;&amp;nbsp; analisis kebutuhan, (2) proses penyusunan draf model yang terdiri dari analisis kondisi pembelajaran yaitu analisis tujuan dan sumber belajar,&amp;nbsp; langkah pengembangan yang terdiri dari kegiatan merumuskan SK-KD, menyusus silabus ,menetapkan metode dan media dan menyusun instrumen evaluasi dan langkah pengukuran hasil belajar. (3) menyusun draf materi ajar yang terdiri dari kata pengantar,petunjuk penggunaan materi dan petunjuk buku, analisis program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran. Kesemuanya ini dirumuskan oleh peneliti dalam satu kesatuan materi ajar yang terdiri dari: isi materi, latihan dan evaluasi. Desain model materi ajar&amp;nbsp; ini baru sebatas desain yang disusun berdasarkan penelitian pendahuluan. Untuk menguji efektifitas keberhasilan materi ini terhadap keterampilan berbahasa peserta didik perlu dilakukan penelitian lanjut
This article deals with folklore-based learning materials for Arabic lesson at Islamic elementary school. Learning materials are supposed to be colorful and contextual to students’ daily lives. They also should be equipped by adequate exercises. The learning materials model designed in this study included: (1) needs analysis; (2) drafting instruction model which consisted of teaching objectives, teaching resources, competencies, syllabus, media, and assessment instruments; (3) designing the learning materials which embraced the acknowledgement, manual, and classroom activities. The learning materials design presented in this writing is preliminary in nature. The effectiveness of the learning materials needs a further investigation.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-04-17</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/461</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 153-172</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 1 (2016): Islam dan Kearifan Lokal; 153-172</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i1</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/461/391</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/462</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:37:18Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">RANCANG BANGUN FILSAFAT ILMU KEISLAMAN PTAI RISET BERBASIS PESANTREN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Husni, Muhammad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Filsafat Ilmu Keislaman</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">PTAI Riset</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pesantren</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic Science Philosophy</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Research of Islamic Colleges</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Islamic Boarding School</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini berbicara tentang rancang bangun filsafat ilmu keislaman yang perlu dikembangkan oleh PTAI berbasis pesantren yang semakin hari semakin banyak jumlahnya. Ide pokoknya adalah pengakuran dan penjalinan hubungan kerjasama antara tradisi pesantren dan tradisi PTAI dengan riset sebagai jantung atau basis akademiknya. Dengan rancang bangun filsafat ilmu keislaman yang berparadigma integrasi-interkoneksi tersebut, PTAI riset berbasis pesantren di satu sisi memang dituntut untuk merekonstruksi ulang secara mendasar bangunan keilmuan, sistem akademik, dan manajemen kelembagaannya. Namun, di sisi yang lain, hal itu merupakan langkah strategis yang tidak bisa ditawar-tawar lagi jika ingin merevitalisasi peran fungsional PTAI riset berbasis pesantren, meliputi visi, profil lulusan, sistem akademik, dan sebagainya. Sudah barang tentu, semuanya harus dirumuskan secara lebih mendetail dalam suatu naskah akademik yang melibatkan secara aktif stakeholders institusi yang terkait dan pesantren secara integratif-interkonektif sebagai pusat transformasi ilmu pengetahuan dan agen transformasi sosiAl budaya bagi kehidupan masyarakat dewasa ini dan di masa depan.This article discusses about the design of Islamic science philosophy that is needed to be developed by Islamic Colleges (PTAI) with Islamic Boarding School (pesantren) base which is increasingly numerous. Its main idea is the measuring and building the relation of cooperation between the Islamic Boarding School and Islamic Colleges tradition with the research as the academic base. By designing Islamic science philosophy with integrated interconnection paradigm, in one hand, the Islamic Boarding School base research of Islamic Colleges is claimed to reconstruct fundamentally the scientific knowledge building, academic system, and its institution management. In another hand, this case is the strategic action that cannot be negotiable to revitalize the functional role of Islamic Boarding School base research of Islamic Colleges, included vision, graduate profile, academic system, etc. Surely, everything must be formulated accurately in an academic manuscript&amp;nbsp; which involves the institution stakeholders actively and Islamic Boarding School by means of integrated-interconnectivity as the center of science transformation and the agent of social-culture for the nowadays and future society life.