GERAKAN TABLIGHI DI KALIMANTAN TIMUR: DEMAZHABISASI ISLAM, EKONOMI “KETUHANAN” DAN NARASI KONFLIK

Main Article Content

Saipul Hamdi

Abstract

Abstract


Gerakan Tablighi menjadi kekuatan baru bagi gerakan neo-sufi Islam di dunia. Gerakan Tablighi mengangkat identitas baru dari Islam, yang menggabungkan paham sufi dengan pengamalan syariat yang keras. Artikel ini menelusuri cabang sufisme apa yang telah diterapkan oleh Tablighi dan bagaimana jamaah Tablighi memodifikasi pengajaran Sufi dari bentuk aslinya. Untuk melindungi Gerakan tablighi dari konflik internal maupun eksternal, Tablighi berusaha mempersilahkan jamaah baru untuk ikutserta dalam misi mereka tanpa mempermasalahkan madhab, sekte, dan latar belakang organisasi.  Dalam upayanya tersebut, Tablighi demadzahabisasi Islam, mereka mengabaikan wacana madzab dan melarang untuk membahasnya selama aktifitas berdakwah. Bagaimana Jamaah Tablighi bertahan tanpa praktik madhab tertentu dan mengakomodasi serta menegosiasi madhab-madhab yang berbeda tersebut dalam bingkai dakwah mereka. Komitmen tertinggi tentang urusan agama seringkali mempengaruhi stabilitas ekonomi di keluarga Tablighi. Kebanyakan dari mereka tidak tertarik untuk meraih hal-hal yang bersifat duniawi dan hanya fokus pada pemurnian dan pencerahan spiritual. Pada waktu bersamaan,  mereka menyerahkan kepada Allah untuk perkembangan dan takdir ekonomi mereka, yang disebut sebagai ekonomi yang bersifat Illahi. Bagaimana ekonomi Illahi bekerja di jamaah Tablighi dalam kehidupannya sehari-hari dan konflik apa saja yang muncul disebabkan oleh konsep ekonomi tersebuut.


Kata kunci:  Gerakan Tablighi, Demazhabisasi, Ekonomi Illahi, dan Narasi Konflik.


 


Abstract


Tablighi Jamaat becomes the new power of Islamic neo-Sufism movement in the world. Tablighi movement carries a new identity of Islam, which combines Sufi path with the strict syari’at practices. This article explores what branch of  Sufism that Tablighi has been practicing and how Tablighi members modify Sufi teaching from the original form. To protect Tablighi from internal and external conflict, Tablighi effort to open widely for the new member to engage in their mission without considering madhab, sect and organization background. In doing so, Tablighi de-madhabize Islam, where they ignore the madhab discourse and ban to discuss during its dawa activities. How Tablighi members survive without certain madhab practices and how they accommodate and negotiate those different madhabs in their dawa frame. The highest commitment to religious business often effect to the economic stability of Tablighi’s family. Most of them are not interested to gain worldly material stuff and only focus to spiritual purification and enlightenment. At the same time they surrender to Allah for their economic development and destiny, which well known as divine economy. How the divine economy operates in Tablighi members daily life and what conflict narration has emerged due to this economic submission of the divine.  


Key words: Tablighi Jamaat, Demazhabisation, Divine Economy, and Conflict Narration

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
HAMDI, Saipul. GERAKAN TABLIGHI DI KALIMANTAN TIMUR: DEMAZHABISASI ISLAM, EKONOMI “KETUHANAN” DAN NARASI KONFLIK. AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam, [S.l.], v. 22, n. 2, p. 267-296, dec. 2017. ISSN 2356-2420. Available at: <http://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/akademika/article/view/813>. Date accessed: 25 feb. 2018.
Section
Articles