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/462</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 173-194</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 173-194</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/462/375</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/463</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:37:18Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">DARI YOGYAKARTA MERAJUT INDONESIA: PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH, 1912-1950</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Suwarno, Suwarno</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Muhammadiyah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">K.H. Ahmad Dahlan</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">modal sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">social modal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini mengupas tentang Muhammadiyah yang merupakan organisasi pembaruan Islam modern terbesar di Indonesia. Muhammadiyah tumbuh dan berkembang dari 1912-1950 yang dikenal sebagai fase pembinaan organisasi. Dalam fase pembinaan tersebut, peran kepemimpinan sangat besar -jika tidak boleh dikatakan sangat menentukan, khususnya saat Muhammadiyah dipegang oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, dan para penerusnya. Muhammadiyah telah berkembang dari pusatnya di Yogyakarta hingga menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Salah satu kunci sukses Muhammadiyah menjadi organisasi yang besar adalah karena sejak awal organisasi memiliki modal sosial. Penelitian ini menggunakan penelitian studi pustaka untuk mengungkap sejarah tentang perkembangan muhammadiyah. This article analyzes about Muhammadiyah as the biggest organization of modern Islam reformation in Indonesia. Muhammadiyah had grown from 1912 to 1950 that was known as the phase of organization development. In that phase, the role of leadership was very important; it could be said quite establishing especially when Muhammadiyahwas led by Kyai Haji Ahmad Dahlan and his successors. Muhammadiyah has developed from Yogyakarta to almost the entire territory of Indonesia. One of the key successes of Muhammadiyah being the biggest organization was because since the first it has the social modal. This research used library research to discuss the history of Muhammadiyah development.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/463</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 195-212</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 195-212</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/463/376</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">National</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/464</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:37:18Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">KONSEP INTEGRASI SOSIAL: KAJIAN PEMIKIRAN SAID NURSI</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Faiz, Muhammad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Integrasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Sosial</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Said Nursi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Risale-i Nur</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Integration</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Social</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini membahas tentang perpaduan masyarakat (integrasi sosial) merupakan syarat utama tercapainya ketentraman, kedamaian dan stabilitas kehidupan masyarakat yang majemuk. Namun beberapa penyakit sosial yang bersifat non-fisik menjadi kendala terwujudnya perpaduan masyarakat tersebut bahkan dapat menyebabkan perselisihan dan perpecahan. Bediuzzaman Said Nursi (1877-1960 M) merupakan tokoh bangsa dan ulama terkemuka Turki yang hidup pada masa transisi peralihan pemerintahan dari kekhalifahan Utsmaniyah kepada Republik Turki, ia menyaksikan rapuhnya rasa persaudaraan manusia dan menguatnya gerakan disintegrasi serta tercabiknya perdamaian dunia. Oleh itu kajian ini akan menganalisis gagasan Nursi dalam upaya merealisasikan integrasi sosial masyarakat dunia yang pernah ia sampaikan di Masjid Jami’ Umayyah di Suriah beberapa saat sebelum meletusnya perang dunia pertama. Dalam deklarasi kemanusiaan yang dikenal sejarah dengan Damascus Sermon (Al Khutbah Al Syamiyah) tersebut, Nursi menawarkan enam obat penawar atas enam penyakit sosial yang diderita oleh manusia modern. Kajian ini menggunakan kaidah kualitatif dalam mengkaji pemikiran Said Nursi melalui kajian kepustakaan terhadap karyanya Risale-i Nur. Hasil dari kajian ini menyatakan bahwa Nursi menggunakan pendekatan yang positif dengan mengajak masyarakat untuk bersatu padu, menguatkan tali cinta dan kasih sayang antar sesama dan menghindari rasa saling benci dan permusuhan. Konsep Integrasi sosial yang digagas Nursi ini didasarkan pada ajaran Al Qur’an dan Al Hadits dengan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan bahaya penyakit sosial yang mengancam persatuan dan menyulut perpecahan.This articlediscusses about social integration. Social integration is the main requirement to achieve peacefulness and stability of life in a pluralistic society. However, some non-physical social diseases became the constraint of the realization of social integration even more they caused conflict and division. Bediuzzaman Said Nursi (1877-1960) was a public figure and Islamic scholar of Turkish who lived in transition era between the last period of the Ottoman Caliphate and the Republic of Turkey. He witnessed the delicateness of human brotherhood and the increasing of disintegration as well as the destruction of world peace. Thus, this study would analyze the idea of Nursi in order to realize the social integration of people in the world that had ever been delivered at the Mosque of Umayyad in Syria before the outbreak of the First World War. In the humanity declaration known by history as “Damascus Sermon” (al-Khutbah al-Syamiyah), Nursi offered six medicines (solutions) on six social diseases suffered by modern people. This study uses a qualitative method in assessing Nursi’s thinking through the literature study of his work Risale-i Nur. The result of this study states that Nursi used a positive approach to urge people to unite, strengthen the strap of love and affection between people and avoid hatred and hostility. This concept of social integration initiated by Nursi based on the teachings of Koran and al-Hadith by providing awareness to the community about the dangers of social diseases that threaten the unity and cause the disintegration.
&amp;nbsp;</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/464</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 213-228</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 213-228</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/464/377</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:e-journal.metrouniv.ac.id:article/466</identifier>
				<datestamp>2024-09-13T03:37:18Z</datestamp>
				<setSpec>akademika:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en">BARGAINING KATA DI DALAM AL QUR’AN: KONTROVERSI AHLI TERHADAP BAHASA AL QUR’AN</dc:title>
	<dc:creator xml:lang="en">Ritonga, Mahyudin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en">Al Qur’an</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Bahasa Arab</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Bargaining</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Kata</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Arabic</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Word</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en">Pemikiran Islam</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en">Tulisan ini menjelaskan kosa kata yang dianggap merupakan serapan dari selain bahasa Arab, motivasi dalam melakukan analisis terhadap masalah ini tidak terlepas dari kontroversi pemahaman terhadap fenomena arabisasi beberapa kosakata yang terdapat di dalam Al Qur’an, sebahagian ahli berpendapat tidak mungkin Al Qur’an menggunakan bahasa selain bahasa Arab sementara pendapat sebahagian yang lain berpendapat bahwa banyak di antara kosakata yang ada di dalam Al Qur’an yang bukan berbahasa Arab dan hal ini merupakan bukti kelemahan Al Qur’an dan kecolongan bagi umat Islam. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam terhadap permasalahan arabisasi merupakan kajian yang penting untuk dilakukan.This article explains about the vocabulary considered as the absorption apart from Arabic. The motivation of doing analysis on this problem was the controversy of understanding the phenomena of Arabic vocabulary in Al Qur’an. Some experts believed that it is impossible for Al Quran using language beside Arabic. Whereas, the other experts believed that many of vocabularies in Al Qur’an uses language beside Arabic and it the proof of Al Qur’an weaknesses. To get the comprehensive and depth understanding about Arabic language problem is the important study to be conducted.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro</dc:publisher>
	<dc:date>2016-10-16</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en">Text</dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/466</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en">Akademika : Jurnal Pemikiran Islam; Vol. 21 No. 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 229-254</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id">AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam; Vol 21 No 2 (2016): Islam dan Integrasi Sosial; 229-254</dc:source>
	<dc:source>2356-2420</dc:source>
	<dc:source>1693-069X</dc:source>
	<dc:source>10.32332/akademika.v21i2</dc:source>
	<dc:language>en</dc:language>
	<dc:relation>https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/466/378</dc:relation>
	<dc:coverage xml:lang="en">International</dc:coverage>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<resumptionToken expirationDate="2026-04-04T21:41:35Z"
			completeListSize="291"
			cursor="0">76ddaf687e78008bf7e38ffd0b8f4a94</resumptionToken>
	</ListRecords>
</OAI-PMH>
